JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pada pembukaan perdagangan hari ini.
Di tengah dinamika global yang masih bergejolak, rupiah justru menunjukkan pelemahan saat sebagian besar mata uang Asia lainnya bergerak menguat. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah pada level Rp16.917 pada perdagangan hari ini, Rabu 25 Maret 2026. Rupiah dibuka melemah ketika mata uang Asia lainnya menguat.
Pergerakan ini menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara rupiah dan tren regional. Meskipun indeks dolar AS mengalami pelemahan, rupiah tetap berada dalam tekanan pada awal sesi perdagangan.
Pergerakan Mata Uang Asia Pasifik Bervariasi
Sejumlah mata uang kawasan Asia Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan pagi ini. Yen Jepang dibuka stagnan, begitu juga dengan dolar Hong Kong yang tidak menunjukkan perubahan berarti.
Di sisi lain, beberapa mata uang justru mencatatkan penguatan. Dolar Singapura menguat 0,02%, sementara dolar Taiwan naik 0,24% dan won Korea Selatan melonjak 0,43%.
Pergerakan positif juga terlihat pada mata uang lainnya di kawasan. Peso Filipina naik 0,01%, yuan China menguat 0,09%, ringgit Malaysia menguat 0,09%, dan baht Thailand naik 0,20% pagi ini.
Variasi pergerakan ini mencerminkan kondisi pasar regional yang masih dinamis. Namun, posisi rupiah yang melemah di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia menjadi perhatian tersendiri bagi pelaku pasar.
Tekanan Rupiah Sudah Diprediksi Sebelumnya
Sebelumnya, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah diprediksi mengalami tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan pascalibur panjang Idulfitri 1447 Hijriah, Selasa (24/3/2026).
Sentimen eksternal diperkirakan bakal membayangi pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot sepanjang pekan ini. Hal ini sejalan dengan kondisi pasar yang baru kembali aktif setelah masa libur Lebaran yang cukup panjang.
Menurutnya, mata uang Garuda akan diperdagangkan pada rentang Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan adanya potensi pelemahan lanjutan dalam jangka pendek.
Proyeksi tersebut menjadi acuan bagi pelaku pasar dalam membaca arah pergerakan rupiah. Tekanan yang terjadi saat ini dinilai masih sesuai dengan ekspektasi sebelumnya.
Penguatan Dolar AS Jadi Faktor Utama Tekanan
Tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari potensi penguatan indeks dolar AS. Diperkirakan, indeks dolar akan bergerak di kisaran 98,73 hingga 101,20 dalam waktu dekat.
“Dalam perdagangan pekan ini, indeks dolar kemungkinan kembali menguat menuju level 101,20. Kecil kemungkinan terjadi pelemahan ke area support 98,73,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dolar AS masih memiliki ruang penguatan yang cukup besar. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Penguatan dolar biasanya berdampak langsung terhadap tekanan nilai tukar domestik. Hal ini terjadi karena arus modal cenderung kembali ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman.
Kebijakan Suku Bunga Global Perkuat Dolar
Dia menilai, keperkasaan dolar AS dipicu oleh sikap bank sentral global yang tetap mempertahankan suku bunga tinggi atau hawkish guna meredam inflasi.
Kebijakan ini membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan mendorong penguatannya di pasar internasional.
Selain itu, perbedaan kebijakan moneter antarnegara juga turut memengaruhi arus modal. Negara dengan suku bunga lebih tinggi cenderung menarik lebih banyak investasi asing.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang. Rupiah pun tidak terlepas dari dampak kebijakan global tersebut.
Lonjakan Harga Energi Tambah Tekanan Rupiah
Kondisi tekanan terhadap rupiah diperparah oleh lonjakan harga energi global. Minyak mentah jenis Brent diprediksi menembus ke kisaran US$110 hingga US$116 per barel.
Kenaikan harga energi ini berpotensi meningkatkan beban impor bagi negara-negara berkembang. Dampaknya, tekanan terhadap nilai tukar domestik semakin besar.
Selain itu, lonjakan harga energi juga dapat memicu inflasi yang lebih tinggi. Hal ini membuat kebijakan ekonomi menjadi lebih kompleks dan menantang.
Dengan berbagai faktor yang saling berpengaruh, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan. Pelaku pasar pun diharapkan tetap waspada terhadap dinamika global yang terus berkembang.