JAKARTA - Akses yang terputus akibat bencana banjir kerap menjadi persoalan serius bagi masyarakat di wilayah pedesaan.
Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas harian warga, tetapi juga berdampak langsung pada distribusi logistik, aktivitas ekonomi, hingga layanan pendidikan. Situasi inilah yang dialami sejumlah kecamatan di Aceh Utara pascabanjir besar yang merusak jembatan penghubung antardaerah.
Sebagai langkah cepat pemulihan, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat mengambil peran aktif dengan membangun jembatan modular di wilayah terdampak. Pembangunan ini dilakukan untuk memastikan akses warga kembali terbuka dan roda kehidupan masyarakat dapat segera bergerak normal. Jembatan tersebut kini menjadi penghubung vital bagi tiga kecamatan di Aceh Utara yang sebelumnya terisolasi.
Upaya ini dilaksanakan oleh prajurit TNI AD dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina. Mereka diterjunkan langsung ke lokasi untuk membangun jembatan modular di Desa Matang Serdang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Langkah ini menjadi solusi sementara yang efektif sambil menunggu pembangunan infrastruktur permanen oleh pemerintah daerah.
Peran TNI AD Memulihkan Akses Pascabanjir
Komandan Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina Kodam V/Brawijaya, Letkol Czi Wahyu Wuhono, menjelaskan bahwa jembatan modular yang dibangun merupakan jembatan garuda buatan dalam negeri. Pemilihan jenis jembatan ini didasarkan pada kemampuannya yang fleksibel dan cepat dipasang di medan terdampak bencana.
“Kalau ini jembatan garuda yang akan kita pasang ini bentangannya sekitar 30 sampai dengan 32 meter,” kata Letkol Wahyu kepada ANTARA saat ditemui di sela-sela pembangunan jembatan tersebut di Desa Matang Serdang, Selasa (27/1/2026). Jembatan ini dirancang untuk menggantikan akses yang terputus akibat terjangan banjir.
Di kawasan Jambo Aye, pemasangan jembatan garuda dengan bentangan puluhan meter ini menjadi urat nadi baru bagi mobilitas warga. Sebelumnya, aktivitas masyarakat lumpuh karena jembatan lama rusak parah dan tidak dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.
Target Pembangunan Ratusan Jembatan di Aceh
Letkol Wahyu menyampaikan bahwa pembangunan jembatan modular di Aceh tidak berhenti di satu lokasi saja. Secara keseluruhan, pihaknya menargetkan pembangunan sekitar 300 jembatan yang tersebar di berbagai wilayah terdampak bencana di Aceh. Jenis jembatan yang dibangun meliputi jembatan Bailey, Aramco, dan jembatan gantung.
Komposisi dan penempatan jembatan bersifat dinamis, disesuaikan dengan kebutuhan lapangan serta tingkat kedaruratan di masing-masing wilayah. Hingga saat ini, sebanyak 24 jembatan telah berhasil dipasang, termasuk di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara, sementara pembangunan lanjutan terus dilakukan secara bertahap.
Pemasangan jembatan-jembatan ini bertujuan mempercepat pemulihan konektivitas desa, kebun, dan pusat-pusat ekonomi masyarakat. Dengan terbukanya akses, distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok diharapkan kembali lancar dalam waktu singkat.
Kerja Cepat dan Intensif di Lapangan
Setiap proyek pembangunan jembatan modular melibatkan puluhan personel TNI yang telah terlatih di bidang zeni tempur. Mereka didukung peralatan berat dan bekerja tanpa mengenal waktu, bahkan hingga malam hari. Langkah ini dilakukan untuk mengejar target penyelesaian yang lebih cepat dibandingkan standar pengerjaan normal.
Meski bersifat sementara, jembatan modular dinilai memiliki ketahanan yang cukup baik jika dirawat dengan benar. Menurut Letkol Wahyu, jembatan ini dapat digunakan dalam jangka waktu lama sambil menunggu pembangunan jembatan permanen oleh pemerintah daerah dan instansi teknis terkait.
Keberadaan jembatan modular juga menjadi bukti bahwa solusi darurat dapat memberikan dampak besar bagi masyarakat, terutama di daerah terpencil yang aksesnya sangat bergantung pada infrastruktur penghubung.
Dampak Langsung bagi Kehidupan Warga
Keuchik Desa Matang Serdang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Abdul Mutaleb, mengungkapkan rasa syukurnya atas pembangunan jembatan modular di wilayahnya. Menurutnya, jembatan tersebut menghubungkan tiga kecamatan sekaligus, yakni Langkahan, Baktiya, dan Cot Girek, yang sebelumnya terisolasi akibat banjir.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar warga Desa Matang Serdang menggantungkan hidup pada sektor perkebunan sawit dan pertanian. Terputusnya jembatan memaksa warga memutar hingga 30 kilometer untuk mengangkut hasil kebun, sehingga biaya dan waktu tempuh meningkat drastis.
Selain ekonomi, dampak banjir juga dirasakan di sektor pendidikan. Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 19 sempat terhenti demi keselamatan siswa, karena jalur darurat yang tersedia belum memadai untuk dilalui anak-anak sekolah.
Kondisi Warga dan Harapan Pemulihan
Abdul Mutaleb menyebutkan sebanyak 679 kepala keluarga dengan total 3.750 jiwa terdampak banjir di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, 144 rumah dilaporkan hilang total, sementara 339 rumah lainnya mengalami kerusakan berat. Kondisi ini menambah beban masyarakat yang masih berupaya bangkit dari bencana.
Ia juga mengungkapkan bahwa rumah pribadinya mengalami kerusakan hampir 90 persen akibat banjir. Meski demikian, Abdul tetap berusaha menguatkan warganya dan aktif mencari dukungan agar desanya yang tergolong terpencil mendapat perhatian lebih dalam proses pemulihan.
Dengan mendekati bulan suci Ramadhan 2026, warga berharap pemulihan infrastruktur dapat berjalan cepat agar aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan dapat kembali normal. Kehadiran jembatan modular dari TNI AD menjadi harapan awal bagi masyarakat untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan mereka.