Tantangan Pariwisata Global Tahun 2026 Menurut UN Tourism di Tengah Pemulihan

Selasa, 27 Januari 2026 | 09:46:56 WIB
Tantangan Pariwisata Global Tahun 2026 Menurut UN Tourism di Tengah Pemulihan

JAKARTA - Sektor pariwisata global memasuki 2026 dengan optimisme sekaligus kehati-hatian.

Setelah melewati masa sulit akibat pandemi, jumlah perjalanan lintas negara kembali menunjukkan tren positif. UN Tourism mencatat bahwa geliat pariwisata internasional telah melampaui ekspektasi banyak pihak, ditandai dengan lonjakan jumlah wisatawan asing sepanjang 2025.

Dalam laporan Barometer Pariwisata Dunia, UN Tourism memperkirakan sebanyak 1,52 miliar wisatawan internasional tercatat secara global pada 2025. Angka tersebut meningkat hampir 60 juta dibandingkan tahun sebelumnya. “Tahun 2025 menandai rekor baru untuk kedatangan wisatawan asing di era pasca-pandemi,” demikian pernyataan UN Tourism yang dikutip Selasa (27/1/2026).

Meski demikian, proyeksi cerah tersebut tidak serta-merta meniadakan berbagai tantangan. Pertumbuhan pariwisata internasional pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 3–4 persen. Asumsi ini bergantung pada pemulihan kawasan Asia Pasifik, stabilitas ekonomi global, penurunan inflasi jasa pariwisata, serta meredanya konflik geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.

Proyeksi Pertumbuhan Pariwisata Internasional

UN Tourism menilai sektor pariwisata masih memiliki ruang tumbuh yang cukup besar pada 2026. Kembalinya kepercayaan wisatawan menjadi faktor kunci yang mendorong pergerakan lintas negara. Aktivitas perjalanan bisnis, wisata budaya, hingga event internasional kembali menggeliat seiring pelonggaran berbagai pembatasan.

Pemulihan Asia Pasifik menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan. Kawasan ini sempat tertinggal dibandingkan Eropa dan Amerika dalam hal pembukaan perbatasan. Namun, dengan meningkatnya konektivitas penerbangan dan promosi destinasi, Asia Pasifik diharapkan memberi kontribusi signifikan pada arus wisatawan global.

Kondisi ekonomi global yang relatif stabil juga menjadi penopang. UN Tourism berasumsi inflasi layanan pariwisata akan terus menurun meski masih berada di atas rata-rata pra-pandemi. Stabilitas ini dinilai penting untuk menjaga minat wisatawan di tengah meningkatnya biaya hidup di berbagai negara.

Risiko Geopolitik dan Ketegangan Global

Di balik optimisme tersebut, risiko geopolitik tetap menjadi tantangan utama pariwisata global pada 2026. Konflik bersenjata, ketegangan regional, hingga dinamika politik internasional berpotensi mengganggu arus perjalanan wisata. UN Tourism menilai faktor ini masih membebani kepercayaan wisatawan.

“Ketegangan geopolitik dan konflik yang sedang berlangsung terus menimbulkan risiko signifikan bagi pariwisata pada 2026,” demikian pernyataan dalam laporan tersebut. Ketidakpastian ini dapat memengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih destinasi, terutama ke wilayah yang dianggap kurang aman.

Selain konflik, ketegangan perdagangan antarnegara juga masuk dalam daftar risiko. Kebijakan proteksionisme dan hambatan perdagangan dapat berdampak pada nilai tukar, harga tiket, serta biaya akomodasi. Hal-hal tersebut pada akhirnya berpengaruh langsung terhadap minat dan kemampuan wisatawan untuk bepergian.

Ancaman Perubahan Iklim terhadap Pariwisata

Peristiwa iklim ekstrem menjadi tantangan lain yang tak kalah serius. UN Tourism menyoroti meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, badai, dan banjir, yang berpotensi mengganggu aktivitas pariwisata. Destinasi alam dan pesisir menjadi wilayah paling rentan terdampak.

Perubahan iklim juga memengaruhi pola perjalanan wisatawan. Musim liburan yang sebelumnya ramai bisa bergeser akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Selain itu, kerusakan lingkungan dapat menurunkan daya tarik destinasi dalam jangka panjang jika tidak dikelola dengan baik.

Tantangan iklim ini menuntut adaptasi dari pelaku industri pariwisata. Upaya mitigasi dan keberlanjutan menjadi semakin penting agar sektor ini tetap relevan dan mampu bertahan di tengah perubahan lingkungan global yang semakin cepat.

Biaya Perjalanan dan Faktor Ekonomi

Selain tiga tantangan utama tersebut, faktor ekonomi dan tingginya biaya perjalanan juga menjadi sorotan. Berdasarkan survei responden UN Tourism, biaya transportasi, akomodasi, dan layanan wisata masih menjadi kendala bagi wisatawan internasional pada 2026.

Inflasi layanan pariwisata dinilai masih berada di atas tingkat pra-pandemi. Kondisi ini membuat wisatawan lebih selektif dalam membelanjakan uang mereka. “Dengan latar belakang ini, wisatawan diperkirakan akan terus mencari nilai yang sepadan dengan uang mereka menurut Panel Pakar,” lanjut penjelasan UN Tourism.

Situasi tersebut mendorong perubahan perilaku wisatawan. Banyak pelancong kini lebih memilih destinasi dengan harga terjangkau, durasi perjalanan lebih singkat, atau paket wisata yang menawarkan efisiensi biaya tanpa mengorbankan pengalaman.

Negara dengan Performa Pariwisata Menonjol

Di tengah tantangan global, beberapa negara justru mencatatkan kinerja pariwisata yang impresif pada 2025. UN Tourism mencatat Islandia, Brasil, dan Mesir sebagai negara dengan pertumbuhan kedatangan wisatawan dua digit. Brasil mengalami lonjakan hingga 37 persen, disusul Mesir dengan kenaikan sekitar 20 persen.

Brasil dinilai sukses menarik wisatawan melalui kekuatan festival dan konser. Karnaval tahunan setiap Februari tetap menjadi magnet utama. Selain itu, penunjukan Rio de Janeiro sebagai Ibu Kota Buku Dunia UNESCO pada 2025 turut mendongkrak kunjungan wisatawan internasional.

Mesir juga menunjukkan performa kuat berkat daya tarik wisata budaya dan sejarah. Pembukaan penuh Museum Agung Mesir di dekat Piramida Giza menjadi salah satu faktor pendorong. Keberhasilan negara-negara ini menunjukkan bahwa dengan strategi tepat, sektor pariwisata masih memiliki peluang besar untuk tumbuh meski dihadapkan pada berbagai tantangan global.

Terkini