Industri Otomotif China Catat Pendapatan Rp26,8 Kuadriliun Sepanjang Tahun 2025

Kamis, 29 Januari 2026 | 14:06:17 WIB
Industri Otomotif China Catat Pendapatan Rp26,8 Kuadriliun Sepanjang Tahun 2025

JAKARTA - Perkembangan industri otomotif China sepanjang 2025 menunjukkan kinerja yang tetap solid di tengah tekanan biaya dan persaingan global yang semakin ketat. 

Capaian produksi dan pendapatan yang dirilis asosiasi industri memberikan gambaran bagaimana sektor ini masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian manufaktur China. Meski margin laba belum sepenuhnya pulih ke level ideal, skala produksi, ekspansi ekspor, serta kontribusi produsen besar dan pemain baru tetap menegaskan kekuatan industri otomotif Tiongkok di pasar domestik maupun internasional.

Produksi kendaraan meningkat signifikan sepanjang 2025

Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association Cui Dongshu menyampaikan bahwa total produksi industri otomotif China sepanjang 2025 mencapai 34,78 juta unit. Angka tersebut tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan capaian tahun 2024, mencerminkan pemulihan permintaan dan kapasitas produksi yang terus diperluas.

Kenaikan produksi ini tidak hanya didorong oleh pasar domestik, tetapi juga oleh peningkatan pengiriman ke luar negeri. Skala produksi yang besar menjadi faktor utama yang menopang pendapatan industri secara keseluruhan, meskipun tekanan harga dan biaya produksi masih terasa di banyak segmen kendaraan.

Pertumbuhan volume tersebut menempatkan China tetap sebagai salah satu pusat produksi otomotif terbesar dunia. Dengan dukungan rantai pasok yang matang dan inovasi teknologi yang agresif, industri ini mampu mempertahankan laju produksi di tengah dinamika ekonomi global.

Pendapatan dan laba industri otomotif China

Berdasarkan laporan yang dikutip dari Carnewschina, total pendapatan industri otomotif China sepanjang 2025 mencapai 11.179,6 miliar yuan atau setara sekitar Rp26,8 kuadriliun. Nilai ini meningkat 7,1 persen secara tahunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, total biaya produksi tercatat sebesar 9.849,8 miliar yuan atau sekitar Rp23,6 kuadriliun. Dengan struktur biaya tersebut, laba gabungan industri otomotif China mencapai 461 miliar yuan atau sekitar Rp1,1 kuadriliun, naik tipis 0,6 persen dibandingkan 2024.

Meski pendapatan dan laba tumbuh, margin laba industri berada di level 4,1 persen. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan rata-rata margin laba perusahaan industri hilir di China yang mencapai 5,9 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa skala besar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan profitabilitas.

Kontribusi produsen besar dan pemain baru

Sejumlah produsen otomotif besar China memberikan kontribusi signifikan terhadap total produksi tahunan. BYD mencatat penjualan 4.602.436 kendaraan sepanjang 2025, disusul Geely Automobile dengan 3.024.567 unit dan Chery yang menjual 2.631.381 unit.

Great Wall Motor juga menyumbang produksi sebesar 1.323.672 unit. Selain pemain mapan, produsen yang lebih baru turut memperkuat kinerja industri. Leapmotor mencatat 596.555 unit, XPeng Motors 429.445 unit, Li Auto 406.343 unit, dan Nio 326.028 unit.

Xiaomi Auto bahkan berhasil melampaui angka produksi 400.000 unit pada 2025. Seluruh capaian produsen besar dan baru tersebut telah terakumulasi dalam total produksi dan pendapatan industri otomotif China sepanjang tahun.

Ekspansi ekspor dorong skala industri global

Selain pasar domestik, ekspor menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri otomotif China pada 2025. China Association of Automobile Manufacturers memproyeksikan ekspor kendaraan buatan China dapat melampaui 6,8 juta unit sepanjang tahun tersebut, meningkat dari 5,86 juta unit pada 2024.

Data lain dari China Passenger Car Association bahkan mencatat total ekspor kendaraan mencapai 8,32 juta unit sepanjang 2025. Tiga pasar tujuan terbesar adalah Meksiko dengan sekitar 625.187 unit, Rusia sekitar 582.738 unit, dan Uni Emirat Arab sekitar 571.937 unit.

Peningkatan ekspor ini memperluas kontribusi industri otomotif terhadap pendapatan nasional. Di sisi lain, ekspansi global juga meningkatkan tekanan persaingan dan menuntut efisiensi biaya agar produsen tetap kompetitif di pasar internasional.

Kinerja keuangan Desember 2025 melemah

Jika dilihat secara bulanan, kinerja industri otomotif China pada Desember 2025 menunjukkan tren berbeda dibandingkan capaian tahunan. Pada bulan tersebut, total pendapatan industri tercatat sebesar 1.157,3 miliar yuan atau sekitar Rp2,8 kuadriliun, turun 0,8 persen dibandingkan Desember 2024.

Di saat yang sama, biaya produksi justru naik 0,8 persen menjadi 1.009,3 miliar yuan atau sekitar Rp2,4 kuadriliun. Kondisi ini berdampak pada penurunan laba bulanan yang tercatat hanya 20,7 miliar yuan atau sekitar Rp50,2 triliun.

Laba Desember tersebut turun drastis hingga 57,4 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Margin laba bulanan pun menyusut menjadi 1,8 persen, jauh di bawah margin 4,1 persen yang tercatat pada Desember 2024.

Indikator keuangan dan tantangan industri

Cui Dongshu juga melaporkan indikator keuangan sektor manufaktur secara luas pada akhir 2025. Perusahaan industri skala besar di seluruh sektor mencatat piutang usaha sebesar 27,43 triliun yuan atau sekitar Rp66,1 kuadriliun, meningkat 4,7 persen secara tahunan.

Persediaan barang jadi tercatat sebesar 6,73 triliun yuan atau sekitar Rp16,1 kuadriliun, naik 3,9 persen secara tahunan. Data tersebut menunjukkan bahwa tren penurunan persediaan dan jangka waktu piutang di sektor otomotif masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan industri lainnya.

Secara keseluruhan, data tahunan 2025 menggambarkan pertumbuhan produksi, pendapatan, dan biaya, dengan kenaikan laba yang relatif kecil. Kondisi ini menegaskan bahwa industri otomotif China tetap tumbuh dalam skala besar, namun masih menghadapi tantangan profitabilitas di tengah persaingan dan tekanan biaya yang berkelanjutan.

Terkini