Rekomendasi Saham IHSG Pekan Ini Dipengaruhi Sentimen Global dan MSCI

Senin, 23 Februari 2026 | 13:34:01 WIB
Rekomendasi Saham IHSG Pekan Ini Dipengaruhi Sentimen Global dan MSCI

JAKARTA - Di tengah ketidakpastian global yang belum mereda, pelaku pasar domestik masih mencoba menjaga optimisme. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, di zona hijau pada level 8.271 atau naik sekitar 0,71% dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya. Kenaikan ini menjadi sinyal ketahanan pasar, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya surut. Sepanjang pekan lalu, investor asing juga mencatatkan aksi beli bersih saham (inflow) sebesar Rp221 miliar di pasar reguler.

Penguatan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan stabilitas yang solid. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai kenaikan IHSG masih tergolong terbatas. Pasar saham domestik, menurutnya, tetap dibayangi sentimen global yang cukup kuat. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen Global dan Dampaknya ke Pasar

Kekhawatiran investor mencuat setelah Amerika dikabarkan akan segera melancarkan serangan terhadap Iran. Situasi ini meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global. Di sisi lain, Iran dilaporkan berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia. Langkah tersebut dilakukan beberapa hari setelah Iran sempat menutup Selat Hormuz selama beberapa jam untuk kepentingan latihan militer.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis perdagangan dunia. Sekitar 20% suplai minyak global melintasi kawasan tersebut, sehingga setiap potensi gangguan dapat memicu lonjakan harga minyak. Dampak lanjutan dari kondisi ini berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan, termasuk pasar saham Indonesia. Oleh karena itu, pelaku pasar masih bersikap waspada terhadap dinamika geopolitik tersebut.

Dari sisi domestik, kebijakan moneter juga menjadi perhatian investor. Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% turut memengaruhi pergerakan IHSG. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menitikberatkan kebijakan pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional.

Proyeksi IHSG Sepekan

Untuk periode 23–27 Februari 2026, David memperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran support 8.200 dan resistance 8.400. Pergerakan indeks akan sangat ditentukan oleh perkembangan kebijakan yang melibatkan Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan MSCI. Finalisasi kebijakan tersebut dinilai menjadi katalis penting bagi arah pasar.

Paparan reformasi pasar modal oleh BEI dan OJK kepada MSCI menjadi sorotan utama. Langkah yang disampaikan meliputi pengelompokan data 28 kategori investor. Selain itu, terdapat target peningkatan batas minimal free float menjadi 15% pada Maret 2026. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat kredibilitas dan daya saing pasar modal Indonesia di mata investor global.

"Jika transparansi kepemilikan saham di atas 1% berhasil diimplementasikan dengan tegas, kepercayaan investor asing diprediksi akan kembali pulih," ujar David dalam keterangan resmi, dikutip Senin. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya reformasi tata kelola dalam menjaga arus modal asing. Investor disebut masih menunggu implementasi konkret dari komitmen tersebut.

Strategi dan Saham yang Dicermati

Menanggapi kondisi pasar yang masih sarat sentimen eksternal, IPOT merekomendasikan pendekatan selektif. Investor dan trader disarankan mencermati saham-saham tertentu yang dinilai memiliki potensi di tengah volatilitas. Fokus tetap diarahkan pada emiten dengan fundamental yang relatif solid serta momentum teknikal yang mendukung.

SMGR

Buy SMGR (Current Price: 3,070, Entry: 3,070, Target Price: 3,300 atau potensi kenaikan 7,49%, Stop Loss: 2,990 atau -2,61%, Risk to Reward Ratio 1:2,9). Saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dinilai menarik seiring pertumbuhan volume penjualan semen sebesar 11% pada Januari 2026. Kinerja operasional tersebut menjadi penopang optimisme terhadap prospek perseroan.

David menilai dari sisi teknikal, pergerakan harga juga telah menembus area konsolidasi sehingga membuka peluang kenaikan lanjutan. Breakout dari fase konsolidasi ini dianggap sebagai sinyal positif bagi pergerakan jangka pendek. Dengan rasio risk to reward yang relatif menarik, saham ini masuk dalam daftar pantauan pekan ini.

ARCI

Buy ARCI (Current Price: 1,810, Entry: 1,810, Target Price: 2,000 atau upside 10,50%, Stop Loss: 1,710 atau -5,52%, Risk to Reward Ratio 1:1,9). Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) direkomendasikan beli karena harga komoditas emas kembali menyentuh level 5.100. Kenaikan harga emas global memberikan sentimen positif bagi emiten tambang emas.

Menurut David, dalam jangka pendek pergerakan saham sudah kembali berada di atas MA5 yang mengindikasikan momentum positif. Posisi tersebut mencerminkan peluang kelanjutan tren penguatan apabila sentimen emas tetap terjaga. Investor dapat memanfaatkan momentum ini dengan tetap memperhatikan batas risiko yang telah ditetapkan.

BFIN

Buy on Breakout BFIN (Current Price: 1,555, Entry: 1,570, Target Price: 1,695 atau potensi naik 7,96%, Stop Loss: 1,510 atau -3,82%, Risk to Reward Ratio 1:2,1). Saham BFIN menarik untuk strategi buy on breakout seiring rencana aksi buyback hingga Rp100 miliar. Kebijakan buyback sering kali menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham.

David menuturkan, pada perdagangan sebelumnya PT BFI Finance Indonesia Tbk mencatat kenaikan harga dengan volume transaksi yang tinggi, sehingga membuka peluang terjadinya breakout. Lonjakan volume tersebut menjadi indikasi meningkatnya minat beli. Dengan manajemen risiko yang disiplin, saham ini dinilai layak dicermati dalam sepekan mendatang.

Terkini