BI

Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Dorong Rupiah Menguat Di Tengah Tekanan Global

Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Dorong Rupiah Menguat Di Tengah Tekanan Global
Keputusan BI Pertahankan Suku Bunga Dorong Rupiah Menguat Di Tengah Tekanan Global

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat tertekan dalam beberapa hari terakhir. 

Di tengah dinamika pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian, langkah Bank Indonesia mempertahankan kebijakan moneternya menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen pelaku pasar. Keputusan tersebut memberi ruang bagi rupiah untuk kembali menguat dan mematahkan tren pelemahan yang sempat terjadi.

Pada penutupan perdagangan Rabu (21/1/2026), rupiah tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Penguatan ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang kembali menahan suku bunga acuan, sekaligus menegaskan fokus otoritas moneter pada stabilitas nilai tukar dan inflasi ke depan.

Rupiah Akhiri Tren Pelemahan Tiga Hari Berturut

Mengacu pada data Refinitiv, nilai tukar rupiah menguat sebesar 0,09% dan bertengger di level Rp16.930 per dolar AS. Posisi ini sekaligus mematahkan tren pelemahan yang dialami rupiah dalam tiga perdagangan sebelumnya. Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan rupiah terpantau cukup volatil dengan rentang di kisaran Rp16.920 hingga Rp16.967 per dolar AS.

Penguatan rupiah ini terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS yang cenderung melemah. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS atau DXY berada di zona merah dengan pelemahan tipis 0,02% di level 98,621. Kondisi tersebut turut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.

Kombinasi faktor eksternal dan domestik ini menjadi latar belakang penguatan rupiah, meski pasar masih mencermati arah kebijakan moneter global serta potensi tekanan lanjutan terhadap nilai tukar.

Keputusan RDG BI Jadi Penopang Sentimen Pasar

Penguatan rupiah tidak terlepas dari hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 4,75%. Kebijakan ini dinilai pasar sebagai langkah konsisten dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai bentuk upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Fokus kebijakan juga diarahkan untuk mengantisipasi tekanan inflasi pada periode 2026 hingga 2027.

"Sebagai bentuk upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global dan inflasi 2026-2027," tegas Perry seusai RDG BI, Rabu (21/1/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar masih menjadi prioritas utama bank sentral dalam merumuskan kebijakan moneter.

Suku Bunga Ditahan Empat Kali Beruntun

Dengan keputusan terbaru ini, Bank Indonesia tercatat telah empat kali berturut-turut mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sejak September 2025. Konsistensi tersebut mencerminkan kehati-hatian BI dalam merespons dinamika global dan domestik yang masih berfluktuasi.

Meski menahan suku bunga, Perry Warjiyo menyampaikan bahwa BI tetap berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong percepatan transmisi suku bunga acuan ke sektor riil, serta memastikan likuiditas tetap terjaga.

Selain itu, BI juga menilai bahwa ruang untuk penurunan suku bunga ke depan masih terbuka. Namun, kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan stabilitas nilai tukar, inflasi, serta kondisi perekonomian global secara keseluruhan.

Ekspektasi Pasar Sejalan Dengan Konsensus

Keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan sejalan dengan ekspektasi pasar. Konsensus CNBC Indonesia yang melibatkan 13 lembaga dan institusi menunjukkan seluruh responden memperkirakan BI akan kembali mempertahankan suku bunga di level 4,75%.

Sejumlah ekonom menilai bahwa tekanan terhadap rupiah yang belum sepenuhnya mereda membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi terbatas. Penurunan suku bunga dinilai berpotensi mengurangi daya tarik imbal hasil aset rupiah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko arus modal keluar.

Dalam konteks ini, kebijakan suku bunga yang stabil dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga kepercayaan investor, khususnya investor asing yang sensitif terhadap perbedaan imbal hasil dan risiko nilai tukar.

Pandangan Ekonom Soal Stabilitas Nilai Tukar

Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai Bank Indonesia perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik guna menopang stabilitas nilai tukar. Menurutnya, kebijakan suku bunga yang ditahan merupakan pilihan rasional di tengah kondisi pasar saat ini.

"BI kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga di 4,75% karena perlu menjaga imbal hasil aset rupiah tetap menarik untuk mendukung stabilitas nilai tukar, sekaligus memastikan transmisi pelonggaran yang sudah dilakukan sepanjang 2025 tetap berjalan," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan bahwa stabilitas nilai tukar dan efektivitas kebijakan sebelumnya menjadi pertimbangan utama dalam penentuan arah suku bunga ke depan.

Tekanan Rupiah Masih Jadi Perhatian

Senada dengan pandangan tersebut, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pasar telah mengunci ekspektasi suku bunga tetap. Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih cukup kuat sehingga ruang untuk perubahan kebijakan dalam waktu dekat relatif terbatas.

"Peluang terbesar Bank Indonesia masih menahan BI Rate di 4,75% karena tekanan nilai tukar rupiah belum mereda dan pasar juga sudah mengarah ke skenario suku bunga tetap," kata Josua.

Ia menambahkan bahwa stabilitas kebijakan moneter menjadi kunci untuk menjaga sentimen pasar tetap kondusif. Di tengah volatilitas global, konsistensi kebijakan dinilai lebih penting dibandingkan langkah agresif yang berisiko memicu gejolak baru.

Secara keseluruhan, penguatan rupiah pada perdagangan hari ini mencerminkan respons positif pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia. Meski tantangan global masih membayangi, langkah BI mempertahankan suku bunga memberi sinyal kehati-hatian yang dinilai tepat dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index