JAKARTA - Meningkatnya volume sampah di kawasan perkotaan mendorong kebutuhan akan solusi pengelolaan yang lebih cepat dan terukur.
Guru Besar IPB University Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono menilai persoalan sampah di Indonesia telah memasuki tahap darurat. Kondisi ini menuntut penerapan teknologi yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman bagi lingkungan. Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy.
Menurut Arief, pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi perkotaan membuat timbulan sampah terus meningkat dari tahun ke tahun. Ketergantungan pada metode lama dinilai tidak lagi sejalan dengan tantangan saat ini. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mempertimbangkan terobosan berbasis teknologi. Waste-to-energy dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut dalam jangka pendek.
Ia menyebut pendekatan konvensional sudah sulit mengejar laju produksi sampah. Tanpa perubahan strategi, dampak lingkungan dan sosial akan semakin meluas. Karena itu, teknologi dinilai dapat menjadi instrumen penting dalam situasi darurat sampah. Namun, penerapannya harus dilakukan secara terukur dan hati-hati.
Keterbatasan TPA Dan Dampak Lingkungan
Ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir dengan sistem open dumping dinilai tidak lagi memadai. Metode tersebut memicu pencemaran tanah, air, dan udara di sekitar lokasi TPA. Dampaknya tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat sekitar. Kondisi ini menjadi salah satu alasan perlunya pendekatan baru.
“Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat,” kata Arief dalam pernyataannya, Selasa (28/1/2026). Ia menegaskan bahwa teknologi bukan solusi instan tanpa syarat. Standar lingkungan tetap harus menjadi prioritas utama.
Pengelolaan sampah yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan konflik sosial dan masalah kesehatan. Open dumping juga menghasilkan emisi gas berbahaya dan bau tidak sedap. Oleh karena itu, transformasi sistem pengelolaan sampah menjadi semakin mendesak. Waste-to-energy dinilai dapat menjadi bagian dari transformasi tersebut.
Manfaat Lingkungan Dari Waste To Energy
Dari sisi lingkungan, Arief menjelaskan bahwa waste-to-energy berpotensi mempercepat proses pengolahan sampah. Volume sampah dapat ditekan secara signifikan melalui proses pembakaran terkendali. Teknologi ini juga mampu mengurangi emisi bau yang sering menjadi keluhan masyarakat. Selain itu, sanitasi lingkungan di sekitar fasilitas pengolahan dapat ditingkatkan.
Penggunaan teknologi ini juga dinilai dapat menekan produksi air lindi. Air lindi kerap menjadi sumber pencemaran air tanah jika tidak dikelola dengan baik. Waste-to-energy juga dapat mengurangi populasi lalat yang berperan sebagai vektor penyakit. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya teknis, tetapi juga kesehatan masyarakat.
“Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional,” ujarnya. Konversi ini dinilai mampu memberikan nilai tambah dari sampah. Energi yang dihasilkan dapat mendukung kebutuhan listrik lokal. Hal ini sekaligus memperkuat upaya pengurangan emisi karbon.
Kesesuaian Teknologi Dengan Karakter Sampah
Meski memiliki potensi besar, Arief menekankan keberhasilan waste-to-energy sangat bergantung pada kesesuaian teknologi. Karakteristik sampah domestik Indonesia berbeda dengan negara lain. Sampah perkotaan masih didominasi oleh fraksi organik dengan kadar air yang tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembakaran.
Sampah dengan kadar air tinggi membutuhkan perlakuan awal sebelum masuk tahap insinerasi. Tanpa pengolahan awal, efisiensi pembakaran akan menurun. Hal ini juga berpotensi meningkatkan emisi dan risiko lingkungan. Oleh karena itu, tahapan pemilahan menjadi aspek penting.
“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya. Sampah perkotaan kita cenderung basah, sehingga perlu pengolahan awal agar proses pembakaran efisien dan aman bagi lingkungan,” kata Arief. Ia menegaskan pendekatan berbasis data menjadi kunci keberhasilan. Tanpa itu, teknologi justru bisa menimbulkan masalah baru.
Keselamatan Lingkungan Dan Edukasi Publik
Arief juga menyoroti aspek keselamatan lingkungan sebagai prasyarat utama penerapan waste-to-energy. Sistem pengendalian emisi gas buang harus memenuhi standar ketat. Pengelolaan abu sisa pembakaran juga perlu diperhatikan secara serius. Abu tersebut dapat diklasifikasikan sebagai limbah B3 maupun non-B3.
Tanpa pengelolaan yang tepat, residu pembakaran berpotensi mencemari lingkungan. Karena itu, pengawasan berkelanjutan menjadi keharusan. Transparansi dalam operasional fasilitas juga penting untuk menjaga kepercayaan publik. Pemerintah dan operator harus terbuka terhadap pengawasan.
Edukasi publik dinilai tidak kalah penting dalam penerapan teknologi ini. Masyarakat perlu memahami manfaat dan risiko waste-to-energy secara proporsional. Informasi yang jelas dapat mengurangi resistensi sosial. Dengan pemahaman yang baik, penerapan teknologi akan lebih mudah diterima.
Pembelajaran Dari Praktik Internasional
Arief mencontohkan sejumlah negara yang telah menerapkan waste-to-energy dengan standar lingkungan ketat. Jepang menjadi salah satu contoh melalui fasilitas di Osaka dan Yokohama. Kota Zurich di Swiss juga dikenal memiliki sistem pengelolaan sampah berbasis insinerator modern. Dubai turut menerapkan teknologi serupa dalam skala besar.
Praktik waste-to-energy juga dijalankan di Cina, Singapura, Jerman, dan Belgia. Negara-negara tersebut menerapkan pengawasan lingkungan yang ketat dan transparan. Teknologi insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen. Hal ini menunjukkan efektivitas teknologi jika diterapkan dengan benar.
“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat.
Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah nasional, serta pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan untuk melindungi kesehatan masyarakat,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya tata kelola yang baik.
WtE Sebagai Solusi Cepat Dengan Kehati Hatian
Arief menilai rencana pemerintah mengembangkan proyek waste-to-energy melalui Danantara Investment Management berada pada arah yang relevan. Namun, ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam implementasi. Teknologi ini dinilai cocok sebagai solusi cepat dalam situasi darurat sampah. Meski demikian, penerapannya tidak boleh mengabaikan aspek tata kelola.
“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan waste-to-energy tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Komitmen pengawasan dan standar lingkungan menjadi faktor penentu utama.