JAKARTA - Lonjakan harga emas batangan 24 karat di awal 2026 menjadi sinyal kuat perubahan perilaku investor global.
Instrumen logam mulia kembali menegaskan posisinya sebagai aset pelindung nilai utama. Kenaikan tajam ini terjadi ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik terus membayangi pasar. Masyarakat dan pelaku investasi pun semakin intens memantau pergerakan harga harian emas.
Pada Rabu, 21 Januari 2026, harga emas 24 karat mencatat sejarah baru di pasar domestik. Emas Antam yang diperdagangkan melalui Pegadaian resmi menembus level Rp3 juta per gram. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang masa untuk emas batangan di Indonesia. Kondisi ini sekaligus memperkuat sentimen positif terhadap emas sebagai aset aman.
Kenaikan harga emas tidak terjadi secara tiba tiba tanpa dukungan faktor fundamental. Tekanan global, volatilitas nilai tukar, serta meningkatnya minat lindung nilai mendorong permintaan emas fisik. Situasi tersebut membuat harga bergerak agresif dalam waktu singkat. Investor ritel hingga institusi kini semakin aktif melakukan akumulasi emas.
Fenomena ini turut mengerek minat pembaca terhadap informasi seputar emas. Artikel terkait harga emas 24 karat menjadi salah satu konten terpopuler di kanal bisnis. Tingginya trafik pembaca mencerminkan kebutuhan informasi yang akurat dan terkini. Masyarakat ingin memastikan keputusan investasi dilakukan pada momentum yang tepat.
Pergerakan Harga Emas Fisik Di Berbagai Platform
Data harga emas pada 21 Januari 2026 menunjukkan tren kenaikan merata di sejumlah platform perdagangan. IndoGold mencatat harga emas Antam ukuran 0,5 gram sebesar Rp 1.712.500. Untuk ukuran 1 gram, emas Antam dibanderol Rp 3.260.000 pada pukul 11:40 WIB. Sementara itu, emas Antam 100 gram mencapai harga Rp 312.200.000.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan ini memperlihatkan kuatnya permintaan emas fisik di pasar domestik. Investor memanfaatkan emas sebagai sarana menjaga nilai aset. Kondisi pasar yang tidak stabil menjadi pendorong utama peningkatan minat tersebut.
Selain Antam, produk emas dari produsen lain juga mengalami penguatan harga. UBS 24 karat yang diperdagangkan di IndoGold mencatat harga Rp 1.521.500 untuk ukuran 0,5 gram. Harga emas UBS 1 gram berada di level Rp 2.911.000. Untuk ukuran besar, emas UBS 100 gram tercatat senilai Rp 277.721.000.
Kenaikan harga lintas merek ini menunjukkan tren pasar yang solid. Tidak hanya satu produsen yang mengalami lonjakan, tetapi hampir seluruh produk emas fisik. Hal ini mempertegas emas sebagai aset safe haven pilihan investor. Stabilitas jangka panjang menjadi alasan utama tingginya permintaan.
Emas Semakin Diminati Sebagai Aset Lindung Nilai
Kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian mendorong investor mencari instrumen aman. Emas menjadi pilihan utama karena nilainya cenderung stabil dalam jangka panjang. Ketika pasar keuangan bergejolak, emas justru menunjukkan performa positif. Fenomena ini kembali terlihat di awal 2026.
Permintaan emas meningkat seiring kekhawatiran terhadap inflasi dan risiko geopolitik. Investor global memilih mengalihkan sebagian portofolio ke logam mulia. Langkah ini dianggap efektif untuk menjaga daya beli aset. Di sisi lain, pasokan emas yang terbatas turut mendorong kenaikan harga.
Di pasar domestik, minat masyarakat terhadap emas fisik juga terus bertumbuh. Pegadaian, galeri emas, dan platform digital mencatat peningkatan transaksi. Emas batangan dinilai mudah diperjualbelikan dan relatif likuid. Faktor inilah yang membuat emas semakin diminati lintas segmen masyarakat.
Informasi harga emas terkini menjadi kebutuhan utama investor. Fluktuasi harga yang cepat menuntut pemantauan intensif. Kesalahan timing dapat berdampak pada hasil investasi. Oleh karena itu, transparansi data harga menjadi faktor krusial.
Rekor Harga Antam Dan Dinamika Buyback
Harga emas Antam pada 21 Januari 2026 juga mencatatkan rekor baru secara nasional. Harga emas Antam melonjak Rp 35.000 menjadi Rp 2.772.000 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, harga masih berada di level Rp 2.737.000 per gram. Kenaikan ini memperpanjang tren positif emas Antam.
Selain harga jual, nilai buyback emas Antam turut mengalami kenaikan. Harga buyback ditetapkan sebesar Rp 2.612.000 per gram atau naik Rp 34.000. Harga buyback merupakan acuan bagi pemilik emas yang ingin menjual kembali kepemilikannya. Selisih harga jual dan buyback menjadi pertimbangan penting investor.
Rekor harga emas Antam sebelumnya tercatat pada Selasa, 20 Januari 2026. Pada saat itu, harga emas berada di angka Rp 2.737.000 per gram. Kenaikan beruntun ini mencerminkan momentum bullish yang kuat. Pasar menunjukkan respons positif terhadap sentimen global.
Pergerakan agresif harga emas Antam memperlihatkan sensitivitas pasar terhadap faktor eksternal. Investor kini semakin cermat membaca arah tren. Strategi beli dan jual disesuaikan dengan perkembangan harga harian. Informasi akurat menjadi kunci pengambilan keputusan.
Harga Emas Dunia Dan Pengaruh Geopolitik
Lonjakan harga emas domestik sejalan dengan penguatan harga emas dunia. Pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, harga emas global kembali mencetak rekor tertinggi. Harga emas dunia melampaui USD 4.700 per ounce. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Mengutip CNBC, Rabu 21 Januari 2026, harga emas di pasar spot naik 2% menjadi USD 4.757,33 per ounce. Harga tersebut sempat menyentuh rekor tertinggi di USD 4.765,93 per ounce. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari naik 3,7% menjadi USD 4.765,80 per ounce. Data ini menegaskan tren penguatan emas global.
Kenaikan harga emas dunia juga diikuti oleh pergerakan harga perak. Harga perak menembus level USD 95 untuk pertama kalinya. Lonjakan ini memperlihatkan meningkatnya minat terhadap logam mulia secara keseluruhan. Investor global mencari perlindungan dari risiko politik dan ekonomi.
"Emas telah melonjak lebih dalam ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya karena investor melakukan lindung nilai terhadap meningkatnya risiko politik,” ujar Market Analyst City Index Fawad Razaqzada. Pernyataan tersebut menegaskan peran emas dalam situasi penuh ketidakpastian. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.