Danantara

Danantara Guyur Rp20 Triliun untuk Pabrik Ayam, Pengusaha Dorong Keseimbangan Pasar

Danantara Guyur Rp20 Triliun untuk Pabrik Ayam, Pengusaha Dorong Keseimbangan Pasar
Danantara Guyur Rp20 Triliun untuk Pabrik Ayam, Pengusaha Dorong Keseimbangan Pasar

JAKARTA - Pemerintah berencana membangun 12 unit pabrik peternakan ayam pedaging dan petelur senilai Rp20 triliun. 

Langkah ini dinilai dapat menggairahkan industri pembibitan unggas sepanjang dijalankan secara tepat dan terukur. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPU), Ahmad Dawami, menekankan pentingnya keseimbangan pasokan dan permintaan.

Menurut Ahmad, selama pemerintah menjaga keseimbangan supply-demand, proyek ini tidak akan mengganggu industri peternak kecil. "Kami tidak ada masalah ya. Artinya selama pemerintah itu menjaga keseimbangan antara supply dan demand, itu akan membuat semuanya bergairah dan akan jadi tumbuh," ujarnya kepada Bisnis, Senin (26/1/2026).

Pertimbangan Lokasi dan Infrastruktur Pendukung

Ahmad menyoroti pentingnya pemilihan lokasi pembangunan pabrik. Kawasan terpencil sebaiknya dilengkapi fasilitas pendukung seperti pusat distribusi dan cold storage. Hal ini untuk memastikan pelayanan ayam dan produk ternak tetap efisien dan tepat waktu.

Faktor geografis juga menjadi pertimbangan. Pasokan pakan ayam mayoritas berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kedua provinsi ini menjadi pusat produksi ayam petelur dan broiler, dengan konsentrasi rumah potong ayam di Jawa Tengah dan peternakan petelur di Jawa Timur.

Distribusi ke Daerah Terpencil

GPPU menilai distribusi menjadi kunci agar pasokan ayam merata ke seluruh Indonesia, termasuk wilayah terpencil seperti Maluku. Infrastruktur transportasi dan sarana distribusi harus diperkuat agar ayam dan produk ternak dapat menjangkau konsumen dengan baik.

Dengan jaringan distribusi yang efisien, proyek pabrik ayam tidak hanya mendukung pertumbuhan industri, tetapi juga membantu menjaga harga dan ketersediaan produk di berbagai daerah. Hal ini akan memberikan manfaat ekonomi luas bagi masyarakat lokal.

Manajemen Bahan Baku dan Produksi

Keberhasilan proyek sangat tergantung pada manajemen distribusi dan ketersediaan bahan baku. Ahmad menekankan pentingnya pengadaan pakan ternak, terutama kedelai, serta transportasi yang andal ke lokasi pabrik.

Jika manajemen bahan baku dan distribusi berjalan baik, pabrik ayam akan beroperasi optimal dan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Sebaliknya, kendala pasokan pakan dapat menghambat produksi dan menimbulkan ketidakseimbangan pasar.

Dampak terhadap Industri Pembibitan Unggas

Investasi ini diharapkan memacu gairah perusahaan pembibitan unggas. Dengan fasilitas produksi baru, perusahaan dapat meningkatkan kapasitas, kualitas bibit, dan produktivitas ayam pedaging maupun petelur.

Namun Ahmad menegaskan, proyek ini harus disinergikan dengan industri kecil dan menengah agar tidak menimbulkan tekanan kompetitif yang merugikan. Keseimbangan antara industri besar dan kecil menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan.

Peran Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Pasar

Menurut GPPU, pemerintah memiliki peran penting untuk mengontrol supply-demand agar harga ayam stabil dan tidak merugikan pelaku usaha maupun konsumen. Pengawasan terhadap distribusi, produksi, dan harga akan membantu tercapainya pasar yang sehat.

Jika langkah ini dijalankan dengan baik, pembangunan 12 pabrik ayam senilai Rp20 triliun bisa menjadi katalis pertumbuhan industri unggas nasional. Selain meningkatkan pasokan, proyek ini berpotensi memperkuat ketahanan pangan dan mendukung ekonomi lokal di seluruh Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index