Minyak

Harga Minyak Turun Satu Persen Timah Melesat 5% Global

Harga Minyak Turun Satu Persen Timah Melesat 5% Global
Harga Minyak Turun Satu Persen Timah Melesat 5% Global

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas global kembali menunjukkan dinamika yang kontras pada penutupan perdagangan Selasa 24 Februari. 

Di satu sisi, minyak mentah mengalami tekanan dan terkoreksi sekitar satu persen. Di sisi lain, logam seperti timah justru melesat signifikan hingga lebih dari lima persen.

Sentimen geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar energi. Pernyataan Iran yang menyatakan kesiapan mengambil langkah untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat meredakan kekhawatiran eskalasi konflik. Hal itu terjadi setelah beberapa minggu peningkatan aktivitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup pada USD 70,77 per barel, turun 1 persen. Harga minyak mentah WTI berjangka juga turun 1 persen, ditutup pada USD 65,63. Pelemahan ini mencerminkan respons pasar terhadap potensi meredanya ketegangan geopolitik yang sebelumnya menopang harga.

Penurunan harga minyak mentah menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan diplomatik. Ketika risiko gangguan pasokan dinilai menurun, pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung. Dampaknya, harga terkoreksi meski fundamental permintaan belum banyak berubah.

Minyak Mentah Tertekan Sentimen Geopolitik

Pergerakan Brent dan WTI yang sama sama turun satu persen memperlihatkan sentimen global yang seragam. Pasar energi merespons cepat setiap sinyal yang berkaitan dengan potensi tambahan pasokan dari negara produsen. Jika kesepakatan tercapai, sanksi terhadap Iran berpeluang dilonggarkan sehingga suplai minyak dunia bertambah.

Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan keseimbangan pasokan dan permintaan akan berubah. Meski belum ada keputusan final, ekspektasi sudah cukup untuk menekan harga. Fluktuasi ini menjadi pengingat bahwa faktor politik internasional kerap memengaruhi stabilitas harga energi.

Selain minyak mentah, komoditas energi lain juga mengalami tekanan. Harga batu bara ICE Newcastle melemah pada penutupan perdagangan Selasa. Berdasarkan situs Barchart, harga batu bara untuk kontrak Maret 2026 turun 1,17 persen dan berada di harga USD 118 per ton.

Pelemahan batu bara menunjukkan adanya tekanan permintaan atau penyesuaian ekspektasi pasar. Sebagai sumber energi utama di berbagai negara, batu bara tetap dipantau ketat oleh pelaku industri. Perubahan harga sedikit saja dapat berdampak pada perhitungan biaya pembangkit listrik dan industri berat.

Batu Bara Dan CPO Bergerak Melemah

Selain batu bara, minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil CPO juga mencatatkan penurunan. Harga CPO berjangka Malaysia kembali turun pada Selasa. Berdasarkan situs tradingeconomics, harga CPO menjadi sekitar MYR 4.080 per ton.

Penurunan harga CPO dapat dipengaruhi oleh faktor pasokan global dan pergerakan mata uang. Pasar komoditas pertanian sering kali bergerak mengikuti dinamika cuaca, produksi, dan permintaan ekspor. Koreksi harga ini menjadi perhatian bagi negara produsen utama yang menggantungkan devisa dari ekspor sawit.

Meski demikian, tidak semua komoditas bergerak di zona merah. Logam dasar justru menunjukkan penguatan yang cukup solid. Harga nikel terpantau mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Selasa.

Nikel berdasarkan London Metal Exchange LME melesat 3,62 persen menjadi USD 17.909 per ton. Kenaikan ini memperlihatkan adanya minat beli yang kuat di pasar logam, seiring prospek permintaan dari sektor industri dan energi terbarukan.

Logam Dasar Menguat Dipimpin Nikel

Penguatan nikel sering dikaitkan dengan kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik. Permintaan global terhadap kendaraan listrik yang terus bertumbuh memberikan sentimen positif bagi logam ini. Investor memanfaatkan momentum tersebut untuk masuk ke pasar.

Lonjakan harga nikel juga menunjukkan bahwa pasar logam memiliki dinamika tersendiri yang tidak selalu sejalan dengan energi. Ketika minyak dan batu bara melemah, logam bisa saja menguat karena faktor fundamental yang berbeda. Hal ini menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha.

Pergerakan paling mencolok terjadi pada timah. Harga timah juga terpantau naik pada penutupan perdagangan Selasa. Berdasarkan situs London Metal Exchange LME, harga timah meroket 5,41 persen dan menetap di USD 50.300 per ton.

Kenaikan lebih dari lima persen dalam sehari menunjukkan sentimen yang sangat kuat. Timah banyak digunakan dalam industri elektronik dan manufaktur, sehingga permintaannya sensitif terhadap perkembangan ekonomi global. Ketika ekspektasi permintaan meningkat, harga bisa melonjak tajam.

Timah Melesat Tajam Di Atas Lima Persen

Lonjakan harga timah ke level USD 50.300 per ton menjadi sorotan utama di antara komoditas lainnya. Pergerakan ini menandakan adanya dorongan signifikan dari sisi permintaan maupun faktor spekulatif. Pasar logam sering kali mengalami volatilitas tinggi karena keterbatasan pasokan global.

Kenaikan tajam timah dan nikel sekaligus memberi gambaran bahwa sektor logam sedang berada dalam fase positif. Kondisi ini berbeda dengan energi dan komoditas perkebunan yang justru terkoreksi. Divergensi tersebut memperlihatkan kompleksitas pasar komoditas dunia.

Secara keseluruhan, perdagangan Selasa menunjukkan pergerakan yang beragam. Minyak mentah dan batu bara melemah, CPO turun, sementara nikel dan timah menguat signifikan. Kombinasi ini mencerminkan bagaimana setiap komoditas dipengaruhi faktor spesifik masing masing.

Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan geopolitik, kebijakan ekonomi, serta prospek permintaan global. Setiap pernyataan atau data baru dapat memicu perubahan harga dalam waktu singkat. Dengan dinamika seperti ini, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan komoditas dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index