JAKARTA - Pembangunan kota tidak lagi sekadar berbicara soal kecepatan dan kuantitas, tetapi juga kualitas serta keberlanjutan.
Inilah sudut pandang yang kini ditekankan Pemerintah Kota Medan dalam menata wilayahnya. Ketahanan infrastruktur dan keindahan visual diposisikan sebagai fondasi utama untuk membentuk wajah kota yang rapi, nyaman, dan berdaya saing tinggi sebagai kota metropolitan.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas menilai bahwa kemajuan sebuah kota sangat ditentukan oleh bagaimana infrastruktur dibangun dan dirawat. Jalan, trotoar, hingga vegetasi bukan hanya fasilitas penunjang aktivitas warga, tetapi juga cerminan tata kelola kota yang modern dan berstandar tinggi.
Ketahanan dan keindahan jadi satu kesatuan pembangunan
Rico Waas menegaskan bahwa ketahanan dan keindahan infrastruktur merupakan elemen penting yang tidak dapat dipisahkan. Infrastruktur yang kuat namun tidak tertata rapi akan mengurangi nilai estetika kota, begitu pula sebaliknya. Karena itu, pembangunan harus dirancang dengan perencanaan matang sejak awal.
“Kemajuan kota sangat bergantung pada kerapian infrastruktur jalan, trotoar, dan vegetasi,” ujar dia di Medan, Ahad. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa estetika kota bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.
Menurutnya, infrastruktur yang tertata baik akan menciptakan kenyamanan bagi masyarakat sekaligus meningkatkan citra kota di mata investor dan wisatawan. Dengan demikian, pembangunan fisik harus diarahkan untuk memberikan manfaat berlapis bagi kehidupan kota.
Penyeragaman infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah
Meski pembangunan terus berjalan, Rico Waas mengakui masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan. Salah satunya adalah penyeragaman desain dan ukuran infrastruktur di berbagai wilayah Kota Medan. Hingga kini, masih ditemukan perbedaan yang cukup mencolok antara satu kawasan dengan kawasan lainnya.
Ia menyebut bahwa ukuran dan desain pada pembangunan infrastruktur masih ada yang belum selaras dengan standarisasi estetika. Kondisi ini dinilai dapat menghambat upaya mewujudkan Medan sebagai kota metropolitan yang sesungguhnya.
“Kami menginginkan agar transformasi Medan menuju kota metropolitan yang sesungguhnya dengan standar estetika yang tinggi dapat segera terwujud,” kata dia. Karena itu, pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, tidak hanya di pusat kota tetapi juga hingga wilayah pinggiran.
Standar jalan dan trotoar harus jelas dan konsisten
Untuk mewujudkan penataan kota yang seragam, Rico Waas meminta agar ruas jalan dan trotoar memiliki standar ukuran yang jelas. Standarisasi ini akan diterapkan mulai dari inti kota hingga area pinggiran agar tidak terjadi kesenjangan kualitas infrastruktur antarwilayah.
Selain ukuran, desain trotoar juga menjadi perhatian utama. Ia menilai trotoar tidak hanya berfungsi sebagai jalur pejalan kaki, tetapi juga elemen visual kota yang harus nyaman, aman, dan enak dipandang. Trotoar yang tertata baik akan mendorong budaya berjalan kaki serta mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor.
Ia juga menyoroti kondisi trotoar yang kerap rusak akibat pertumbuhan pohon yang tidak terkontrol. Permasalahan ini perlu ditangani secara serius agar tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.
Vegetasi kota perlu perencanaan matang dan berkelanjutan
Dalam konteks penataan kota, vegetasi menjadi aspek penting yang tidak bisa diabaikan. Rico Waas menyebut bahwa vegetasi juga menjadi pekerjaan rumah pemerintah kota yang harus diselesaikan secepat mungkin. Penanaman pohon tidak boleh dilakukan tanpa kajian yang matang.
Ia meminta jajarannya untuk merencanakan dan melakukan kajian terhadap jenis tanaman yang akan ditanam di ruang-ruang publik. Pemilihan tanaman harus mempertimbangkan daya tahan, sistem perakaran, serta kemudahan perawatan agar tidak merusak infrastruktur di sekitarnya.
“Dinas Lingkungan Hidup harus memastikan tanaman yang digunakan bagaimana perawatannya, harus yang keras dan kuat, namun tetap memunculkan keindahan,” kata dia. Dengan perencanaan yang tepat, vegetasi dapat menjadi elemen peneduh sekaligus mempercantik wajah kota.
Kolaborasi lintas dinas cegah pemborosan anggaran
Dalam pelaksanaan pembangunan, Rico Waas menekankan pentingnya kerja terintegrasi antarperangkat daerah. Ia mengingatkan agar ego sektoral dihindari karena dapat menyebabkan proyek dikerjakan berulang kali di lokasi yang sama, sehingga tidak efisien.
Ia menegaskan bahwa seluruh pekerjaan seharusnya dapat dilakukan dalam satu perencanaan terpadu. Dengan demikian, pembongkaran yang berulang dapat dihindari dan anggaran dapat digunakan secara lebih optimal.
“Kalau bisa semuanya sekali jalan. Jangan berulang-ulang dibongkar. Penganggaran harus konkret, efektif, dan efisien. Kita harus melakukan penghematan dengan perencanaan yang matang,” katanya dalam suatu acara yang diikuti para kepala dinas di lingkungan pemerintah kota setempat.
Pengawasan ketat demi kualitas infrastruktur jangka panjang
Selain perencanaan dan koordinasi, pengawasan menjadi faktor krusial dalam menjamin kualitas pembangunan. Rico Waas menginstruksikan Inspektorat untuk mengawasi setiap vendor yang terlibat agar tidak ada proyek yang dikerjakan setengah-setengah.
Ia menegaskan bahwa pengerjaan asal-asalan tidak dapat ditoleransi karena akan berdampak pada umur infrastruktur. Infrastruktur yang dibangun dengan kualitas rendah akan cepat rusak dan menimbulkan biaya perbaikan berulang di masa depan.
“Saya tidak mau pengerjaan yang asal-asalan. Vendor harus memberikan kualitas terbaik agar infrastruktur kita berumur panjang. Ini demi masa depan Kota Medan,” ujarnya. Dengan pengawasan ketat dan komitmen bersama, Pemkot Medan berharap dapat mewujudkan kota yang tidak hanya indah, tetapi juga tangguh dan berkelanjutan.