JAKARTA - Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi pasar keuangan, serta dinamika geopolitik membuat masyarakat kembali melirik instrumen investasi yang dinilai aman.
Logam mulia seperti emas dan perak menjadi pilihan karena dianggap mampu menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Namun, di tengah minat yang meningkat tersebut, muncul pertanyaan klasik, apakah investasi emas dan perak sebaiknya dilakukan dalam bentuk batangan atau justru perhiasan yang sekaligus memiliki nilai estetika.
Pilihan ini penting karena tujuan investasi tidak selalu sejalan dengan fungsi konsumtif. Banyak masyarakat masih menyamakan pembelian perhiasan dengan investasi emas, padahal secara karakter dan potensi keuntungan, keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan inilah yang perlu dipahami agar keputusan investasi lebih rasional dan sesuai tujuan keuangan.
Kinerja Harga Emas Dan Perak Terkini
Pergerakan harga emas dan perak belakangan ini menunjukkan tren yang cukup positif. Berdasarkan situs Sahabat Pegadaian, harga emas cetakan Galeri24 dan UBS kompak mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa.
Harga emas Galeri24 tercatat di Rp2,731 juta per gram, naik Rp43 ribu dibandingkan harga Senin sebesar Rp2,688 juta per gram. Sementara itu, harga emas UBS dipatok Rp2,783 juta per gram, naik Rp44 ribu dari posisi sebelumnya Rp2,739 juta per gram.
Dari sisi emas Antam, data situs Logam Mulia menunjukkan harga dasar emas ukuran 1 gram berada di level Rp2,705 juta. Angka ini naik tipis dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp2,703 juta per gram. Kenaikan tersebut mencerminkan sentimen positif pasar terhadap logam mulia di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Sementara itu, harga perak juga mencatatkan rekor baru. Mengutip Reuters, harga perak spot melonjak 3,6 persen ke level US$93,15 atau sekitar Rp1,5 juta per ounce. Sebelumnya, harga sempat menyentuh rekor tertinggi di US$94,08 atau sekitar Rp1,59 juta per ounce, menandakan minat investor terhadap perak juga semakin kuat.
Keunggulan Batangan Dari Sudut Pandang Investasi
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menilai emas dan perak batangan jauh lebih unggul dibandingkan perhiasan jika dilihat dari perspektif investasi murni. Menurutnya, nilai batangan hampir sepenuhnya merefleksikan harga logam mulia atau spot price, dengan komponen biaya tambahan yang relatif kecil dan sangat transparan.
“Ketika harga emas atau perak naik di pasar global, nilai batangan ikut naik hampir satu banding satu. Inilah yang membuatnya efisien sebagai instrumen investasi,” ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com. Efisiensi ini membuat investor lebih mudah memantau potensi keuntungan tanpa harus memperhitungkan banyak variabel non-investasi.
Selain itu, emas dan perak batangan memiliki standar berat dan kemurnian yang jelas. Standar tersebut diakui secara luas sehingga memudahkan proses jual beli di berbagai tempat. Selisih harga jual dan beli juga relatif sempit, menjadikannya instrumen yang likuid dan transparan bagi investor.
Keterbatasan Perhiasan Sebagai Instrumen Investasi
Berbeda dengan batangan, perhiasan mengandung banyak unsur non-investasi. Ronny menjelaskan bahwa perhiasan mencakup ongkos desain, biaya pengerjaan, merek, serta margin toko yang nilainya tidak diakui kembali saat perhiasan dijual. Akibatnya, sejak awal pembelian, perhiasan sudah mengandung potensi kerugian secara ekonomi.
“Ketika dilepas ke pasar sekunder, perhiasan umumnya dihargai hanya berdasarkan berat dan kadar logamnya, bahkan sering kali masih dipotong biaya lebur. Akibatnya, secara ekonomi, perhiasan mengalami built-in loss sejak hari pertama dibeli,” terangnya. Kondisi ini membuat perhiasan kurang ideal bagi mereka yang berorientasi pada keuntungan investasi.
Likuiditas perhiasan juga lebih rendah dibandingkan batangan. Nilainya sangat subjektif dan bergantung pada selera pasar, kondisi fisik, serta penilaian pedagang. Faktor-faktor ini membuat harga jual kembali perhiasan sulit diprediksi dan cenderung tidak transparan.
Logam Mulia Sebagai Instrumen Lindung Nilai
Dalam konteks ketidakpastian ekonomi global, Ronny menilai emas dan perak batangan lebih tepat diposisikan sebagai instrumen lindung nilai atau hedging. Tensi geopolitik, risiko resesi, volatilitas pasar keuangan, hingga kebijakan suku bunga global menjadi faktor yang mendorong investor mencari aset aman.
Emas dan perak secara historis berfungsi sebagai penyimpan nilai ketika mata uang tertekan dan aset finansial berfluktuasi tajam. “Karena efisiensi dan kemurnian nilainya, bekerja lebih optimal untuk tujuan tersebut dibanding perhiasan,” ujar Ronny. Dengan karakter ini, batangan dinilai lebih konsisten dalam menjaga daya beli kekayaan.
Pandangan Ekonom Soal Perhiasan Dan Batangan
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira. Ia menyebut perhiasan memiliki kelemahan karena harga jual kembalinya sering dipotong banyak biaya administrasi. Kondisi tersebut semakin merugikan jika perhiasan sudah dipakai.
“Apalagi kalau dianggap perhiasan yang sudah dipakai, harga jual kembalinya jauh lebih rendah, meskipun harga emasnya sedang naik,” ujar Bhima. Ia menambahkan bahwa perhiasan tidak mudah diperjualbelikan dibandingkan logam mulia batangan.
Menurut Bhima, logam mulia batangan memiliki kemurnian tinggi dan minim campuran, sehingga harganya di pasaran bisa lebih optimal ketika dijual kembali. Bahkan, ia menyarankan penggunaan logam mulia batangan sebagai mahar karena lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibanding perhiasan.
Bhima juga menyoroti masih minimnya edukasi masyarakat terkait investasi logam mulia batangan. Banyak orang membeli emas perhiasan saat harga naik, padahal tujuan investasi dan perlindungan dari inflasi lebih tepat dicapai melalui emas atau perak batangan. Edukasi yang lebih luas dinilai penting agar masyarakat tidak keliru dalam menentukan pilihan investasi.