Harga Minyak Naik Sinyal Kebijakan Venezuela Ubah Arah Pasokan Global Energi Dunia

Kamis, 29 Januari 2026 | 09:39:56 WIB
Harga Minyak Naik Sinyal Kebijakan Venezuela Ubah Arah Pasokan Global Energi Dunia

JAKARTA - Penguatan harga minyak mentah pada perdagangan Rabu 28 Januari 2026 mencerminkan perubahan cara pasar membaca risiko pasokan global. 

Kenaikan tidak dipicu gangguan fisik produksi, melainkan sinyal geopolitik yang memengaruhi ekspektasi. Amerika Serikat dan Venezuela menjadi pusat perhatian investor energi. Arah kebijakan kedua negara dinilai berpotensi mengubah keseimbangan pasokan.

Berdasarkan data Refinitiv, minyak Brent tercatat berada di level US$67,91 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate menguat ke posisi US$62,78 per barel pada pukul 10.20 WIB. Pergerakan ini memperpanjang tren penguatan sejak awal pekan. Pasar terlihat mulai menyesuaikan posisi terhadap perubahan kebijakan.

Secara mingguan, reli harga minyak terbilang signifikan. Brent telah naik hampir US$4 per barel dari posisi pertengahan Januari. WTI juga mencatat kenaikan lebih dari US$3 per barel dalam periode yang sama. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya optimisme sekaligus kehati-hatian pasar.

Kebijakan AS Menggeser Ekspektasi Pasokan

Perubahan arah harga terjadi ketika pelaku pasar menghitung ulang risiko pasokan global. Faktor utamanya bukan gangguan distribusi, melainkan potensi pelonggaran sanksi. Washington dikabarkan tengah menyiapkan penerbitan general license untuk sektor energi Venezuela. Langkah ini dinilai sebagai pergeseran kebijakan signifikan.

Reuters mengungkapkan, rencana tersebut akan menggantikan pendekatan lama berbasis izin individual. Skema sebelumnya dinilai memperlambat investasi karena menumpuknya permohonan lisensi. Akibatnya, arus ekspor minyak Venezuela tidak berjalan optimal. Perubahan kebijakan ini memberi sinyal fleksibilitas baru.

Bagi pasar minyak, Venezuela selalu menjadi isu sensitif. Negara ini memiliki cadangan besar yang selama ini terkunci oleh sanksi. Setiap perubahan kebijakan berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan global. Karena itu, respons pasar cenderung cepat dan reaktif.

Dinamika Ekspor Venezuela Dalam Tekanan Sanksi

Di bawah sanksi ketat Amerika Serikat, ekspor minyak Venezuela sempat turun tajam. Pada Desember, ekspor tercatat sekitar 500 ribu barel per hari. Angka tersebut jauh di bawah posisi November yang mencapai 952 ribu barel per hari. Penurunan terjadi setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memperketat blokade kapal.

Kebijakan tersebut membatasi ruang gerak PDVSA dalam menyalurkan minyak ke pasar internasional. Banyak kapal terkena sanksi sehingga distribusi terhambat. Kondisi ini membuat stok minyak menumpuk di tangki darat dan kapal. Tekanan inventori pun meningkat.

Namun arah mulai berubah seiring pemberian lisensi terbatas. Rumah dagang seperti Vitol dan Trafigura mendapat izin untuk menyalurkan minyak Venezuela. Sekitar 11,3 juta barel berhasil dialirkan ke pasar Amerika Serikat dan negara lain. Langkah ini membantu mengurangi tekanan stok.

General License Dan Potensi Pemulihan Produksi

Pasar menilai rencana penerbitan general license memiliki dampak lebih luas. Kebijakan ini berpotensi mempercepat pemulihan ekspor, bukan sekadar membersihkan stok lama. Dengan kerangka izin yang lebih longgar, perusahaan migas dapat kembali beroperasi. Lapangan dengan infrastruktur siap pakai bisa dioptimalkan.

Selain produksi, perbaikan kilang domestik juga menjadi fokus. Masalah pasokan listrik yang selama ini menekan output berpeluang diatasi. Investasi baru dinilai lebih mungkin masuk jika kepastian regulasi meningkat. Faktor-faktor ini menjadi pertimbangan penting pasar.

Meski demikian, jutaan barel minyak masih tertahan di fasilitas penyimpanan. Proses pemulihan penuh membutuhkan waktu dan modal besar. Pasar memahami bahwa dampak kebijakan tidak bersifat instan. Karena itu, respons harga cenderung bertahap.

Dampak Berlapis Terhadap Harga Minyak

Efek kebijakan Venezuela terhadap harga minyak bersifat dua lapis. Dalam jangka pendek, kabar pelonggaran sanksi justru mendorong harga. Penurunan ketidakpastian kebijakan memberi rasa stabilitas bagi pasar. Selain itu, muncul potensi kesepakatan pasokan antara AS dan Venezuela.

Reuters menyebut rencana pasokan minyak senilai US$2 miliar sebagai salah satu sinyal. Pasar membaca hal ini sebagai peluang stabilisasi hubungan energi. Ekspektasi tersebut memberi bantalan bagi harga minyak. Kenaikan pun terjadi meski pasokan tambahan belum terealisasi.

Untuk jangka menengah, dampak pasokan baru akan terasa lebih lambat. Produksi hanya meningkat jika reformasi hukum migas benar-benar berjalan. Tanpa kepastian hukum, investasi cenderung tertahan. Faktor ini membuat pasar tetap berhati-hati.

Reformasi Migas Dan Arah Pasar Global

Reuters melaporkan revisi undang-undang migas Venezuela telah lolos pembahasan awal. Rancangan tersebut diperkirakan segera mendapat persetujuan final parlemen. Reformasi ini menjadi prasyarat penting masuknya investasi asing. Namun proses implementasi tetap membutuhkan waktu.

Dengan kondisi tersebut, pasar berada dalam fase penyeimbangan narasi. Di satu sisi ada potensi tambahan pasokan Venezuela. Di sisi lain, realisasi produksi memerlukan kepastian politik dan modal. Kenaikan Brent ke area US$67–68 per barel mencerminkan dinamika tersebut.

Selama jeda realisasi, sentimen pasar tetap menjadi penopang harga. Investor menunggu bukti konkret peningkatan produksi. Hingga saat itu, harga minyak diperkirakan bergerak dengan dukungan sentimen geopolitik. Pasar global pun terus memantau arah kebijakan berikutnya.

Terkini