Pertanian

Panen Padi Gogo Gunungkidul Bukti Ketahanan Pertanian Di Tengah Tantangan Lahan Kering

Panen Padi Gogo Gunungkidul Bukti Ketahanan Pertanian Di Tengah Tantangan Lahan Kering
Panen Padi Gogo Gunungkidul Bukti Ketahanan Pertanian Di Tengah Tantangan Lahan Kering

JAKARTA - Karakter geografis wilayah pesisir Kabupaten Gunungkidul selama ini identik dengan lahan kering yang mengandalkan curah hujan musiman. 

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat petani untuk tetap menjaga produksi pangan. Memasuki awal tahun, sebagian petani pesisir Gunungkidul mulai memanen padi gogo, jenis padi yang dikenal lebih adaptif terhadap keterbatasan air. Panen ini menjadi gambaran nyata bahwa pertanian di wilayah kering tetap memiliki peluang berkembang dengan strategi yang tepat.

Pemanfaatan lahan tadah hujan menjadi kunci utama keberhasilan budidaya padi gogo. Pada musim tanam pertama yang bertepatan dengan musim hujan, aktivitas pertanian meningkat signifikan. Momentum ini dimanfaatkan petani untuk menanam padi dengan harapan hasil panen dapat mendukung kebutuhan pangan daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di Gunungkidul.

Pemanfaatan Lahan Kering Di Wilayah Pesisir

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, menjelaskan bahwa tidak seluruh wilayah Gunungkidul mengandalkan sawah irigasi. Sejumlah kawasan pesisir seperti Girisubo, Tepus, Saptosari, Panggang, hingga Purwosari memanfaatkan lahan tadah hujan untuk menanam padi. Pola tanam ini disesuaikan dengan kondisi alam yang ada.

Menurut Raharjo, pada musim hujan pertama luas tanam padi mengalami peningkatan cukup signifikan. Total lahan yang ditanami padi di Gunungkidul tercatat mencapai 42.734 hektare. Angka tersebut mencerminkan optimalisasi lahan kering yang selama ini menjadi tantangan utama sektor pertanian di wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Untuk di wilayah kering, yang ditanam adalah padi jenis gogo yang kebutuhan airnya lebih sedikit,” kata Raharjo, Rabu (21/1/2026). Jenis padi ini dinilai cocok karena mampu tumbuh dengan pasokan air terbatas, sehingga risiko gagal panen dapat ditekan.

Hasil Panen Mulai Dirasakan Petani Pesisir

Seiring berjalannya musim tanam, sebagian petani pesisir kini sudah mulai merasakan hasil panen. Salah satunya berada di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo. Di wilayah ini, petani memanen padi gogo varietas Segreng Handayani, varietas lokal khas Bumi Handayani yang telah lama dibudidayakan masyarakat setempat.

Berdasarkan hasil pengubinan, produktivitas padi gogo di wilayah tersebut tergolong cukup baik. Hasilnya mencapai 5,3 ton per hektare, angka yang cukup menjanjikan untuk lahan kering. Dari lahan seluas 1.200 meter persegi, petani mampu menghasilkan sekitar 28 sak atau setara 700 kilogram gabah kering giling.

“Di lahan seluas 1.200 meter persegi ini, bisa mendapatkan 28 sak atau sekitar 700 kilogram gabah kering giling,” kata Raharjo. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan varietas dan pengelolaan yang sesuai, lahan kering tetap dapat menghasilkan panen optimal.

Produktivitas Beragam Antarwilayah

Selain Girisubo, panen padi gogo juga dirasakan petani di wilayah lain. Di Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Purwosari, produktivitas panen tercatat sekitar 3,5 ton per hektare. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh kondisi lahan, intensitas curah hujan, serta teknik budidaya yang diterapkan petani.

“Panen padi ini juga sudah dilakukan oleh petani di Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari,” kata Raharjo. Hal ini menunjukkan bahwa panen tidak hanya terpusat di satu wilayah, tetapi mulai merata di beberapa kawasan pesisir Gunungkidul.

Kepala Tim Produksi Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Danang Sutopo, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan panen padi di lahan kering. Hingga awal Januari, sekitar 5 persen lahan padi telah dipanen, sementara sebagian besar masih menunggu waktu panen optimal.

Perkiraan Panen Raya Dan Harapan Hasil Optimal

Danang menjelaskan bahwa masa panen raya padi gogo di Gunungkidul diperkirakan berlangsung mulai akhir Januari hingga Februari. Pada periode tersebut, sebagian besar tanaman padi di lahan tadah hujan telah memasuki fase siap panen.

“Memang belum semua, tapi untuk masa panen raya terjadi mulai akhir Januari hingga Februari,” katanya. Meski produktivitas antarwilayah bervariasi, Danang memperkirakan hasil panen rata-rata dapat mencapai sekitar lima ton per hektare.

“Mudah-mudahan hasilnya bisa bagus sehingga ketahanan pangan di Gunungkidul dapat terus diperkuat,” katanya. Harapan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

Komitmen Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan produktivitas gabah. Capaian produksi padi pada tahun sebelumnya menjadi bukti konsistensi kerja sama antara petani dan aparatur pertanian dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

“Kami ingin memastikan program ketahanan pangan tetap berjalan baik, mulai dari penyediaan benih, pupuk, hingga mitigasi risiko cuaca ekstrem. Jadi, hasilnya bisa dilihat dengan hasil panen yang lebih optimal,” kata Rismiyadi. Dukungan tersebut diharapkan mampu menjaga semangat petani untuk terus berproduksi.

Untuk mendukung musim tanam pertama, pemerintah telah menyalurkan bantuan benih padi sebanyak 108,3 ton. Bantuan ini dapat digunakan untuk budidaya padi di lahan seluas 4.332 hektare, sehingga cakupan tanam dapat diperluas secara bertahap.

“Ini bisa untuk budidaya padi di lahan seluas 4.332 hektare,” katanya. Dengan dukungan tersebut, panen padi gogo di lahan kering diharapkan terus menjadi penopang ketahanan pangan Gunungkidul ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index