BBM

Perbandingan Cadangan BBM Negara ASEAN Saat Indonesia Miliki Stok Sekitar 23 Hari

Perbandingan Cadangan BBM Negara ASEAN Saat Indonesia Miliki Stok Sekitar 23 Hari
Perbandingan Cadangan BBM Negara ASEAN Saat Indonesia Miliki Stok Sekitar 23 Hari

JAKARTA - Ketahanan energi menjadi isu strategis yang kembali mendapat perhatian setelah jalur perdagangan minyak dan gas dunia menghadapi gangguan. 

Penutupan jalur perdagangan migas di Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak mentah global sekaligus memunculkan kekhawatiran mengenai pasokan energi di berbagai negara.

Situasi tersebut juga berdampak pada negara-negara di Asia Tenggara yang masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan domestik. Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak karena sebagian pasokan minyak mentahnya berasal dari kawasan Timur Tengah.

Di tengah dinamika tersebut, pemerintah Indonesia mengungkapkan bahwa cadangan BBM nasional saat ini berada di kisaran 23 hari. Angka ini memicu perhatian karena masih berada di bawah standar yang ditetapkan International Energy Agency (IEA), yaitu sekitar 90 hari cadangan minyak mentah atau produk BBM.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berdiri sendiri. Negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara juga memiliki tingkat cadangan energi yang berbeda-beda, bergantung pada kebijakan nasional, kapasitas penyimpanan, serta pola impor energi masing-masing.

Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Pasokan Energi

Penutupan jalur perdagangan minyak dan gas di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar global. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute paling penting dalam perdagangan energi dunia karena dilalui jutaan barel minyak setiap hari.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa sekitar 20% hingga 25% minyak mentah yang diimpor Indonesia melewati jalur tersebut. Hal ini membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi.

Bahlil mencatat total minyak mentah global yang diperdagangkan melewati Selat Hormuz mencapai sekitar 20,1 juta barel per hari. Besarnya volume tersebut menunjukkan betapa strategisnya jalur tersebut bagi distribusi energi dunia.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, pemerintah memutuskan untuk mengalihkan sekitar 25% impor minyak mentah dari Timur Tengah. Salah satu langkah yang disiapkan adalah mulai mengimpor minyak mentah dan BBM dari Amerika Serikat.

Selain itu, pemerintah juga menilai perlu adanya peningkatan kapasitas penyimpanan energi nasional agar ketahanan energi Indonesia lebih kuat menghadapi gangguan rantai pasok global.

Cadangan BBM Indonesia Saat Ini

Saat ini cadangan BBM nasional Indonesia tercatat mampu bertahan sekitar 23 hari. Angka tersebut masih berada di bawah standar International Energy Agency (IEA) yang merekomendasikan cadangan energi setara dengan 90 hari impor bersih.

Bahlil menyampaikan bahwa kapasitas cadangan minyak mentah Indonesia saat ini hanya cukup untuk sekitar 25 hari. Kondisi ini menjadi salah satu alasan pemerintah merencanakan pembangunan tangki penyimpanan minyak mentah tambahan.

Pembangunan fasilitas penyimpanan baru tersebut diharapkan mampu memperbesar stok energi nasional. Dengan kapasitas yang lebih besar, Indonesia dapat meningkatkan cadangan minyak mentah maupun produk BBM dalam jangka waktu lebih lama.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama ketika terjadi gangguan pada jalur perdagangan global seperti yang terjadi di Selat Hormuz.

Cadangan BBM Filipina dan Thailand

Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara memiliki cadangan energi yang relatif lebih panjang dibandingkan Indonesia. Filipina, misalnya, memiliki cadangan BBM yang cukup besar berdasarkan data Departemen Energi negara tersebut per Maret 2026.

Cadangan BBM nasional Filipina tercatat mencapai sekitar 51,5 hari. Selain itu, cadangan solar mencapai 50,5 hari, minyak tanah sebesar 67,5 hari, avtur sekitar 58 hari, dan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) sebesar 29 hari.

Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr memastikan cadangan energi negaranya berada dalam kondisi aman meskipun konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi pasar global.

“Cadangan kita sekitar 50 hingga 60 hari untuk bensin, minyak bakar, dan kerosin. Kita aman untuk periode tersebut,” kata Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr dalam konferensi pers awal pekan ini.

Sementara itu, Thailand juga memiliki cadangan minyak mentah dan BBM yang cukup stabil. Mengutip The Government Public Relations Department Thailand, negara tersebut memiliki sekitar 60 hari pasokan energi.

Pemerintah Thailand juga menyiapkan fuel fund atau dana bahan bakar untuk meredam fluktuasi harga dalam jangka pendek. Langkah tersebut membantu menjaga stabilitas pasar domestik meskipun harga minyak global mengalami kenaikan.

Cadangan Energi Myanmar dan Vietnam

Myanmar juga memiliki cadangan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik dalam waktu tertentu. Bloomberg News melaporkan negara tersebut memiliki sekitar 60 juta galon bensin dan hampir 70 juta galon solar.

Jumlah tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional selama sekitar 40 hari. Konsumsi bahan bakar harian Myanmar sendiri mencapai sekitar 3,2 juta galon.

Namun, pemerintah militer Myanmar mengambil langkah pembatasan penggunaan kendaraan pribadi setelah terjadi gangguan pada jalur perdagangan migas global. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak akhir pekan lalu.

Mobil pribadi dan sepeda motor, kecuali kendaraan listrik, hanya diizinkan beroperasi di jalan raya setiap dua hari sekali berdasarkan nomor pelat kendaraan.

Plat nomor genap beroperasi pada tanggal genap, sedangkan pelat nomor ganjil diizinkan beroperasi pada tanggal ganjil. Kebijakan ini ditetapkan oleh Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional Myanmar.

Di sisi lain, Vietnam memiliki kapasitas stok minyak mentah dan BBM sekitar 56 hari impor bersih. Data tersebut berasal dari Asia Pacific Energy Research Centre (APERC).

Jumlah tersebut terdiri dari stok komersial sekitar 34 hari, stok operasional kilang selama 16 hari di fasilitas seperti Dung Quat Refinery dan Nghi Son Refinery, serta cadangan nasional pemerintah sekitar 6 hari.

Cadangan BBM Singapura hingga Timor Leste

Beberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara memiliki kebijakan cadangan energi yang berbeda-beda. Singapura, misalnya, memiliki kebijakan yang cukup ketat dalam menjaga stok energi.

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), Singapura mewajibkan perusahaan pembangkit listrik untuk menjaga stok produk minyak selama 90 hari. Kebijakan ini bertujuan memastikan pasokan energi tetap stabil.

Malaysia juga memiliki aturan terkait cadangan energi nasional. Negara tersebut mewajibkan perusahaan minyak nasional untuk memelihara cadangan operasional minyak selama 30 hari.

Sementara itu, Brunei menetapkan kewajiban cadangan operasional sekitar 31 hari yang dikhususkan untuk fasilitas kilang minyak.

Laos menerapkan dua lapisan kewajiban stok energi. Perusahaan pengimpor minyak diwajibkan memiliki cadangan selama 21 hari, sedangkan distributor harus menjaga stok sekitar 10 hari.

Di Timor Leste, pemerintah bersama perusahaan minyak nasional TIMOR GAP berencana membangun terminal impor BBM baru. Fasilitas ini ditargetkan mampu menampung sekitar 90 hari cadangan petroleum strategis serta tambahan 30 hari stok komersial.

Jika rencana tersebut terealisasi, total kapasitas penyimpanan energi Timor Leste dapat mencapai sekitar 120 hari pasokan BBM, sehingga memperkuat ketahanan energi nasional negara tersebut

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index