JAKARTA - Setiap bulan Ramadan selalu menghadirkan momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia.
Di antara berbagai waktu istimewa selama bulan suci tersebut, terdapat satu malam yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam ajaran Islam.
Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar, yang diyakini membawa keberkahan luar biasa bagi umat Muslim yang beribadah dengan sungguh-sungguh. Karena keutamaannya yang begitu besar, banyak orang berusaha meningkatkan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan.
Pada periode tersebut, umat Islam memperbanyak berbagai amalan seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memanjatkan doa kepada Allah. Semua upaya itu dilakukan dengan harapan dapat meraih keberkahan dari malam yang disebut lebih baik daripada seribu bulan.
Bagi sebagian umat Islam, mengetahui waktu kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar juga menjadi hal yang menarik. Meski tidak diketahui secara pasti, banyak ulama memberikan penjelasan mengenai waktu-waktu yang paling memungkinkan.
Keistimewaan Lailatul Qadar Dalam Ajaran Islam
Bulan Ramadan memiliki sejumlah malam istimewa yang sangat dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Salah satu yang paling mulia adalah Lailatul Qadar, malam yang diyakini memiliki keutamaan luar biasa dalam ajaran Islam.
Banyak umat Muslim berusaha meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan karena diyakini malam tersebut berada di antara waktu itu. Kesempatan ini dianggap sangat berharga bagi mereka yang ingin mendapatkan pahala berlipat ganda.
Pada Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026, malam Lailatul Qadar diperkirakan terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Hal ini sesuai dengan berbagai hadis yang menjelaskan tentang waktu kemunculannya.
Banyak ulama menyebutkan bahwa malam ke dua puluh tujuh sering dianggap sebagai waktu yang paling kuat kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar.
Makna Lailatul Qadar Dalam Tradisi Islam
Makna Lailatul Qadar dalam Islam sangat berkaitan dengan kemuliaan malam tersebut. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan.
Hal ini berarti nilai ibadah yang dilakukan pada malam itu jauh lebih besar dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun. Karena itu, umat Islam berusaha memanfaatkan malam tersebut sebaik mungkin.
Secara bahasa, Lailatul Qadar dapat diartikan sebagai malam ketetapan atau malam kemuliaan. Istilah ini menggambarkan betapa pentingnya malam tersebut dalam ajaran Islam.
Dalam tradisi Islam, malam ini diyakini sebagai waktu ketika wahyu pertama Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Karena keutamaannya yang sangat besar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam tersebut seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memohon ampun kepada Allah.
Alasan Waktu Lailatul Qadar Dirahasiakan
Para ulama menjelaskan bahwa waktu pasti Lailatul Qadar tidak disebutkan secara jelas dalam ajaran Islam. Hal ini diyakini memiliki hikmah yang besar bagi umat Muslim.
Dengan tidak diketahui secara pasti waktunya, umat Islam didorong untuk memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan. Tujuannya agar mereka tidak hanya fokus beribadah pada satu malam saja.
Dalam banyak hadis disebutkan bahwa Lailatul Qadar berada pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yaitu malam kedua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan.
Meskipun demikian, sebagian besar ulama berpendapat bahwa kemungkinan terbesar berada pada malam kedua puluh tujuh Ramadan. Karena itu, banyak umat Islam meningkatkan ibadah secara khusus pada malam tersebut.
Perkiraan Waktu Lailatul Qadar Pada Ramadan 2026
Berdasarkan kalender Ramadan 2026, malam kedua puluh tujuh diperkirakan jatuh pada Minggu malam hingga Senin dini hari, 15 hingga 16 Maret 2026. Namun kepastiannya tetap bergantung pada penentuan kalender hijriah dan pengamatan hilal.
Berdasarkan kalender Islam 2026, Ramadan diperkirakan dimulai pada 18 Februari 2026. Sepuluh malam terakhir Ramadan dimulai sekitar 9 Maret hingga menjelang Idulfitri.
Jika dihitung dari kalender tersebut, maka malam ke dua puluh tujuh Ramadan diperkirakan jatuh pada Minggu malam 15 Maret 2026 hingga Senin dini hari 16 Maret 2026.
Banyak umat Islam memanfaatkan malam tersebut untuk memperbanyak ibadah dan doa sebagai bentuk upaya meraih keberkahan.
Namun demikian, para ulama tetap mengingatkan bahwa Lailatul Qadar bisa saja terjadi pada malam ganjil lainnya.
Amalan Untuk Meraih Keberkahan Lailatul Qadar
Dalam tradisi Islam, ada beberapa amalan yang dianjurkan agar seseorang dapat meraih keberkahan malam Lailatul Qadar. Amalan tersebut biasanya dilakukan pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Salah satu amalan utama adalah melaksanakan salat malam atau qiyamul lail. Salat tarawih yang dilanjutkan dengan salat tahajud menjadi bagian dari ibadah yang sangat dianjurkan pada malam tersebut.
Selain itu, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an juga menjadi amalan penting. Ramadan sendiri dikenal sebagai bulan Al-Qur’an sehingga memperbanyak tilawah pada sepuluh malam terakhir menjadi kebiasaan umat Islam di berbagai negara.
Berdoa dan memohon ampun juga dianjurkan pada malam Lailatul Qadar. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang sering dibaca pada malam tersebut, yaitu memohon ampunan dan rahmat dari Allah.
Sebagian umat Islam juga melakukan i’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan. I’tikaf merupakan ibadah dengan cara berdiam diri di masjid untuk memperbanyak zikir, doa, dan ibadah.
Makna Spiritual Dan Sosial Lailatul Qadar
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar memiliki tanda-tanda tertentu, meskipun tidak selalu mudah dikenali oleh setiap orang. Salah satu tanda yang sering disebut adalah suasana malam yang terasa tenang dan damai.
Selain itu, cuaca malam biasanya terasa sejuk dan tidak terlalu panas atau dingin. Beberapa ulama juga menyebut bahwa pada pagi hari setelah Lailatul Qadar, matahari terbit dengan cahaya yang lembut dan tidak terlalu menyilaukan.
Namun demikian, tanda-tanda tersebut tidak selalu menjadi patokan pasti. Yang lebih penting adalah memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.
Rasulullah SAW dikenal sangat meningkatkan ibadahnya ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau memperbanyak salat malam, berzikir, dan membangunkan keluarga untuk ikut beribadah.
Tradisi tersebut kemudian menjadi teladan bagi umat Islam hingga saat ini. Banyak masjid mengadakan kegiatan ibadah malam seperti qiyamul lail bersama, tadarus Al-Qur’an, serta ceramah keagamaan.
Momentum ini juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan refleksi spiritual, memperbaiki diri, serta memperbanyak amal kebaikan bagi sesama.