Volatilitas IHSG Masih Tinggi Analis Soroti Risiko Koreksi Dan Rekomendasi Saham

Rabu, 28 Januari 2026 | 09:58:56 WIB
Volatilitas IHSG Masih Tinggi Analis Soroti Risiko Koreksi Dan Rekomendasi Saham

JAKARTA - Pergerakan pasar saham domestik masih diwarnai dinamika yang cukup tajam. 

Indeks Harga Saham Gabungan menunjukkan ketahanan, namun di saat yang sama belum sepenuhnya lepas dari tekanan. Situasi ini membuat investor perlu mencermati arah pasar secara lebih hati-hati, terutama di tengah derasnya arus jual asing dan ketidakpastian kebijakan global yang masih membayangi.

Pada perdagangan Selasa, IHSG ditutup bergerak terbatas dengan penguatan tipis 0,05% ke level 8.980,23. Sepanjang sesi, indeks cenderung berfluktuasi dalam rentang sempit, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar. Penguatan yang terjadi lebih banyak ditopang saham tertentu, sementara tekanan dari saham berkapitalisasi besar masih terasa.

Penggerak Utama Dan Penahan Laju IHSG

Kinerja IHSG pada perdagangan kemarin tidak terlepas dari peran sejumlah saham yang menjadi motor penggerak. Saham DSSA mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 4,88%. Selain itu, saham GOTO menguat tajam hingga 8,33%, memberikan dorongan berarti bagi indeks. Saham TLKM juga berkontribusi positif dengan kenaikan 2,34%.

Namun, penguatan tersebut tertahan oleh tekanan dari beberapa saham besar. Saham ASII terkoreksi cukup dalam sebesar 8,36%. Tekanan juga datang dari saham perbankan, dengan BBCA melemah 1,96% dan BMRI turun 2,04%. Kombinasi antara saham penguat dan penekan ini membuat laju IHSG relatif tertahan meski berhasil ditutup di zona hijau.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan IHSG belum didukung kekuatan yang merata. Pasar masih selektif dalam merespons sentimen, sehingga pergerakan indeks menjadi lebih volatil dan mudah berubah arah.

Aksi Jual Investor Asing Masih Dominan

Dari sisi aliran dana, aktivitas investor asing masih didominasi oleh aksi jual. Tercatat net sell asing sebesar Rp1,65 triliun di pasar reguler. Sementara itu, jika dihitung di seluruh pasar, nilai net sell mencapai Rp1,61 triliun. Angka ini mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap pasar saham domestik.

Tekanan jual asing yang berkelanjutan menjadi salah satu faktor utama yang menahan penguatan IHSG. Dalam beberapa hari terakhir, pola ini terus berulang dan menambah risiko koreksi jangka pendek. Investor domestik pun cenderung lebih berhati-hati dalam menambah posisi, menunggu sinyal yang lebih jelas dari pasar.

Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai aksi jual asing ini juga membuka peluang selektif pada saham-saham tertentu yang dinilai sudah berada di level menarik secara valuasi.

Kinerja Sektoral Tidak Merata

Jika dilihat dari kinerja sektoral, pergerakan pasar menunjukkan gambaran yang bervariasi. Dari total 11 sektor, hanya 5 sektor yang berhasil ditutup di zona hijau. Hal ini menandakan bahwa sentimen positif belum menyebar secara luas ke seluruh sektor pasar.

Sektor teknologi menjadi yang paling kuat dengan kenaikan sebesar 2,14%. Penguatan ini sejalan dengan pergerakan saham-saham teknologi tertentu yang menarik minat investor. Di sisi lain, sektor Industrial justru mencatat pelemahan terdalam, dengan penurunan mencapai 3,45%.

Perbedaan kinerja antar sektor ini mempertegas bahwa strategi investasi berbasis seleksi saham menjadi lebih relevan dibandingkan pendekatan sektoral secara umum di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

Kebijakan MSCI Dan Dampaknya Ke Pasar

Di tengah dinamika perdagangan, MSCI mengumumkan kebijakan pembekuan sementara atas sejumlah perubahan indeks terkait saham Indonesia. Kebijakan ini mencakup pembekuan perubahan yang biasanya diumumkan dalam Index Reviews, termasuk Review Februari 2026, maupun perubahan akibat aksi korporasi.

MSCI menyatakan akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, MSCI juga tidak akan menambahkan saham Indonesia baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Kenaikan klasifikasi ukuran saham antarsegmen, termasuk dari Small Cap ke Standard, juga ditahan sementara.

Langkah ini diambil untuk menekan turnover indeks dan mengurangi risiko investability. Di sisi lain, kebijakan tersebut memberikan ruang bagi otoritas pasar domestik untuk melakukan perbaikan, khususnya terkait transparansi dan aksesibilitas pasar.

Risiko Koreksi Dan Evaluasi Ke Depan

MSCI juga menegaskan akan melakukan evaluasi ulang terhadap aksesibilitas pasar Indonesia. Evaluasi tersebut akan dilakukan apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi. Jika kondisi ini tidak membaik, terdapat potensi tekanan terhadap bobot Indonesia, dari kategori Emerging Market menuju Frontier Market.

Sejalan dengan berbagai faktor tersebut, IHSG masih berpeluang mengalami koreksi lanjutan. Aksi jual asing yang terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal kewaspadaan bagi investor. Area koreksi terdekat diperkirakan berada di kisaran 8.715 hingga 8.750.

Dalam kondisi volatilitas yang tinggi, analis menekankan pentingnya manajemen risiko dan pendekatan selektif. Investor disarankan tidak terburu-buru mengambil keputusan, melainkan mencermati pergerakan pasar serta sentimen global dan domestik yang dapat memengaruhi arah IHSG ke depan.

Terkini