Kripto

Harga Aset Kripto Dunia Anjlok Transaksi Indonesia Ikut Turun

Harga Aset Kripto Dunia Anjlok Transaksi Indonesia Ikut Turun
Harga Aset Kripto Dunia Anjlok Transaksi Indonesia Ikut Turun

JAKARTA - Tekanan yang melanda pasar kripto global kini berdampak langsung ke dalam negeri. 

Ketika harga berbagai aset digital babak belur di pasar internasional, aktivitas perdagangan di Indonesia ikut melambat. Data terbaru menunjukkan adanya perlambatan baik dari sisi jumlah investor maupun nilai transaksi. Kondisi ini mencerminkan keterkaitan erat antara dinamika global dan pasar domestik.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat terjadi penurunan jumlah investor dan transaksi aset kripto di Indonesia. Hal ini seiring dengan tren pelemahan harga sejumlah aset kripto utama di pasar global. Koreksi harga yang tajam membuat sebagian investor bersikap lebih hati hati. Sentimen negatif global pun merembet ke pasar nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi mengatakan jumlah konsumen aset kripto mencapai 20,7 juta konsumen per Januari 2026. Jumlah itu sedikit menurun dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai 20,19 juta. Data tersebut menunjukkan dinamika partisipasi masyarakat dalam investasi kripto.

"Terkait perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per Januari 2026 jumlah konsumen mencapai 20,7 juta konsumen atau tumbuh 2,56% month to date," kata Hasan dalam konferensi pers bulanan di Gedung OJK Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Selasa 3 Maret 2026. Pernyataan ini menegaskan bahwa meski ada tekanan, pertumbuhan bulanan masih tercatat.

Transaksi Kripto Ikut Melandai

Selain jumlah investor, nilai transaksi juga menunjukkan penurunan. Kemudian nilai transaksi aset kripto tercatat Rp 29,24 triliun dan nilai transaksi derivatif dari aset keuangan digital Rp 8,01 triliun. Angka tersebut menggambarkan aktivitas perdagangan yang tetap berjalan namun melemah. Investor cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian.

Jumlah tersebut juga turun jika dibandingkan transaksi pada Desember 2025 yang sebesar Rp 32,68 triliun. Penurunan ini menjadi indikator bahwa volatilitas global memengaruhi minat transaksi domestik. Ketika harga bergejolak, kecenderungan pelaku pasar adalah mengurangi eksposur.

"Tentu ini sejalan dengan tren penurunan harga sejumlah aset kripto utama di kawasan global," jelas Hasan. Penegasan ini memperlihatkan korelasi langsung antara pasar internasional dan Indonesia. Pergerakan harga global menjadi faktor dominan yang membentuk sentimen lokal.

Tekanan Global Picu Aksi Jual

Sebelumnya diberitakan, sejumlah aset kripto utama dalam tren penurunan sejak beberapa waktu terakhir. Tekanan tersebut tidak terjadi secara tiba tiba, melainkan berlangsung bertahap. Koreksi harga semakin dalam seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Terbaru, penurunan terjadi usai serangan Amerika Serikat AS dan Israel terhadap Iran. Eskalasi konflik ini mengguncang pasar keuangan global. Investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

Khusus Bitcoin, harganya telah merosot ke bawah level US$ 64.000 seiring intensitas aksi jual karena keraguan investor tentang kripto meningkat. Bitcoin telah turun hampir 30% selama setahun terakhir. Penurunan tajam ini menjadi sorotan utama pasar.

Koreksi harga Bitcoin kerap menjadi barometer sentimen pasar kripto secara keseluruhan. Ketika Bitcoin melemah signifikan, aset kripto lain biasanya ikut tertekan. Fenomena ini kembali terlihat dalam beberapa pekan terakhir.

Sentimen Pesimisme Meningkat

"Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan bahwa investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat," kata analis Deutsche Bank, Marion Laboure dalam catatan kepada kliennya. Pernyataan ini menggambarkan kekhawatiran dari kalangan analis global.

Pandangan tersebut memperkuat sinyal bahwa pasar kripto sedang menghadapi fase penuh tekanan. Aksi jual yang konsisten menunjukkan adanya perubahan persepsi risiko. Investor yang sebelumnya agresif kini lebih berhati hati.

Meski demikian, dinamika pasar kripto dikenal sangat fluktuatif. Fase koreksi tajam sering kali diikuti periode konsolidasi atau pemulihan. Namun untuk jangka pendek, sentimen global masih menjadi penentu utama arah pergerakan harga.

Keterkaitan Pasar Global Dan Domestik

Data dari OJK menunjukkan bahwa pasar kripto Indonesia tidak terlepas dari dinamika global. Penurunan harga internasional berdampak pada transaksi domestik. Hal ini mencerminkan integrasi pasar digital yang semakin kuat.

Dengan jumlah konsumen mencapai 20,7 juta, basis investor kripto di Indonesia tetap besar. Namun nilai transaksi yang menurun mengindikasikan adanya sikap wait and see. Investor cenderung menunggu stabilitas sebelum kembali meningkatkan aktivitas perdagangan.

Ke depan, pergerakan harga aset kripto dunia akan tetap menjadi faktor kunci. Selama tekanan global dan ketidakpastian geopolitik belum mereda, volatilitas diperkirakan masih tinggi. Pasar domestik pun kemungkinan besar akan terus bergerak mengikuti arus sentimen internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index