BI Buka Peluang Turunkan Suku Bunga Didukung Inflasi Inti Tetap Rendah Nasional

Rabu, 28 Januari 2026 | 09:21:38 WIB
BI Buka Peluang Turunkan Suku Bunga Didukung Inflasi Inti Tetap Rendah Nasional

JAKARTA - Kondisi perekonomian nasional kembali mendapat sorotan seiring pernyataan Bank Indonesia (BI) yang masih membuka peluang penurunan suku bunga acuan ke depan. 

Sikap ini menunjukkan komitmen bank sentral dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Dengan inflasi inti yang tetap terjaga pada level rendah, ruang kebijakan moneter yang lebih longgar dinilai masih tersedia untuk mendorong aktivitas ekonomi nasional agar bergerak lebih kuat dan berkelanjutan dalam beberapa waktu mendatang.

Dalam berbagai kesempatan, BI menegaskan bahwa kebijakan suku bunga tidak diambil secara tergesa-gesa. Setiap keputusan dirumuskan dengan mempertimbangkan dinamika makroekonomi secara menyeluruh. 

Fokus utama tetap pada upaya menjaga stabilitas harga, mengendalikan nilai tukar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi agar mendekati potensi optimalnya. Kombinasi ketiga faktor ini menjadi fondasi utama arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Inflasi Inti Jadi Penopang Ruang Pelonggaran Kebijakan

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa inflasi inti menjadi indikator fundamental dalam membaca kondisi perekonomian nasional. Inflasi inti mencerminkan kemampuan kapasitas ekonomi dalam memenuhi permintaan domestik secara berkelanjutan. Oleh karena itu, indikator ini selalu menjadi perhatian utama BI dalam merumuskan kebijakan moneter, termasuk terkait arah suku bunga acuan.

“Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat 2,38%. Angka ini relatif rendah karena masih di bawah titik tengah sasaran inflasi 2,5% plus minus 1%,” ujar Perry dalam konferensi pers, Selasa. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tekanan inflasi masih berada dalam rentang yang aman dan terkendali, sehingga tidak menutup peluang pelonggaran kebijakan moneter ke depan.

Rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa sisi penawaran dalam perekonomian nasional masih mampu mengimbangi permintaan. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi BI untuk mempertimbangkan kebijakan yang lebih akomodatif, tanpa mengorbankan stabilitas harga yang selama ini dijaga dengan ketat.

Pertumbuhan Ekonomi Masih di Bawah Potensi

Menurut Perry Warjiyo, inflasi inti yang rendah juga mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih berada di bawah kapasitas optimalnya. Bank Indonesia memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi nasional dalam dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8% hingga 6,2%. Namun, realisasi pertumbuhan saat ini belum sepenuhnya mencapai level tersebut.

Kondisi pertumbuhan yang belum optimal justru menahan tekanan inflasi inti. Di satu sisi, hal ini mencerminkan masih adanya ruang kapasitas ekonomi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Di sisi lain, situasi ini membuka peluang bagi bank sentral untuk mendorong aktivitas ekonomi melalui kebijakan moneter yang lebih longgar dan mendukung ekspansi.

Dengan demikian, penurunan suku bunga acuan tidak hanya dipandang sebagai instrumen menjaga inflasi, tetapi juga sebagai upaya strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional agar lebih mendekati potensi jangka menengahnya.

Rekam Jejak Penurunan BI Rate Sebelumnya

Sejalan dengan kondisi tersebut, BI telah mengambil langkah konkret dengan memangkas suku bunga acuan secara bertahap. Sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia tercatat telah menurunkan BI rate sebanyak lima kali. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi mendorong pemulihan dan penguatan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Sejak September 2024 hingga Januari 2026, BI rate telah dipangkas hingga berada di level 4,75%. Penurunan ini mencerminkan sikap moneter yang lebih akomodatif, sekaligus menunjukkan keyakinan BI bahwa stabilitas inflasi masih dapat dijaga dengan baik meskipun suku bunga berada pada level yang lebih rendah.

Langkah penurunan suku bunga tersebut juga diiringi dengan kebijakan pendukung lainnya, termasuk penguatan likuiditas dan koordinasi kebijakan dengan pemerintah, guna memastikan transmisi kebijakan moneter berjalan efektif ke sektor riil.

Arah Kebijakan Suku Bunga ke Depan

“Ke depan kami melihat masih ada ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut. Kebijakan suku bunga diarahkan agar inflasi inti tetap rendah dan pertumbuhan ekonomi bisa didorong lebih tinggi,” kata Perry. Pernyataan ini menegaskan bahwa BI tetap bersikap fleksibel dan responsif terhadap perkembangan ekonomi domestik maupun global.

Meski demikian, Perry menegaskan bahwa fokus utama kebijakan moneter tetap pada menjaga stabilitas inflasi inti. Penurunan suku bunga tidak dilakukan secara agresif, melainkan terukur dan berbasis data. BI juga terus memantau pergerakan nilai tukar serta dinamika pasar keuangan global agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga.

Selain suku bunga, BI juga mengandalkan kebijakan ekspansi likuiditas sebagai bagian dari bauran kebijakan moneter. Dukungan likuiditas diharapkan mampu memperkuat penyaluran kredit perbankan dan mendorong aktivitas investasi serta konsumsi masyarakat.

Proyeksi Eksternal Perkuat Optimisme

Pandangan Bank Indonesia sejalan dengan proyeksi sejumlah lembaga keuangan global. The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) memperkirakan BI masih akan melanjutkan pelonggaran suku bunga pada 2026. Proyeksi ini memperkuat optimisme bahwa ruang kebijakan moneter Indonesia masih relatif longgar dibandingkan sejumlah negara lain.

Managing Director sekaligus Chief India Economist and Macro Strategist ASEAN Economist HSBC, Pranjul Bhandari, memproyeksikan BI akan menurunkan suku bunga hingga total 75 basis poin pada kuartal I hingga III-2026. Dengan skenario tersebut, BI rate berpotensi turun ke level 4%.

Proyeksi ini mencerminkan keyakinan bahwa inflasi inti Indonesia akan tetap terkendali, sementara kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi masih menjadi prioritas utama. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pelonggaran suku bunga diharapkan mampu memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian nasional ke depan.

Terkini