Listrik

Tarif Listrik Picu Inflasi Tertinggi NTT Februari 2026 Versi BI

Tarif Listrik Picu Inflasi Tertinggi NTT Februari 2026 Versi BI
Tarif Listrik Picu Inflasi Tertinggi NTT Februari 2026 Versi BI

JAKARTA - Tekanan harga di daerah sering kali dipengaruhi faktor yang tak selalu terlihat secara kasat mata. 

Di Nusa Tenggara Timur, lonjakan inflasi tahunan pada Februari 2026 ternyata bukan semata akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Komponen energi, khususnya tarif listrik, menjadi penyumbang terbesar dalam pergerakan angka inflasi tersebut.

Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur mencatat tarif listrik sebagai penyumbang inflasi tahunan (year on year/yoy) yang tertinggi di Provinsi NTT pada Februari 2026. Kepala Perwakilan BI NTT, Adidoyo Prakoso, menjelaskan lonjakan inflasi tahunan ini dipengaruhi faktor base effect dari kebijakan diskon tarif listrik 50 persen yang diberikan pemerintah pada Januari–Februari 2025.

"Karena pada periode yang sama tahun lalu tarif listrik lebih rendah akibat insentif, maka secara tahunan terlihat terjadi kenaikan signifikan," kata Adidoyo dalam Forum Sasando Dia yang digelar Kantor Perwakilan BI NTT, Senin (2/3/2026).

Fenomena ini menunjukkan bahwa perbandingan tahunan bisa menciptakan kesan lonjakan tajam, padahal secara struktural tekanan harga tidak sepenuhnya berasal dari kenaikan baru. Efek basis tersebut membuat angka inflasi terlihat lebih tinggi dibanding kondisi normal.

Dampaknya Bersifat Temporer

Ia menerangkan inflasi NTT pada Februari 2026 tercatat 3,42 persen (yoy), meningkat dibandingkan Januari 2026 sebesar 3,34 persen (yoy). Kenaikan tersebut terutama dipicu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Namun demikian ia memastikan dampaknya bersifat temporer dan akan kembali normal pada Maret 2026 dan tekanan harga secara umum masih terkendali atau berada dalam kisaran sasaran nasional. Pihaknya mencatat tanpa memasukkan komponen tarif listrik, inflasi NTT sebenarnya hanya 1,72 persen (yoy).

"Angka ini menunjukkan tekanan harga di luar komponen energi relatif terjaga," ungkapnya.

Penjelasan tersebut menegaskan bahwa lonjakan inflasi lebih banyak disebabkan oleh faktor teknis perbandingan tahunan, bukan oleh kenaikan luas pada berbagai komoditas. Dengan demikian, kondisi harga di luar sektor energi masih relatif stabil.

Inflasi Tetap Dalam Sasaran Nasional

Pada saat yang sama ia memaparkan capaian inflasi sepanjang 2025 yang sebesar 2,39 persen. Angka ini disebutnya masih mencakup sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen dan mencerminkan stabilitas harga yang sangat baik pasca pandemi Covid-19.

"Ini terjaga seiring pertumbuhan ekonomi NTT yang mencapai 5,14 persen, tertinggi pascapandemi," kata dia.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa meskipun terjadi kenaikan pada Februari 2026, secara keseluruhan stabilitas harga di NTT tetap berada dalam koridor yang sehat. Pertumbuhan ekonomi yang solid turut menopang daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.

Adidoyo menegaskan pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas melalui penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Pengendalian ini melalui pemantauan harga dan pasokan pangan, serta pelaksanaan pasar murah menjelang hari besar keagamaan nasional.

Waspadai Risiko Pangan dan Global

BI memproyeksikan inflasi NTT sepanjang 2026 tetap berada dalam sasaran, meski tetap mewaspadai risiko dari kelompok pangan yang memiliki volatilitas tinggi serta dinamika harga komoditas global.

"Dengan sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan penguatan sektor riil, stabilitas harga diharapkan tetap terjaga di tengah momentum pertumbuhan ekonomi NTT yang semakin menguat," jelasnya.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya koordinasi lintas kebijakan untuk menjaga keseimbangan harga. Selain faktor energi, fluktuasi harga pangan dan kondisi global tetap menjadi variabel yang perlu dicermati sepanjang tahun.

Kepala DJPb NTT Adi Setiawan dalam forum yang sama menyebut belanja pemerintah berkontribusi lebih dari 21 persen terhadap PDRB NTT, sehingga kebijakan fiskal berperan penting menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi daerah.

Sinergi Kebijakan Jaga Stabilitas Daerah

Dengan kontribusi belanja pemerintah yang signifikan terhadap perekonomian daerah, kebijakan fiskal menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas. Dukungan belanja negara yang tepat sasaran dapat membantu meredam tekanan harga sekaligus mendorong pertumbuhan.

Forum Sasando Dia yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT menjadi ruang diskusi strategis untuk membahas perkembangan ekonomi terkini. Melalui forum tersebut, berbagai pemangku kepentingan dapat menyelaraskan langkah dalam menghadapi dinamika inflasi.

Secara keseluruhan, lonjakan inflasi tahunan pada Februari 2026 di Nusa Tenggara Timur lebih dipengaruhi faktor base effect dari kebijakan diskon tarif listrik tahun sebelumnya. Tekanan harga di luar komponen energi masih relatif terkendali dan berada dalam sasaran nasional.

Dengan sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang terus diperkuat, stabilitas harga diharapkan tetap terjaga sepanjang 2026. Pemerintah daerah bersama otoritas terkait akan terus memantau perkembangan harga agar pertumbuhan ekonomi NTT dapat berjalan seimbang dengan daya beli masyarakat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index