Minyak

Harga Minyak Dunia Naik Tipis Akibat Gangguan Pasokan Kazakhstan Dan Venezuela Global

Harga Minyak Dunia Naik Tipis Akibat Gangguan Pasokan Kazakhstan Dan Venezuela Global
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Akibat Gangguan Pasokan Kazakhstan Dan Venezuela Global

JAKARTA - Pergerakan harga minyak mentah dunia kembali menarik perhatian pelaku pasar pada pertengahan pekan ini. 

Di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, harga minyak justru ditutup menguat meski hanya tipis. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana pasar energi sangat sensitif terhadap isu pasokan, terutama ketika terjadi gangguan produksi di negara-negara produsen utama. Sentimen kehati-hatian tetap terasa, namun optimisme terhadap pasokan yang lebih ketat memberi penopang bagi harga.

Penguatan harga minyak kali ini tidak lepas dari sejumlah faktor yang berkembang hampir bersamaan. Gangguan sementara di Kazakhstan serta terbatasnya ekspor dari Venezuela menjadi pemicu utama. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pasokan global bisa menyusut dalam jangka pendek. Meski kenaikannya terbatas, sinyal ini cukup untuk mengubah arah harga dari tekanan menjadi penguatan.

Pergerakan Harga Minyak Pada Penutupan Perdagangan

Harga minyak mentah dunia ditutup menguat tipis pada Rabu, 21 Januari 2026. Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik US$ 0,32 atau sekitar 0,5 persen menjadi US$ 65,24 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI Amerika Serikat turut menguat US$ 0,26 atau 0,4 persen ke level US$ 60,62 per barel. Kenaikan ini mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan pasokan global yang dinilai semakin ketat.

Penguatan tersebut terjadi setelah beberapa hari harga minyak bergerak fluktuatif. Investor cenderung mencermati berbagai laporan produksi dan ekspor dari negara produsen utama. Meskipun permintaan global belum menunjukkan lonjakan signifikan, faktor pasokan terbukti mampu memberikan dorongan harga. Situasi ini memperlihatkan keseimbangan rapuh antara permintaan dan pasokan di pasar minyak internasional.

Gangguan Produksi Di Ladang Minyak Kazakhstan

Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak berasal dari Kazakhstan. Operator ladang minyak besar di negara tersebut, Tengizchevroil atau TCO, menyatakan force majeure atas pengiriman minyak melalui sistem pipa Caspian Pipeline Consortium atau CPC. Keputusan ini diambil akibat gangguan distribusi listrik di dua ladang utama, yakni Tengiz dan Korolev. Gangguan tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi berkurangnya pasokan global.

Sumber industri menyebutkan bahwa produksi di kedua ladang tersebut dapat tetap berhenti selama tujuh hingga sepuluh hari ke depan. Kondisi ini menimbulkan spekulasi bahwa pasokan minyak dari kawasan tersebut tidak akan optimal dalam waktu dekat. Selain itu, ladang minyak Kashagan di Kazakhstan juga dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pengalihan ini dilakukan setelah terminal CPC di Laut Hitam mengalami kerusakan akibat serangan drone.

Ekspor Venezuela Masih Terbatas

Selain Kazakhstan, pasar juga mencermati perkembangan ekspor minyak dari Venezuela. Volume ekspor minyak negara tersebut masih tercatat rendah. Di bawah kesepakatan pasokan senilai US$ 2 miliar dengan Amerika Serikat, total ekspor Venezuela tercatat sekitar 7,8 juta barel. Angka ini menunjukkan lambatnya pemulihan output Venezuela setelah pemotongan produksi sebelumnya.

Kondisi tersebut menambah kekhawatiran pasar mengenai ketersediaan pasokan minyak global. Venezuela selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan minyak besar, namun berbagai kendala membuat produksinya belum pulih optimal. Terbatasnya ekspor dari Venezuela menjadi salah satu faktor pendukung harga di tengah gangguan pasokan dari wilayah lain. Pasar pun menilai bahwa kombinasi faktor ini cukup untuk menahan tekanan penurunan harga.

Inventaris Minyak AS Jadi Perhatian Pasar

Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada laporan inventaris minyak Amerika Serikat. Survei awal Reuters menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah dan bensin AS diperkirakan meningkat sekitar 1,7 juta barel. Sementara itu, persediaan destilat diperkirakan justru mengalami penurunan. Data ini menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah pergerakan harga dalam jangka pendek.

Selain laporan inventaris, pasar juga mencermati revisi proyeksi permintaan global. International Energy Agency atau IEA merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 dalam laporan bulanan terbarunya. Revisi ini dapat mengindikasikan bahwa surplus pasokan tahun ini akan lebih sempit. Dengan demikian, meskipun ada potensi kenaikan persediaan, prospek permintaan tetap memberikan dukungan bagi harga.

Sentimen Geopolitik Dan Arah Pasar Selanjutnya

Faktor geopolitik turut membentuk sentimen di pasar minyak. Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk potensi tarif perdagangan AS yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global, turut menciptakan sentimen risiko di pasar minyak. 

Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa kebijakan perdagangan dapat berdampak pada permintaan energi secara keseluruhan.

Ke depan, pelaku pasar menanti rilis laporan mingguan data persediaan oleh American Petroleum Institute dan data resmi pemerintah AS. Laporan tersebut akan dirilis dalam dua hari mendatang setelah sempat tertunda karena libur federal AS. 

Data ini diperkirakan menjadi sinyal penting bagi pergerakan harga selanjutnya. Dengan kombinasi gangguan pasokan, kondisi inventaris, dan dinamika geopolitik, harga minyak diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index