JAKARTA - Tren elektrifikasi kendaraan terus menunjukkan penguatan di tingkat global sepanjang 2025.
Penjualan mobil listrik dunia mencatat pertumbuhan signifikan dan menembus puluhan juta unit, mencerminkan pergeseran preferensi konsumen serta dukungan kebijakan di banyak negara. Lonjakan ini sekaligus menandai semakin matangnya industri kendaraan listrik secara global.
Kinerja positif tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh kawasan. Beberapa pasar utama mencatat pertumbuhan tinggi, sementara sebagian wilayah justru mengalami perlambatan. Dinamika ini memperlihatkan betapa besar peran kebijakan pemerintah, insentif, dan strategi produsen dalam menentukan arah pasar kendaraan listrik dunia.
Lonjakan Penjualan Mobil Listrik Sepanjang 2025
Penjualan mobil listrik global sepanjang 2025 berhasil tumbuh sekitar 20 persen secara tahunan. Total penjualan mencapai 20,7 juta unit, menegaskan bahwa permintaan kendaraan listrik masih terus meningkat. Pertumbuhan ini menunjukkan tren elektrifikasi belum kehilangan momentum meski tantangan ekonomi global masih membayangi.
Kinerja positif tersebut turut didorong oleh lonjakan penjualan pada akhir tahun. Sepanjang Desember 2025 saja, sekitar 2,1 juta unit mobil listrik terjual secara global. Angka tersebut menandakan minat konsumen tetap terjaga hingga penutupan tahun.
Lonjakan di akhir tahun juga mencerminkan strategi produsen dan konsumen yang memanfaatkan insentif serta kebijakan yang masih berlaku. Banyak pembelian dilakukan menjelang perubahan aturan di sejumlah negara. Hal ini turut memperkuat total penjualan tahunan secara keseluruhan.
China Tetap Dominasi Pasar Kendaraan Listrik Dunia
Dikutip dari Carscoops, China masih menjadi pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Sepanjang 2025, penjualan mobil listrik di China mencapai 12,9 juta unit. Angka ini naik 17 persen secara tahunan dan memperkokoh posisi China sebagai pusat utama industri kendaraan listrik global.
Dominasi China tidak terlepas dari dukungan pemerintah dan kekuatan industri domestik. Persaingan harga yang ketat di dalam negeri mendorong produsen China meningkatkan efisiensi dan volume produksi. Kondisi tersebut membuat kendaraan listrik semakin terjangkau bagi konsumen.
Selain itu, China juga menjadi basis ekspansi global bagi banyak pabrikan. Tekanan persaingan di pasar domestik mendorong produsen memperluas pasar ke luar negeri. Ekspor kendaraan listrik dari China pun meningkat dan memengaruhi pertumbuhan di berbagai kawasan dunia.
Eropa dan Wilayah Lain Tumbuh Signifikan
Eropa mencatat pertumbuhan penjualan mobil listrik yang cukup mencolok sepanjang 2025. Penjualan di kawasan ini naik 33 persen menjadi 4,3 juta unit. Pertumbuhan tersebut didorong oleh insentif pemerintah dan regulasi emisi yang semakin ketat.
Kebijakan pembatasan emisi karbon membuat konsumen Eropa beralih ke kendaraan listrik. Selain itu, berbagai negara di Eropa terus memperluas infrastruktur pengisian daya. Faktor ini meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik dalam aktivitas sehari-hari.
Di luar pasar utama, wilayah Rest of World juga menunjukkan perkembangan pesat. Penjualan mobil listrik di kawasan ini melonjak 48 persen dengan total 1,7 juta unit sepanjang 2025. Angka ini menandakan adopsi kendaraan listrik mulai meluas ke berbagai negara berkembang.
Amerika Utara Justru Alami Perlambatan
Berbeda dengan tren global, Amerika Utara justru mencatat penurunan penjualan mobil listrik sebesar 4 persen. Melemahnya pasar di Amerika Serikat dan Kanada menjadi faktor utama perlambatan kawasan ini. Penghentian insentif pajak berperan besar terhadap penurunan permintaan.
Di Amerika Serikat, penjualan mobil listrik sempat meningkat menjelang berakhirnya insentif pajak pada September 2025. Namun, setelah subsidi dihentikan, permintaan turun tajam pada kuartal terakhir. Sepanjang tahun, pertumbuhan pasar EV di AS hanya sekitar 1 persen.
Kanada bahkan mengalami penurunan yang lebih dalam. Penjualan mobil listrik di negara tersebut anjlok hingga 49 persen setelah insentif dicabut. Kondisi ini menunjukkan ketergantungan pasar terhadap dukungan kebijakan pemerintah masih sangat tinggi.
Strategi Pabrikan Mulai Bergeser
Perbedaan tren antarwilayah membuat sejumlah pabrikan mulai mengubah strategi. Beberapa produsen menyesuaikan portofolio produknya untuk menghadapi ketidakpastian pasar. Ford, misalnya, mengalihkan fokus dari F-150 Lightning ke model hybrid.
Selain itu, Ram menunda peluncuran pikap listriknya karena mempertimbangkan kondisi pasar. Keputusan ini menunjukkan bahwa tidak semua segmen kendaraan listrik berkembang dengan kecepatan yang sama. Produsen perlu menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif.
Sementara itu, Jepang masih bertahan pada kendaraan hybrid. Penetrasi mobil listrik murni di negara tersebut tetap rendah, berada di kisaran 3 persen sepanjang 2025. Preferensi konsumen dan pendekatan industri yang berbeda memengaruhi arah elektrifikasi di Jepang.
Peran Kebijakan Tentukan Arah Pasar Ke Depan
Data penjualan mobil listrik global 2025 menunjukkan bahwa insentif dan kebijakan pemerintah masih memegang peranan penting. Konsistensi regulasi dinilai menjadi faktor penentu pertumbuhan pasar ke depan. Perubahan kebijakan yang tiba-tiba dapat berdampak signifikan terhadap permintaan.
Pertumbuhan pesat di China dan Eropa menunjukkan efektivitas dukungan pemerintah yang berkelanjutan. Sebaliknya, perlambatan di Amerika Utara menjadi contoh dampak penghentian insentif. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi negara lain yang ingin mendorong adopsi kendaraan listrik.
Ke depan, arah pasar kendaraan listrik global akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara kebijakan, inovasi teknologi, dan kesiapan infrastruktur. Dengan dukungan yang konsisten, tren elektrifikasi diperkirakan masih akan terus menguat di tahun-tahun mendatang.