JAKARTA - Lonjakan harga perak ke level tertinggi kembali memicu perbincangan di pasar logam mulia global.
Pergerakan agresif ini menempatkan perak dalam sorotan utama investor, analis, hingga pelaku industri. Di tengah reli yang berlangsung cepat, muncul kekhawatiran bahwa harga perak saat ini sudah berada di zona ekstrem jika dibandingkan dengan emas.
Sejarah pergerakan logam mulia menunjukkan bahwa kondisi harga perak yang terlalu tinggi kerap memunculkan fase penyesuaian. Ketika harga melonjak tajam, sektor industri yang selama ini menjadi penopang permintaan perak justru terdorong untuk berinovasi dan mencari alternatif bahan baku. Dinamika inilah yang kini kembali menjadi perhatian pasar.
Perbandingan Perak dan Emas Jadi Sorotan
Analis Heraeus menilai harga perak saat ini terlihat terlalu mahal bila disejajarkan dengan emas. Di sisi lain, harga emas sendiri masih menunjukkan penguatan signifikan, meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland mulai mereda. Kondisi ini menciptakan kontras menarik antara dua logam mulia utama tersebut.
Dalam pembaruan terbarunya, analis mencatat bahwa selama sembilan bulan terakhir kinerja perak jauh mengungguli emas. Pola historis menunjukkan situasi seperti ini sering kali terjadi menjelang fase puncak reli. Oleh karena itu, pasar mulai bersikap lebih berhati-hati terhadap potensi pembalikan arah harga.
“Secara historis, perak telah mengungguli emas pada tahap akhir reli harga,” kata analis, dikutip dari Kitco, Selasa (27/1/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa performa impresif perak justru bisa menjadi sinyal mendekati akhir siklus kenaikan.
Lonjakan Ekstrem Mengingatkan Krisis 1980
Analis juga menekankan bahwa kenaikan harga perak kali ini termasuk yang paling ekstrem sejak 1980, saat Hunt bersaudara mencoba memonopoli pasar perak dunia. Pada periode tersebut, harga perak melonjak tajam sebelum akhirnya mengalami koreksi besar yang membekas dalam sejarah pasar komoditas.
Pada 23 Januari lalu, ketika harga perak menembus USD 100 per ons, level tersebut tercatat 54% di atas rata-rata pergerakan 200 hari. Sebagai perbandingan, pada 1980 harga perak pernah mencapai lebih dari 70% di atas rata-rata pergerakan 200 hari sebelum akhirnya berbalik arah.
Sejarah lain juga menunjukkan pola serupa. Pada 1974, harga perak sempat berada 54% di atas rata-rata pergerakan 200 hari, terkoreksi, lalu melanjutkan reli hingga mencapai puncaknya pada 1980. Pola berulang ini menjadi bahan pertimbangan penting bagi pelaku pasar saat ini.
Reli Masih Bisa Berlanjut Meski Terlihat Ekstrem
Meski berbagai indikator menunjukkan harga sudah sangat tinggi, analis mengingatkan reli belum tentu berhenti dalam waktu dekat. “Seperti yang telah terbukti secara gamblang dalam beberapa minggu terakhir, meski harga tampak ekstrem, harga itu dapat terus naik,” tulis analis tersebut.
Namun, mereka juga menekankan bahwa secara historis reli perak saat ini lebih dekat ke akhir dibandingkan ke awal. Kekhawatiran investor terkait risiko geopolitik, kebijakan moneter dan fiskal Amerika Serikat, serta masa depan dolar AS memang masih menjadi faktor pendukung harga.
“Apakah pasar bullish saat ini akan terbukti mirip dengan 1970-an, dengan koreksi di tengah jalan atau pasar bullish akan berakhir setelah harga mencapai puncaknya masih harus dilihat,” tulis analis. Apapun skenarionya, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Sentimen Geopolitik Dorong Safe Haven
Heraeus mencatat bahwa pergerakan perak di atas USD 100 per ons pekan lalu sebagian besar dipicu oleh penguatan pasar emas. Ketegangan geopolitik di sekitar Greenland mendorong aliran dana masuk ke aset safe haven, yang secara otomatis turut mengangkat harga perak.
Namun, harga tinggi ini mulai memberikan dampak lain. Menurut analis, level harga saat ini perlahan menggerus permintaan industri, terutama di sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya bahan baku. Kondisi ini berpotensi menahan laju kenaikan harga ke depan.
“Di bidang fotovoltaik, produsen mengurangi intensitas perak dan beralih ke metalisasi berbasis tembaga, dengan solusi hibrida perak-tembaga yang sudah memasuki produksi komersial,” kata analis Heraeus. Pernyataan ini menunjukkan respons nyata industri terhadap harga perak yang melonjak.
Inovasi Industri Jadi Penyeimbang Harga
Analis juga menyoroti langkah pemasok pasta metalisasi berbasis China, DK Electronic Materials, yang mengumumkan pengembangan komersial sistem pasta tembaga tinggi untuk produksi panel surya skala gigawatt. Inovasi ini menjadi contoh bagaimana industri beradaptasi di tengah harga perak yang mahal.
“Jika permintaan industri terus beradaptasi dengan lingkungan harga tinggi, ini dapat bertindak sebagai kekuatan penyeimbang pada komponen harga perak yang didorong secara fundamental,” tulis analis. Dengan kata lain, inovasi berpotensi menahan reli agar tidak berlebihan.
Di tengah dinamika tersebut, harga perak spot kembali mencetak rekor tertinggi baru. Pada Senin, harga mencapai USD 110,899 per ons tepat sebelum pukul 7.30 pagi waktu setempat. Level ini menegaskan betapa kuatnya minat pasar terhadap logam abu-abu tersebut.
Pergerakan Perak Antam di Dalam Negeri
Di pasar domestik, harga perak Antam juga menunjukkan tren positif. Pada Selasa, 27 Januari 2026, harga perak Antam tercatat naik signifikan dan kembali menarik perhatian investor yang mencari diversifikasi portofolio di awal tahun.
Harga perak Antam hari itu berada di level Rp 66.750 per gram, naik Rp 1.150 dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di Rp 65.600 per gram. Kenaikan ini mencerminkan sentimen positif terhadap perak, meski pasar global dibayangi volatilitas tinggi.
Sebagai perbandingan, harga emas Antam justru bergerak turun. Pada tanggal yang sama, harga emas Antam tercatat Rp 2.916.000 per gram, turun Rp 1.000 dari hari sebelumnya. Perbedaan arah ini menunjukkan adanya pergeseran minat pasar antara emas dan perak.
Dengan kondisi tersebut, investor dihadapkan pada dilema antara memanfaatkan momentum reli perak atau bersiap menghadapi potensi koreksi. Sejarah dan analisis menunjukkan peluang masih terbuka, namun risiko juga semakin nyata seiring harga yang berada di level tertinggi.