Industri Otomotif Hadapi IIMAS 2026 Tanpa Insentif Kendaraan Listrik Pemerintah

Kamis, 29 Januari 2026 | 14:06:14 WIB
Industri Otomotif Hadapi IIMAS 2026 Tanpa Insentif Kendaraan Listrik Pemerintah

JAKARTA - Menjelang penyelenggaraan Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026, pelaku industri otomotif nasional memasuki babak baru yang menuntut adaptasi strategi. 

Berakhirnya insentif kendaraan listrik pada awal 2026 menjadi titik balik yang menguji ketahanan pasar tanpa sokongan fiskal langsung. Kondisi ini mendorong produsen, distributor, hingga promotor pameran untuk menata ulang pendekatan bisnis agar tetap relevan dan kompetitif di tengah dinamika permintaan konsumen.

Industri otomotif memasuki fase penyesuaian kebijakan

Penghentian insentif kendaraan listrik oleh pemerintah dilakukan setelah evaluasi menunjukkan pasar dinilai semakin matang. Kebijakan ini membuat industri tidak lagi dapat mengandalkan stimulus harga sebagai penggerak utama penjualan. Pelaku usaha pun dihadapkan pada tantangan baru untuk menjaga minat beli konsumen melalui strategi yang lebih berkelanjutan.

Dalam konteks ini, industri dituntut untuk lebih kreatif dalam merancang produk, promosi, serta layanan purna jual. Penyesuaian harga menjadi salah satu langkah yang tak terhindarkan, namun bukan satu-satunya solusi. Fokus pada nilai produk dan kebutuhan konsumen menjadi semakin penting agar pasar tetap bergerak.

Pandangan promotor IIMS terhadap berakhirnya insentif

Presiden Direktur Dyandra Promosindo sekaligus promotor IIMS, Daswar Marpaung, mengakui bahwa industri pada dasarnya masih berharap adanya kelanjutan dukungan pemerintah. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberlangsungan bisnis tidak bisa sepenuhnya bergantung pada kebijakan fiskal semata.

“Walaupun tidak ada insentif, bisnis tetap harus jalan. Itu cuma penyesuaian saja dari semua harga. Karena secara affordability masih masuk, jadi kita masih optimis,” kata Daswar di Jakarta, Selasa. Pernyataan ini menegaskan keyakinan bahwa pasar otomotif nasional masih memiliki daya tahan meski tanpa insentif.

Dominasi kendaraan roda empat di IIMS 2026

Menurut Daswar, pasar kendaraan roda empat masih menjadi tulang punggung industri otomotif nasional. Hal ini juga tercermin dalam penyelenggaraan IIMS 2026, di mana segmen roda empat diperkirakan tetap mendominasi sekitar 80 persen dari keseluruhan pasar yang ditampilkan dalam pameran.

Dominasi ini menunjukkan bahwa minat konsumen terhadap mobil masih kuat, baik untuk kebutuhan pribadi maupun keluarga. Di sisi lain, kendaraan roda dua dan segmen lainnya tetap mendapatkan ruang, namun kontribusinya belum mampu melampaui peran kendaraan roda empat dalam menopang industri secara keseluruhan.

Posisi kendaraan listrik dan konvensional tetap berdampingan

Meski kendaraan listrik terus menunjukkan tren peningkatan, Daswar menilai bahwa kendaraan berbahan bakar bensin masih memegang peran utama di pasar. Karena itu, penyelenggara pameran tidak secara kaku memisahkan antara kendaraan listrik dan konvensional dalam konsep IIMS 2026.

“Main listrik memang naik, tapi bensin tetap ada. Kita enggak membagi secara kaku mana listrik mana bensin, karena tujuannya kan menumbuhkan SPK,” ujarnya. Pendekatan ini mencerminkan strategi inklusif yang bertujuan mendorong transaksi penjualan tanpa membatasi preferensi konsumen.

Dalam praktiknya, pengunjung pameran tetap diberikan keleluasaan untuk membandingkan berbagai pilihan teknologi kendaraan. Dengan demikian, IIMS menjadi ajang edukasi sekaligus transaksi yang mencerminkan kondisi pasar secara nyata.

Aktivitas industri tetap tinggi meski tanpa stimulus

Dominasi kendaraan roda empat di IIMS 2026 juga tercermin dari luas area pameran serta banyaknya merek yang berpartisipasi di berbagai hall. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas industri otomotif tetap tinggi, meskipun insentif kendaraan listrik telah dihentikan.

Partisipasi merek-merek besar menandakan kepercayaan industri terhadap potensi pasar domestik. Bagi produsen, pameran seperti IIMS menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk baru, memperkuat citra merek, serta menjaring konsumen di tengah perubahan kebijakan.

Insentif sebagai stimulus awal, bukan fondasi industri

Lebih lanjut, Daswar menegaskan bahwa insentif seharusnya dipahami sebagai stimulus awal, bukan fondasi utama industri otomotif. Menurutnya, berakhirnya insentif justru menjadi penanda bahwa pasar otomotif Indonesia mulai memasuki fase yang lebih mandiri.

Pada fase ini, daya beli masyarakat dan kesiapan pasar menjadi penentu utama keberlanjutan bisnis. Industri dituntut untuk mengandalkan kekuatan produk, inovasi, dan strategi pemasaran yang tepat guna mempertahankan pertumbuhan. 

Dengan demikian, IIMS 2026 tidak hanya menjadi pameran otomotif, tetapi juga cerminan kesiapan industri menghadapi era baru tanpa ketergantungan pada insentif pemerintah.

Terkini