Minyak

Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar Per Barel Pasar Energi Global Bergejolak

Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar Per Barel Pasar Energi Global Bergejolak
Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar Per Barel Pasar Energi Global Bergejolak

JAKARTA - Pergerakan harga energi global kembali menjadi sorotan setelah pasar minyak dunia mencatat lonjakan signifikan dalam beberapa hari terakhir. 

Kenaikan harga ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mempengaruhi stabilitas pasokan minyak dunia.

Bagi banyak negara, termasuk negara yang bergantung pada impor energi, perubahan harga minyak mentah global dapat memberikan dampak luas terhadap perekonomian. Harga energi yang meningkat biasanya berpengaruh terhadap biaya produksi, transportasi, hingga harga berbagai komoditas di pasar.

Para pelaku pasar juga terus memantau situasi geopolitik yang berkembang karena faktor tersebut kerap mempengaruhi fluktuasi harga minyak. Setiap gangguan terhadap jalur distribusi atau produksi minyak global dapat memicu kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan energi.

Kondisi inilah yang mendorong harga minyak kembali menembus angka psikologis 100 dolar Amerika Serikat per barel, sebuah level yang jarang tercapai dalam beberapa tahun terakhir.

Lonjakan harga minyak dunia

Harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan tren penguatan pada akhir perdagangan Kamis waktu Amerika Serikat atau Jumat, 13 Maret 2026 waktu Indonesia.

Minyak mentah acuan global Brent tercatat menembus level 100,46 dolar Amerika Serikat per barel. Harga tersebut menjadi posisi tertinggi sejak Agustus 2022.

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate atau WTI dipatok di harga 95,73 dolar Amerika Serikat per barel.

Level tersebut menjadi harga tertinggi yang tercatat dalam empat tahun terakhir untuk minyak mentah WTI.

Kenaikan harga minyak ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Para investor memantau secara ketat perkembangan geopolitik yang dapat mempengaruhi distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Ketegangan di Selat Hormuz picu kekhawatiran pasar

Lonjakan harga minyak dunia tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk yang menjadi salah satu jalur penting perdagangan energi dunia.

Mengutip laporan BBC, kenaikan harga minyak mentah dunia terjadi setelah tiga kapal kargo kembali dihantam serangan di kawasan Teluk.

Di sisi lain, pimpinan tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan komitmennya untuk terus memblokir jalur pelayaran utama di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara.

Ancaman terhadap jalur pelayaran tersebut membuat pelaku pasar semakin khawatir mengenai potensi gangguan pasokan energi global.

Kekhawatiran tersebut turut memicu lonjakan harga minyak di pasar internasional.

Upaya pelepasan cadangan minyak global

Di tengah meningkatnya harga minyak dunia, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency berupaya mengambil langkah untuk meredam dampak kenaikan harga energi.

Pada Rabu sebelumnya, lembaga tersebut menyatakan komitmen untuk melepaskan cadangan minyak sebanyak 400 juta barel.

Langkah ini bertujuan untuk menekan dampak lonjakan harga minyak yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu meredakan kekhawatiran pasar.

Sebagian investor menilai bahwa gangguan distribusi minyak di kawasan Selat Hormuz berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Jika jalur pengiriman energi tersebut terganggu dalam waktu lama, pasokan minyak dunia dapat mengalami tekanan signifikan.

Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong harga minyak terus bergerak naik di pasar global.

Ancaman eskalasi konflik di kawasan

Situasi geopolitik yang semakin tegang juga memicu berbagai pernyataan keras dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.

Seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan bahwa setiap kapal milik Amerika Serikat, Israel, maupun sekutu mereka yang melintasi Selat Hormuz akan menjadi sasaran.

Pernyataan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran energi dunia.

Ia bahkan memperingatkan bahwa jika serangan terhadap Iran terus berlanjut, harga minyak dunia dapat melonjak jauh lebih tinggi.

“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan harga minyak akan berada di angka 200 dolar AS per barel. Harga minyak bergantung pada keamanan regional, dan Anda adalah sumber utama ketidakamanan di kawasan ini,” katanya, dikutip Jumat.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi meningkat.

Situasi ini membuat pasar energi global berada dalam kondisi yang cukup sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.

Potensi gangguan pasokan minyak global

Badan Energi Internasional juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Kondisi tersebut dipicu oleh keputusan beberapa negara produsen minyak untuk memangkas produksi secara signifikan.

Beberapa negara yang terlibat dalam kebijakan tersebut antara lain Irak, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi.

Secara keseluruhan, pemangkasan produksi tersebut diperkirakan mencapai setidaknya 10 juta barel minyak per hari.

Pengurangan produksi dalam jumlah besar tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia.

Selain itu, pemulihan produksi minyak diperkirakan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

“Produksi akan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan, dalam beberapa kasus, berbulan-bulan untuk kembali ke tingkat sebelum krisis, tergantung pada tingkat kompleksitas lapangan dan waktu kembalinya pekerja, peralatan, dan sumber daya ke wilayah tersebut,” kata IEA.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi global kemungkinan masih akan menghadapi ketidakpastian dalam beberapa waktu ke depan.

Jika gangguan pasokan terus berlanjut, harga minyak dunia berpotensi tetap berada pada level tinggi hingga situasi geopolitik kembali stabil

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index