Saham

Saham Tertentu Tetap Cuan Saat IHSG Anjlok Parah Di Tengah Tekanan Pasar

Saham Tertentu Tetap Cuan Saat IHSG Anjlok Parah Di Tengah Tekanan Pasar
Saham Tertentu Tetap Cuan Saat IHSG Anjlok Parah Di Tengah Tekanan Pasar

JAKARTA - Tekanan berat kembali menghantam pasar saham domestik pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. 

Sejak awal sesi, Indeks Harga Saham Gabungan langsung bergerak di zona merah dan menunjukkan pelemahan tajam. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali waspada, terutama investor ritel yang menghadapi volatilitas tinggi di tengah sentimen global dan regional yang belum kondusif.

Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG tercatat berada di posisi 8.027,828. Namun tekanan jual yang masif membuat indeks tak mampu bertahan lama di area tersebut. Dalam hitungan menit, laju koreksi semakin dalam dan menyeret hampir seluruh saham unggulan ke zona merah.

Mengacu pada data RTI hingga pukul 09.15 WIB, IHSG terjun bebas 536,951 poin atau setara 6,45 persen ke level 7.783,605. Angka ini menandakan bahwa tekanan pasar masih sangat kuat dan belum menunjukkan tanda mereda di awal perdagangan.

Situasi ini menjadi kelanjutan dari koreksi tajam yang terjadi pada perdagangan sebelumnya, sekaligus menegaskan bahwa sentimen negatif masih mendominasi pergerakan bursa domestik.

Mayoritas Saham Tertekan Di Awal Perdagangan

Pelemahan IHSG pagi ini diiringi dengan dominasi saham yang bergerak turun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 631 emiten tercatat melemah. Sementara itu, hanya 37 saham yang mampu menguat dan 34 saham bergerak stagnan.

Komposisi pergerakan saham tersebut menunjukkan bahwa tekanan bersifat menyeluruh. Tidak hanya saham-saham berkapitalisasi besar, emiten lapis kedua dan ketiga pun ikut terseret arus jual.

Nilai transaksi yang tercatat hingga pukul 09.15 WIB mencapai Rp7,843 triliun. Volume saham yang berpindah tangan mencapai 8,723 miliar lembar saham, mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Aktivitas jual yang tinggi ini mencerminkan kepanikan jangka pendek sekaligus aksi defensif pelaku pasar yang memilih mengurangi risiko di tengah ketidakpastian.

IHSG Masih Berpotensi Lanjut Melemah

Tekanan terhadap IHSG diperkirakan belum sepenuhnya berakhir. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyebutkan bahwa IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini. Sentimen utama masih berasal dari pengumuman MSCI yang dirilis sebelumnya.

Menurut Fanny, area koreksi IHSG berada di kisaran 8.050 hingga 8.100. Apabila indeks mampu bertahan di area tersebut, peluang untuk rebound tetap terbuka dalam jangka pendek.

“Kalau kuat di area tersebut, IHSG potensi rebound kembali. Diperkirakan support IHSG di level 8.050-8.100 dan resist IHSG pada level 8.350-8.400,” ungkap Fanny dalam analisis hariannya.

Pernyataan ini menjadi acuan bagi pelaku pasar yang tengah mencari titik aman untuk masuk kembali, meski risiko volatilitas masih tinggi.

Sentimen Global Dan Asing Masih Membayangi

Koreksi tajam IHSG juga tidak lepas dari tekanan pada perdagangan sebelumnya. Pada Rabu, 28 Januari 2026, IHSG ditutup anjlok 7,35 persen dan dibarengi dengan aksi jual bersih asing sebesar Rp6,12 triliun.

Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BBCA, BMRI, BBRI, TLKM, dan ANTM. Aksi jual di saham-saham jumbo tersebut memberikan tekanan besar terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.

Di sisi global, pergerakan bursa Amerika Serikat relatif stabil. Indeks-indeks Wall Street mayoritas menguat setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. S&P 500 sempat menembus level 7.000 untuk pertama kalinya, meski akhirnya turun tipis 0,01 persen.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average naik 0,02 persen dan Nasdaq Composite menguat 0,17 persen. Di kawasan Asia-Pasifik, bursa bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat, meski tidak sepenuhnya menopang sentimen pasar domestik.

Saham Potensial Saat Pasar Bergejolak

Di tengah kondisi IHSG yang hancur lebur, peluang cuan tetap terbuka pada saham-saham tertentu. Beberapa saham dinilai masih menarik sebagai trading idea jangka pendek, terutama yang berbasis komoditas emas dan saham defensif.

Saham HRTA direkomendasikan speculative buy dengan area beli di kisaran Rp2.200 hingga Rp2.320, dengan cutloss di bawah Rp2.100. Target terdekat berada di rentang Rp2.450 sampai Rp2.520.

ANTM juga masuk dalam daftar saham pilihan dengan area beli Rp4.300 hingga Rp4.420. Cutloss disarankan di bawah Rp4.220, sementara target dekat berada di kisaran Rp4.550 sampai Rp4.650.

EMAS, PSAB, ARCI, dan DOOH turut direkomendasikan sebagai peluang trading di tengah volatilitas. Saham-saham tersebut dinilai memiliki potensi teknikal jangka pendek, meski tetap memerlukan manajemen risiko ketat.

Kondisi pasar yang penuh tekanan ini menuntut investor untuk lebih selektif, disiplin terhadap strategi, dan tidak terpancing euforia jangka pendek.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index