Pentagon Beberkan Biaya Perang AS di Iran Rp803,3 Triliun ke Kongres

Minggu, 20 September 2026 | 06:31:00 WIB
Pentagon Beberkan Biaya Perang AS di Iran Rp803,3 Triliun ke Kongres

BALANS.ID — Pentagon melaporkan biaya perang Amerika Serikat di Iran telah menembus US$45,1 miliar atau sekitar Rp803,3 triliun kepada Kongres. Angka itu belum menghitung perbaikan pangkalan militer yang rusak, sehingga total pengeluaran sesungguhnya berpotensi jauh lebih besar.

Laporan tersebut disampaikan menjelang perdebatan anggaran pertahanan di Kongres. Dua sumber yang mengetahui isi laporan menyebut angka itu terdiri dari biaya operasional perang US$43,6 miliar per 3 September, ditambah US$1,5 miliar untuk tambahan bahan bakar.

Estimasi ini bukan akuntansi penuh. Pentagon tidak memasukkan penilaian biaya perbaikan pangkalan atau bangunan yang rusak, dan tidak memberi Kongres rincian biaya tidak langsung operasi militer seperti yang diminta anggota parlemen.

Beban Terbesar Ada di Munisi

Congressional Budget Office (CBO) mencatat sebagian besar pengeluaran berasal dari belanja munisi. Penggantian munisi yang terpakai hingga 1 Agustus ditaksir US$21,7 miliar atau sekitar Rp386,5 triliun, menjadikannya komponen tunggal terbesar dalam biaya yang ditanggung Departemen Pertahanan.

Pemulihan stok munisi AS bisa memakan waktu lima tahun atau lebih. CBO juga memperkirakan perang masih menelan sekitar US$2 miliar sampai US$3 miliar per bulan setelah 1 Agustus, dengan biaya lebih tinggi pada periode pertempuran meningkat.

Estimasi CBO dan Hegseth Berbeda Jauh

Angka Pentagon ini berbeda dari estimasi sebelumnya. CBO memperkirakan biaya perang sekitar US$38 miliar hingga 1 Agustus, juga tanpa biaya perbaikan fasilitas AS yang rusak. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut US$37,5 miliar hingga 21 Juli dalam kesaksian di Komite Angkatan Bersenjata Senat.

Selisih angka itu muncul karena metode dan periode waktu yang berbeda. CBO menolak menyajikan akuntansi penuh biaya perang seperti yang diminta anggota parlemen, dengan alasan keterbatasan data yang tersedia.

"Estimasi yang diminta untuk dibuat CBO untuk setiap kategori biaya adalah hasil analisis terpisah yang mencerminkan data, metode, periode waktu, dan besaran ketidakpastian yang berbeda. Karena itu, estimasi tiap kategori tidak dapat dibandingkan atau dijumlahkan secara langsung," tulis CBO dalam surat kepada Kongres.

Dampak ke Ekonomi AS

Di sisi ekonomi, CBO memperkirakan perang menambah inflasi AS sekitar 0,5 poin persentase pada kuartal I 2027. Pemicu utamanya adalah biaya energi yang lebih tinggi akibat berkurangnya pengiriman minyak dan gas alam lewat Selat Hormuz serta gangguan pelayaran di Laut Merah.

Gangguan itu semakin intens sejak analisis dasar surat CBO selesai. Artinya, angka inflasi 0,5 poin persentase bisa saja belum menangkap eskalasi terbaru.

Kritik dari Demokrat

CBO merilis estimasi tersebut atas permintaan Demokrat di Komite Anggaran DPR AS yang mendesak rincian biaya perang. Anggota teratas Demokrat di komite itu, Brendan Boyle, menyoroti korban jiwa di pihak militer AS.

"Di luar korban manusia itu, laporan CBO yang nonpartisan ini menegaskan bahwa perang tersebut juga telah menghabiskan uang pembayar pajak Amerika puluhan miliar dolar dan terus bertambah, sambil terus mendorong kenaikan biaya," kata Boyle.

Perdebatan soal transparansi biaya perang diperkirakan berlanjut saat Kongres membahas anggaran pertahanan berikutnya. Sampai sekarang, belum ada rincian resmi soal berapa lama operasi militer AS di Iran akan berlangsung.

Terkini