Minyak

Harga Minyak Dunia Menguat Tersulut Ketegangan Baru Amerika Serikat Iran

Harga Minyak Dunia Menguat Tersulut Ketegangan Baru Amerika Serikat Iran
Harga Minyak Dunia Menguat Tersulut Ketegangan Baru Amerika Serikat Iran

JAKARTA - Harga minyak mentah global menutup perdagangan pekan lalu dengan penguatan signifikan. 

Data menunjukkan Brent menguat 0,58% ke US$ 64,13 per barel, sementara WTI naik 0,42% ke US$ 59,44 per barel. Kenaikan ini didorong oleh penutupan posisi jual menjelang libur Martin Luther King Jr. Day di AS. Investor cenderung mengurangi risiko, memicu aksi beli defensif di pasar minyak.

Selain faktor teknikal, perhatian pasar tersedot pada situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan global. Manuver kapal induk USS Abraham Lincoln di Teluk Persia menjadi sinyal ketidakpastian yang mempengaruhi harga minyak secara langsung.

Risiko Jalur Distribusi Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur vital untuk transportasi minyak global, menjadi sorotan utama. Sekitar seperempat pasokan minyak dunia melewati jalur ini, sehingga gangguan sekecil apapun bisa memicu lonjakan harga signifikan. Para pelaku pasar menilai bahwa potensi eskalasi militer di kawasan tersebut harus diwaspadai.

John Kilduff dari Again Capital LLC menekankan bahwa ketidakpastian geopolitik ini memicu reaksi pasar. Investor bergerak cepat menyesuaikan posisi untuk menghadapi potensi gangguan distribusi, meski sejauh ini belum terjadi interupsi besar. Tekanan ini tercermin pada pergerakan harga minyak yang menguat di akhir pekan.

Fundamental Pasokan Global Masih Stabil

Meski dorongan geopolitik kuat, kenaikan harga tertahan oleh ketersediaan pasokan global yang memadai. Analis Phil Flynn menegaskan bahwa suplai minyak dunia tetap stabil, sehingga kenaikan harga lebih lanjut sulit berlanjut. Aliran pasokan dari Venezuela mulai masuk secara bertahap, berfungsi sebagai penyeimbang pasar global.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar minyak saat ini berada dalam keseimbangan antara risiko geopolitik yang menekan harga naik dan supply yang menekan harga turun. Dalam jangka pendek, fluktuasi harga diprediksi terbatas, sekitar US$ 57 hingga US$ 67 per barel untuk Brent, tanpa adanya gangguan signifikan dari rantai pasok atau lonjakan permintaan.

Dinamika Harga Minyak Setahun Terakhir

Jika dibandingkan Januari 2025, harga Brent turun signifikan. Setahun lalu, harga stabil di kisaran US$ 80-82 per barel, sementara kini berada di level US$ 60-64 per barel. Penurunan ini mencerminkan perubahan struktural dari pasar pasokan ketat menjadi surplus pasokan global.

Koreksi harga yang tajam ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penguatan teknikal jangka pendek, tren jangka panjang masih bearish. Pasar minyak sedang mengalami konsolidasi, di mana pergerakan harga dipengaruhi tarik-menarik antara sentimen geopolitik dan fundamental supply.

Level Support Psikologis US$ 60

Penutupan harga di atas US$ 64 per barel menandai kekuatan support psikologis di level US$ 60. Investor menilai titik ini sebagai area aman untuk menahan posisi beli. Level support ini juga menjadi indikator bahwa pasar masih mampu menahan tekanan jangka pendek dari sentimen negatif maupun positif.

Dalam fase konsolidasi ini, volatilitas tetap tinggi namun ruang gerak harga terbatas. Faktor teknikal dan geopolitik saling bersaing memengaruhi dinamika pasar. Apabila tidak ada intervensi besar pada pasokan fisik, tren harga akan tetap berada dalam range terbatas selama beberapa waktu ke depan.

Proyeksi Jangka Panjang dan Dampak Pasokan Venezuela

Ke depan, jika produksi dan ekspor minyak Venezuela serta AS berjalan lancar, surplus pasokan global akan meningkat. Hal ini berpotensi menekan harga minyak dunia lebih rendah. Pasokan tambahan dari kedua negara akan membuat pasar semakin likuid, mengurangi tekanan kenaikan harga meski risiko geopolitik tetap ada.

Secara keseluruhan, pasar minyak dunia berada di persimpangan antara faktor jangka pendek dan jangka panjang. Ketegangan geopolitik memberikan stimulus penguatan sesaat, sementara pasokan global dan surplus minyak menahan kenaikan harga lebih signifikan. 

Trader dan investor harus menimbang kedua faktor ini dalam pengambilan keputusan, karena volatilitas tetap tinggi namun arah tren jangka panjang cenderung menurun.

Kesimpulan Pasar Minyak Saat Ini

Kenaikan harga minyak pekan lalu bersifat reaktif terhadap ketegangan AS-Iran dan libur pasar AS. Fundamental pasokan yang masih cukup melimpah membatasi kenaikan. Tren jangka pendek menunjukkan rebound teknikal, namun secara struktural pasar bergerak menurun dibanding tahun lalu. Pasar saat ini berada dalam fase konsolidasi, menunggu faktor eksternal untuk menentukan arah berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index