AS Roma

AS Roma Kontra AC Milan Berakhir Imbang, Kontroversi Penalti Picu Amarah Mike Maignan

AS Roma Kontra AC Milan Berakhir Imbang, Kontroversi Penalti Picu Amarah Mike Maignan
AS Roma Kontra AC Milan Berakhir Imbang, Kontroversi Penalti Picu Amarah Mike Maignan

JAKARTA - Atmosfer panas menyelimuti Stadion Olimpico saat AS Roma menjamu AC Milan pada pekan ke-22 Serie A 2025/2026. 

Laga yang digelar Senin dini hari WIB itu bukan sekadar duel papan atas, tetapi juga pertarungan gengsi dua tim yang bersaing ketat di jalur juara. Pertandingan berakhir imbang 1-1, namun hasil akhir justru kalah ramai dibanding polemik penalti yang memicu kemarahan Mike Maignan.

Sejak awal, pertandingan berjalan dengan tensi tinggi. Roma tampil agresif di hadapan publiknya sendiri, memaksa Milan lebih banyak bertahan pada babak pertama. Rossoneri kesulitan mengembangkan permainan dan harus mengandalkan disiplin lini belakang untuk meredam tekanan tuan rumah. Situasi ini membuat laga berlangsung ketat tanpa banyak peluang bersih hingga jeda.

Memasuki babak kedua, arah pertandingan mulai berubah. Milan tampil lebih efektif dan mampu memanfaatkan momen penting. Keunggulan yang sempat diraih membuka harapan Rossoneri untuk membawa pulang tiga poin dari Olimpico. Namun, satu keputusan wasit di pertengahan babak kedua mengubah segalanya dan menyisakan rasa frustrasi mendalam di kubu tamu.

Babak pertama milik Roma dengan tekanan intens

AS Roma langsung mengambil inisiatif serangan sejak menit awal. Bermain di kandang sendiri, tim asuhan Daniele De Rossi tampil percaya diri dengan pressing tinggi yang membuat Milan kesulitan membangun serangan dari belakang. Beberapa kali lini tengah Milan kehilangan bola di area berbahaya.

Meski menguasai permainan, Roma belum mampu memaksimalkan peluang menjadi gol. Milan bertahan cukup rapi, dengan Mike Maignan tampil sigap mengamankan gawangnya dari ancaman jarak dekat maupun tembakan jarak jauh. Hingga babak pertama berakhir, skor tetap kacamata meski Roma unggul dalam penguasaan bola.

Bagi Milan, babak pertama menjadi ujian mental. Rossoneri dipaksa bertahan lebih dalam dan jarang menciptakan peluang berarti. Namun, situasi ini sekaligus menjadi fondasi untuk perubahan pendekatan di babak kedua yang akhirnya membawa mereka unggul lebih dulu.

Efektivitas Milan berbuah gol di babak kedua

Usai turun minum, Milan tampil dengan pendekatan berbeda. Mereka tidak lagi terlalu pasif dan mulai berani mengambil risiko dalam menyerang. Perubahan ini membuat permainan menjadi lebih seimbang dan membuka ruang di kedua sisi lapangan.

Kebuntuan akhirnya pecah ketika Milan memanfaatkan situasi bola mati. Sundulan Koni De Winter sukses menggetarkan gawang Roma dan membawa Rossoneri unggul. Gol tersebut menjadi titik balik, sekaligus suntikan moral bagi Milan yang sebelumnya berada di bawah tekanan.

Keunggulan itu membuat Milan lebih percaya diri mengendalikan tempo permainan. Roma masih berusaha menekan, tetapi Milan terlihat lebih tenang dan terorganisir. Pada fase ini, Rossoneri tampak berada di jalur yang tepat untuk mengamankan kemenangan penting.

Penalti kontroversial mengubah arah pertandingan

Momen krusial terjadi pada menit ke-74 ketika wasit menunjuk titik putih untuk Roma. Davide Bartesaghi dinilai melakukan handball di dalam kotak penalti setelah bola mengenai lengannya. Keputusan tersebut langsung memicu protes keras dari para pemain Milan.

Lorenzo Pellegrini yang menjadi algojo menjalankan tugasnya dengan sempurna. Gol penalti itu membuat skor kembali imbang 1-1 dan menghidupkan kembali semangat Roma di sisa waktu pertandingan. Sejak saat itu, tensi laga meningkat dengan adu fisik dan emosi di lapangan.

Keputusan penalti tersebut menjadi sorotan utama pasca-pertandingan. Banyak pihak menilai situasi terjadi dalam jarak sangat dekat dan sulit dihindari oleh Bartesaghi. Kontroversi ini pun memantik reaksi keras dari kiper Milan, Mike Maignan.

Kekecewaan Maignan usai gagal amankan tiga poin

Mike Maignan tidak menyembunyikan rasa frustrasinya setelah laga berakhir. Kiper asal Prancis itu menilai Milan telah bekerja keras, terutama menghadapi tekanan Roma di babak pertama, dan seharusnya bisa membawa pulang tiga poin.

“Kami datang ke sini untuk meraih tiga poin, tetapi kami menghadapi tim yang tangguh dan sulit: kami tahu itu, di kandang mereka. Kami mencetak gol di babak kedua, dan sayang sekali kami tidak mampu menyelesaikannya dan memenangkan pertandingan,” ujar Maignan kepada DAZN, dikutip dari SempreMilan.

Hasil imbang ini membuat Milan mengoleksi 47 poin dari 22 pertandingan dan tetap bertahan di peringkat kedua klasemen sementara Serie A 2025/2026. Di sisi lain, Roma terus menempel ketat di posisi ketiga dengan 43 poin, menjaga persaingan papan atas tetap panas.

Maignan mempertanyakan logika keputusan wasit

Kemarahan Maignan semakin terlihat saat menyinggung keputusan penalti untuk Roma. Ia mempertanyakan apa yang seharusnya dilakukan Bartesaghi dalam situasi tersebut, mengingat jarak yang sangat dekat dan minim waktu reaksi.

“Apa yang seharusnya dilakukan Bartesaghi? Memotong lengannya? Bola berada dekat dengannya, dan Celik menendangnya ke tangannya. Ia bahkan bisa saja meminta penalti kedua untuk Pulisic…” kata Maignan dengan nada kesal.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan mendalam kubu Milan terhadap konsistensi keputusan wasit. Kontroversi ini pun menambah daftar panjang perdebatan soal handball di Serie A, yang kerap memicu polemik di berbagai pertandingan.

Dampak hasil imbang bagi persaingan Serie A

Hasil 1-1 di Olimpico membuat persaingan papan atas Serie A tetap terbuka. Milan gagal memperlebar jarak dengan para pesaingnya, sementara Roma berhasil mencuri satu poin penting untuk menjaga asa di jalur empat besar.

Bagi Milan, hasil ini menjadi pengingat bahwa konsistensi hingga menit akhir sangat krusial dalam perburuan gelar. Sementara bagi Roma, performa solid melawan salah satu kandidat juara menjadi modal kepercayaan diri untuk laga-laga berikutnya.

Di balik skor imbang, laga ini akan terus dikenang karena kontroversi penalti dan luapan emosi Mike Maignan. Duel Roma kontra AC Milan sekali lagi membuktikan bahwa Serie A bukan hanya soal kualitas permainan, tetapi juga drama yang kerap menyertainya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index