Tekanan Saham Teknologi Membebani Wall Street Di Tengah Kekhawatiran Investasi AI Global

Jumat, 06 Februari 2026 | 09:43:55 WIB
Tekanan Saham Teknologi Membebani Wall Street Di Tengah Kekhawatiran Investasi AI Global

JAKARTA - Penutupan perdagangan Wall Street pada Kamis, 5 Februari 2026, menghadirkan gambaran suram bagi pasar saham Amerika Serikat. 

Aksi jual besar-besaran kembali mendominasi, terutama pada saham raksasa teknologi yang selama ini menjadi motor penggerak reli pasar. Investor terlihat mulai menahan diri dan meninjau ulang optimisme terhadap sektor teknologi, khususnya yang berkaitan dengan lonjakan belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Tekanan tersebut membuat sejumlah indeks utama Wall Street mencatat pelemahan signifikan. Kondisi ini sekaligus menandai perubahan sentimen pasar, dari euforia pertumbuhan menuju kehati-hatian terhadap risiko dan ketidakpastian imbal hasil investasi jangka panjang.

Indeks Utama Wall Street Tertekan Serempak

Mengutip Reuters pada Jumat, 6 Februari 2026, pelemahan pasar saham AS terjadi secara merata di hampir seluruh indeks utama. Indeks S&P 500 turun 1,23 persen dan berakhir di posisi 6.798,40. Penurunan ini mencerminkan tekanan luas di berbagai sektor, seiring investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi mencatat penurunan lebih dalam. Indeks ini merosot 1,59 persen ke level 22.540,59, sekaligus menyentuh posisi terendah sejak November. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 1,20 persen dan ditutup di level 48.908,72, mempertegas sentimen negatif di pasar.

Belanja Modal AI Picu Kekhawatiran Baru

Salah satu pemicu utama tekanan pasar datang dari pengumuman Alphabet terkait rencana menggandakan belanja modal di bidang kecerdasan buatan. Langkah ini dimaksudkan untuk memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan teknologi global yang semakin ketat. Namun, pasar justru merespons dengan kehati-hatian.

Saham Alphabet turun 0,55 persen setelah perusahaan mengungkapkan rencana investasi belanja modal hingga 185 miliar dollar AS pada 2026. Alphabet bersama para pesaing besarnya diperkirakan akan menggelontorkan lebih dari 500 miliar dollar AS untuk pengembangan AI tahun ini. Angka tersebut memicu pertanyaan investor terkait efektivitas dan waktu pengembalian investasi.

Aksi Jual Meluas Ke Raksasa Teknologi

Tekanan tidak hanya berhenti pada Alphabet. Aksi jual meluas ke saham-saham teknologi besar lainnya yang selama ini menjadi favorit investor. Saham Microsoft terkoreksi hingga 5 persen, sementara Palantir Technologies anjlok 6,8 persen. Oracle juga tertekan cukup dalam dengan penurunan mencapai 7 persen.

Saham Amazon mengalami penurunan 4,4 persen pada perdagangan reguler. Tekanan berlanjut setelah penutupan pasar, dengan saham Amazon kembali merosot sekitar 10 persen. Saham Nvidia, yang kerap dipandang sebagai pihak paling diuntungkan dari lonjakan belanja AI, turut tertekan dengan penurunan 1,4 persen.

Keraguan Terhadap Imbal Hasil Investasi AI

Di balik tekanan tersebut, muncul keraguan investor terhadap seberapa cepat dan besar investasi AI dapat berkontribusi terhadap pendapatan dan laba perusahaan. Pasar mulai menuntut bukti konkret bahwa belanja modal raksasa ini benar-benar mampu menciptakan nilai tambah dalam waktu yang wajar.

“Ini adalah pertama kalinya kita melihat perusahaan teknologi berkapitalisasi besar seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon menjalani siklus belanja modal yang sangat besar, dan pasar mulai bergejolak karena belum ada kepastian apakah investasi ini akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan,” ujar Ahli Strategi Investasi US Bank Wealth Management, Tom Hainlin.

Tekanan Pada Perangkat Lunak Dan Data

Kekhawatiran lain yang ikut membebani pasar adalah potensi dampak AI terhadap bisnis perangkat lunak tradisional. Perkembangan AI yang pesat dinilai dapat menggerus permintaan terhadap produk lama dan menekan margin keuntungan perusahaan di sektor tersebut. Dampaknya langsung terasa pada saham perusahaan perangkat lunak dan layanan data.

ServiceNow anjlok 7,6 persen, sedangkan Salesforce turun hampir 5 persen. Indeks perangkat lunak dan layanan S&P 500 tercatat jatuh 4,6 persen dan melemah untuk sesi ketujuh berturut-turut. Tekanan beruntun ini memperkuat sinyal bahwa sektor tersebut tengah menghadapi fase penyesuaian serius.

“Perdagangan AI yang menjadi pendorong pasar tahun lalu berpotensi berubah menjadi penghambat tahun ini, karena investor mulai menyadari bahwa AI akan menguntungkan sebagian perusahaan, tetapi juga merugikan sektor lain, terutama perangkat lunak,” ujar Direktur Pelaksana Riset Keputusan Investasi SimCorp, Melissa Brown.

Volatilitas Naik Dan Rotasi Saham Terlihat

Tekanan pasar semakin terasa setelah saham Qualcomm merosot 8,5 persen. Penurunan ini dipicu oleh proyeksi pendapatan dan laba kuartal II 2026 yang berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi tersebut menambah daftar kekhawatiran investor terhadap prospek sektor teknologi secara keseluruhan.

Indeks volatilitas CBOE Volatility Index atau VIX, yang kerap disebut sebagai indikator ketakutan Wall Street, melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Di tengah pelemahan saham-saham AI berharga mahal, pasar mulai menunjukkan tanda rotasi ke saham bernilai lebih rendah. Indeks nilai S&P 500 turun 0,9 persen, meski masih mencatat kinerja positif secara mingguan, sementara indeks pertumbuhan S&P 500 merosot lebih dari 4 persen sepanjang pekan ini.

Tekanan Sektor Pertegas Uji Euforia AI

Secara keseluruhan, sembilan dari 11 sektor di indeks S&P 500 ditutup di zona merah. Sektor material memimpin penurunan dengan koreksi 2,75 persen, disusul sektor barang konsumsi non-esensial yang melemah 2,59 persen. Pelemahan merata ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak bersifat sektoral semata.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa euforia AI yang sempat mendominasi Wall Street kini mulai diuji oleh kehati-hatian investor. Pasar memasuki fase evaluasi, di mana janji pertumbuhan jangka panjang harus diimbangi dengan kepastian kinerja dan profitabilitas yang lebih nyata.

Terkini