Harta Djaya Karya Siapkan Ekspansi Batubara Lewat Akuisisi Strategis Trimata Coal Perkasa

Selasa, 10 Februari 2026 | 14:58:07 WIB
Harta Djaya Karya Siapkan Ekspansi Batubara Lewat Akuisisi Strategis Trimata Coal Perkasa

JAKARTA - Perubahan arah bisnis mulai terlihat di PT Harta Djaya Karya Tbk seiring hadirnya pengendali baru. 

Emiten berkode saham MEJA ini tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperluas portofolio usahanya ke sektor energi, khususnya batubara. Aksi ini menandai fase baru perjalanan perseroan setelah restrukturisasi kepemilikan yang terjadi belum lama ini.

Rencana ekspansi tersebut diwujudkan melalui aksi akuisisi saham perusahaan tambang batubara. Manajemen menilai sektor ini masih memiliki potensi jangka panjang, terutama dengan dukungan aset berskala besar dan perencanaan produksi yang telah disusun. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi pertumbuhan baru bagi MEJA dalam beberapa tahun mendatang.

Rencana Akuisisi Saham Perusahaan Tambang

PT Harta Djaya Karya Tbk berencana mengambil alih 45% saham PT Trimata Coal Perkasa. Aksi korporasi ini dilakukan setelah masuknya pemegang saham pengendali baru yang membawa visi pengembangan usaha ke sektor batubara. Akuisisi tersebut dirancang sebagai langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis perseroan.

Direktur Utama Harta Djaya Karya, Richie Adrian Hartanto, menjelaskan bahwa rencana pengambilalihan saham ini mengacu pada Perjanjian Jual Beli Bersyarat tertanggal 22 Desember 2025. Kesepakatan tersebut menjadi dasar hukum bagi perseroan dalam menjalankan proses akuisisi.

“Akuisisi dirancang tanpa penggunaan kas Perseroan, melainkan melalui mekanisme share swap atau metode lain yang tidak membebani likuiditas MEJA,” tulisnya dalam keterbukaan informasi pada Minggu (8/2/2026).

Dengan skema tersebut, manajemen berharap kondisi keuangan perseroan tetap terjaga. Strategi ini dipilih agar ekspansi dapat dilakukan tanpa mengganggu likuiditas dan operasional inti perusahaan.

Langkah Korporasi Dan Persetujuan Pemegang Saham

Untuk merealisasikan rencana akuisisi, MEJA akan menempuh tahapan korporasi yang sesuai dengan regulasi pasar modal. Salah satu langkah utama adalah penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. Rapat ini bertujuan meminta persetujuan pemegang saham terkait penambahan modal.

Penambahan modal tersebut menjadi bagian penting dari proses akuisisi saham PT Trimata Coal Perkasa. Manajemen menegaskan bahwa seluruh tahapan akan dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini dilakukan guna menjaga kepercayaan investor dan pemangku kepentingan.

Melalui RUPSLB, perseroan juga akan memaparkan secara rinci skema transaksi. Pemegang saham diharapkan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai dampak akuisisi terhadap kinerja dan arah bisnis MEJA ke depan.

Dengan persetujuan pemegang saham, proses akuisisi dapat dilanjutkan sesuai rencana. Langkah ini menjadi penentu penting bagi realisasi ekspansi MEJA ke sektor batubara.

Peran Pengendali Baru Dalam Operasi Tambang

PT Triple Berkah Bersama, sebagai pengendali baru MEJA, memiliki peran sentral dalam pengembangan bisnis batubara ini. Triple B berencana mengoperasikan penambangan PT Trimata Coal Perkasa mulai tahun 2026. Operasi tambang akan dijalankan sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya yang telah disetujui.

Direktur Triple B, Noprian Fadli, menjelaskan bahwa TCP telah menunjuk kontraktor tambang untuk mendukung kegiatan operasional. PT Mitra Abadi Mahakam dipercaya mengelola tambang batubara yang berlokasi di Tungkal LIR, Sumatera Selatan.

“Target produksi di 2026 ditetapkan sebesar 1,5 juta ton, dengan Agro Energy Trading Pte. Ltd. sebagai pembeli siaga,” jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (9/2/2026).

Penunjukan kontraktor dan pembeli siaga ini diharapkan memberikan kepastian operasional. Dengan demikian, kegiatan produksi dapat berjalan sesuai rencana dan target yang telah ditetapkan.

Potensi Aset Dan Karakteristik Tambang

Tambang PT Trimata Coal Perkasa diklaim sebagai aset batubara berskala besar. Luas konsesi tambang mencapai sekitar 11.640 hektare, memberikan ruang pengembangan jangka panjang. Karakteristik seam batubara yang tebal menjadi salah satu keunggulan utama aset ini.

Selain itu, metode penambangan open pit dinilai lebih efisien secara biaya. Kondisi geologi yang ekonomis juga mendukung kelangsungan operasi tambang dalam jangka panjang. Faktor-faktor tersebut menjadi pertimbangan utama MEJA dalam memilih TCP sebagai target akuisisi.

Manajemen menilai bahwa kombinasi karakteristik tersebut dapat menghasilkan operasional yang stabil. Dengan perencanaan yang matang, tambang ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan.

Keunggulan aset ini juga membuka peluang peningkatan kapasitas produksi secara bertahap. Hal tersebut sejalan dengan rencana jangka panjang yang telah disusun pengendali baru.

Estimasi Cadangan Dan Proyeksi Produksi

Berdasarkan laporan JORC yang disusun oleh konsultan independen Faan Grobelaar & Associates, PT Trimata Coal Perkasa memiliki estimasi mineable coal resources sekitar 693,7 juta ton. Angka ini mencerminkan potensi sumber daya yang sangat besar untuk dikembangkan.

Dengan cadangan tersebut, perusahaan memiliki ruang untuk menjalankan operasi tambang dalam jangka panjang. Rencana produksi awal pada 2026 ditetapkan sebesar 1,5 juta ton. Target ini akan ditingkatkan secara bertahap.

Manajemen merencanakan kenaikan produksi sekitar 500 ribu ton per tahun hingga 2031. Peningkatan ini disesuaikan dengan kesiapan operasional dan kondisi pasar batubara global.

Proyeksi tersebut menunjukkan adanya roadmap produksi yang jelas. Dengan strategi yang terukur, MEJA berharap dapat mengoptimalkan potensi tambang secara berkelanjutan.

Proyeksi Kinerja Dan Prospek Ke Depan

Dengan estimasi laba sebelum pajak berkisar antara US$ 7 per ton hingga US$ 10 per ton, proyek batubara ini diharapkan memberikan nilai tambah bagi perseroan. Kombinasi harga, volume produksi, dan efisiensi operasional menjadi kunci utama pencapaian target tersebut.

Masuknya MEJA ke sektor batubara menandai diversifikasi usaha yang signifikan. Langkah ini diambil untuk menciptakan sumber pendapatan baru di luar bisnis sebelumnya. Manajemen menilai diversifikasi ini dapat memperkuat ketahanan perusahaan terhadap siklus ekonomi.

Ke depan, realisasi akuisisi dan operasional tambang akan menjadi perhatian utama investor. Keberhasilan menjalankan rencana produksi dan menjaga efisiensi biaya akan menentukan kontribusi sektor batubara terhadap kinerja MEJA.

Dengan perencanaan yang matang dan dukungan aset berskala besar, MEJA optimistis ekspansi ini dapat menjadi motor pertumbuhan baru. Aksi korporasi ini sekaligus mencerminkan transformasi strategis perseroan dalam menghadapi tantangan dan peluang industri ke depan.

Terkini