JAKARTA - Meski harga batu bara sempat terjun bebas pada 2024 akibat penurunan produksi di India, beberapa konglomerat Indonesia tetap menorehkan kekayaan signifikan dari sektor ini.
Pada Desember 2024, harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak Januari 2025 berada di US$136 per ton, turun 2,1% dari posisi sebelumnya. Kondisi ini menegaskan bahwa penguasaan aset tambang yang strategis tetap bisa menghasilkan keuntungan besar, bahkan saat pasar global sedang fluktuatif.
Para pengusaha ini memanfaatkan kapasitas produksi dan manajemen perusahaan yang solid, sehingga mampu menjaga arus kas dan valuasi perusahaan tetap tinggi. Mereka tidak hanya berfokus pada pasar domestik, tetapi juga ekspansi internasional melalui anak perusahaan maupun akuisisi tambang di luar negeri.
Low Tuck Kwong: Pemilik Bayang Resources
Low Tuck Kwong dikenal sebagai pengusaha yang mendirikan PT Bayang Resources, perusahaan batu bara dengan kapitalisasi terbesar di bursa domestik. Kekayaannya menembus US$24,9 miliar per akhir tahun 2024 menurut Forbes, menempatkannya di posisi ke-4 orang terkaya Indonesia. Strategi investasi Low berfokus pada pengembangan tambang dengan efisiensi produksi tinggi, sehingga perusahaan tetap kompetitif meski harga global turun.
Kecermatan Low dalam mengelola aset tambang membuat Bayang Resources tetap menjadi pemain utama di pasar domestik. Perusahaan juga terus mengembangkan proyek baru dan memperluas jaringan distribusi, menjaga posisi strategis di sektor batu bara nasional.
Keluarga Widjaja: Pengendali Sinar Mas Group
Keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja menguasai Sinar Mas Group, salah satu konglomerat terbesar Indonesia. Mereka memiliki PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang bergerak di bidang energi dan infrastruktur. Anak usaha DSSA, Golden Energy and Resources Ltd. (GEAR), memiliki tambang di Australia dan mengakuisisi aset tambang Stanmore Coal.
Kekayaan keluarga Widjaja mencapai US$28,3 miliar per akhir tahun 2025 versi Forbes. Diversifikasi bisnis yang luas membuat mereka tidak hanya bergantung pada batu bara, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang global di sektor energi dan pertambangan. Investasi internasional menjadi kunci stabilitas pendapatan mereka.
Garibaldi Thohir: Pendiri Adaro Energy
Garibaldi Thohir mendirikan PT Adaro Energy Indonesia Tbk bersama Theodore Permadi Rachmat dan Edwin Soeryadjaya. Adaro Energy menjadi emiten raksasa yang melantai di bursa pada 2008 dan mencatatkan dana IPO terbesar pada saat itu. Kekayaan Garibaldi pada 2025 tercatat US$3,8 miliar (Rp 64,2 triliun).
Keberhasilan Garibaldi tidak lepas dari strategi perusahaan yang berfokus pada efisiensi operasional dan ekspansi tambang. Adaro Energy memiliki portofolio tambang yang tersebar di beberapa provinsi, sehingga mampu mengurangi risiko pasokan dan harga global.
Kiki Barki: Pendiri Harum Energi
Kiki Barki mendirikan PT Harum Energi (HRUM) pada 1995 dan mengembangkan tambang swasta Tanito Harum. Anak sulungnya, Lawrence Barki, menjadi presiden komisaris Harum, sementara anak bungsunya juga menempati posisi strategis. Kekayaan Kiki pada 2024 tercatat US$1,3 miliar (Rp 21,9 triliun).
Keberhasilan Kiki didukung manajemen keluarga yang kuat dan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan. Tambang yang dikelola secara profesional memungkinkan perusahaan tetap produktif meski harga batu bara global mengalami tekanan.
Edwin Soeryadjaya: Dari Keuangan ke Tambang Batu Bara
Edwin Soeryadjaya, yang pernah mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk bersama Sandiaga Uno, juga menekuni bisnis batu bara. Ia terlibat dalam pendirian Pama Persada, seiring dengan sepupunya yang aktif di Astra dan industri pertambangan. Kekayaannya pada 2025 tercatat US$1,2 miliar (Rp 20,2 triliun).
Strategi Edwin memadukan pengalaman di sektor keuangan dan pertambangan untuk mengelola risiko harga dan ekspansi aset. Pendekatan ini membantu perusahaan tetap kompetitif di tengah fluktuasi pasar global.
Batu Bara Sebagai Sumber Kekayaan Strategis
Kelima konglomerat ini menunjukkan bahwa batu bara tetap menjadi sumber kekayaan strategis di Indonesia.
Mereka mampu mempertahankan posisi meski harga global berfluktuasi, dengan mengandalkan manajemen aset, diversifikasi, dan ekspansi internasional. Keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa penguasaan sumber daya alam dapat menjamin stabilitas ekonomi dan peluang pertumbuhan yang signifikan.