BMKG Sebut Potensi Hujan Lebat NTB Mulai Berkurang Pertengahan Maret

Rabu, 11 Maret 2026 | 08:59:31 WIB
BMKG Sebut Potensi Hujan Lebat NTB Mulai Berkurang Pertengahan Maret

JAKARTA - Perkembangan kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia terus dipantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 

Informasi terkait potensi hujan, perubahan musim, serta kemungkinan cuaca ekstrem menjadi hal penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan aktivitas sehari-hari.

Di wilayah Nusa Tenggara Barat, kondisi cuaca pada pertengahan Maret menunjukkan adanya perubahan pola curah hujan. Setelah melewati fase puncak musim hujan, intensitas hujan di sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan secara bertahap.

Meski demikian, peluang turunnya hujan masih tetap ada di sebagian wilayah. Karena itu, masyarakat tetap diimbau untuk memperhatikan perkembangan prakiraan cuaca agar dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya hujan maupun kondisi cuaca yang tidak menentu.

Informasi prakiraan cuaca ini juga menjadi acuan bagi berbagai sektor, mulai dari pertanian, transportasi, hingga aktivitas masyarakat sehari-hari. Dengan mengetahui tren cuaca yang terjadi, masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan musim.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut peluang hujan lebat di Nusa Tenggara Barat mulai berkurang. Hal ini seiring dengan wilayah tersebut yang mulai memasuki fase pascapuncak musim hujan pada pertengahan Maret 2026.

"Peluang hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian hanya berkisar 30 hingga 50 persen," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Suci Agustiarini di Mataram, Rabu, 11 Maret 2026, melansir Antara.

Perubahan Pola Curah Hujan di NTB

Pada periode dasarian pertengahan Maret 2026 atau sekitar tanggal 11 hingga 20 Maret, peluang hujan lebat diperkirakan terjadi di sebagian kecil wilayah Nusa Tenggara Barat.

Beberapa daerah yang masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi antara lain sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, serta Bima.

Meski peluang hujan lebat mulai berkurang, kondisi cuaca di sejumlah wilayah masih tetap berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tertentu. Hal ini menandakan bahwa aktivitas hujan masih berlangsung pada masa transisi setelah puncak musim hujan.

Peta prediksi curah hujan probabilistik yang dirilis BMKG juga menunjukkan adanya variasi potensi hujan di berbagai wilayah. Perbedaan kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang memengaruhi distribusi curah hujan di setiap daerah.

Potensi Hujan Intensitas Menengah Masih Terjadi

Suci Agustiarini menjelaskan bahwa hujan dengan kategori sedang masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat.

Intensitas hujan kategori sedang ini memiliki nilai lebih dari 50 milimeter dan diperkirakan terjadi dengan probabilitas sekitar 60 hingga lebih dari 90 persen di banyak wilayah NTB.

Meskipun hujan masih berpotensi terjadi di berbagai daerah, peluang hujan dengan intensitas sangat tinggi mulai menurun. Hal tersebut disebabkan wilayah NTB telah memasuki fase pascapuncak musim hujan.

"Masih ada potensi hujan dengan intensitas menengah pada pertengahan Maret 2026, masyarakat diharapkan untuk terus waspada terhadap potensi kejadian cuaca ekstrem," ujar Suci.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan meskipun intensitas hujan mulai menurun. Perubahan cuaca yang cepat masih mungkin terjadi selama masa peralihan musim.

Catatan Curah Hujan Awal Maret

Sepanjang periode dasarian awal Maret atau sekitar tanggal 1 hingga 10 Maret 2026, BMKG mencatat kondisi curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat cukup bervariasi.

Beberapa wilayah mengalami hujan dengan kategori rendah hingga menengah, sementara sejumlah daerah lainnya mencatat curah hujan dengan kategori tinggi.

Curah hujan tertinggi tercatat di pos hujan Tanjung yang berada di Kabupaten Lombok Utara. Di wilayah tersebut, jumlah curah hujan mencapai 172 milimeter per dasarian.

Selain memantau intensitas curah hujan, BMKG juga mengamati kondisi hari tanpa hujan berturut-turut di wilayah NTB. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah masih berada pada kategori hari tanpa hujan yang sangat pendek.

"Hari tanpa hujan yang sangat pendek menandakan aktivitas hujan masih cukup sering terjadi," kata Suci.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun intensitas hujan mulai berkurang, aktivitas hujan masih cukup sering terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Perkiraan Awal Musim Kemarau di NTB

Berdasarkan informasi sebelumnya, sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat diperkirakan akan mulai memasuki awal musim kemarau pada April 2026.

BMKG menyebut sekitar 84 persen wilayah NTB akan mengalami awal musim kemarau pada periode tersebut. Kondisi ini menandakan adanya perubahan pola cuaca yang cukup signifikan dibandingkan sebelumnya.

Puncak musim kemarau di wilayah NTB diperkirakan akan berlangsung sekitar Agustus 2026. Pada periode tersebut, intensitas curah hujan biasanya akan mengalami penurunan secara signifikan.

BMKG juga menyebut sekitar 70 hingga 73 persen wilayah NTB akan mengalami awal musim kemarau yang datang lebih cepat dibandingkan kondisi normal.

Selain datang lebih awal, sifat musim kemarau yang diperkirakan terjadi juga cenderung lebih kering dibandingkan rata-rata kondisi klimatologis sebelumnya.

Durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan berkisar antara 25 hingga 27 dasarian atau sekitar delapan hingga sembilan bulan.

Jika awal musim kemarau terjadi pada April, maka akhir musim kemarau diperkirakan berlangsung sekitar November hingga Desember 2026.

Perkiraan ini menjadi informasi penting bagi berbagai sektor yang bergantung pada kondisi cuaca, seperti pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga aktivitas masyarakat secara umum.

Dengan mengetahui tren perubahan musim lebih awal, berbagai pihak dapat mempersiapkan langkah antisipasi agar dampak perubahan cuaca dapat diminimalkan.

Informasi yang disampaikan BMKG juga menjadi pengingat bahwa meskipun intensitas hujan mulai menurun, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan kondisi cuaca di wilayah masing-masing.

Terkini