Joan Laporta Lepas Jabatan Presiden Barcelona Jelang Pemilu Penentuan Arah Klub

Selasa, 10 Februari 2026 | 11:48:25 WIB
Joan Laporta Lepas Jabatan Presiden Barcelona Jelang Pemilu Penentuan Arah Klub

JAKARATA - Atmosfer politik internal FC Barcelona memasuki babak krusial setelah Joan Laporta resmi melepaskan jabatannya sebagai presiden klub. 

Keputusan ini diambil menjelang pelaksanaan pemilihan presiden Barcelona yang dijadwalkan berlangsung pada 15 Maret 2026. Langkah Laporta langsung menjadi sorotan karena berkaitan erat dengan arah kepemimpinan klub ke depan.

Pengunduran diri tersebut diumumkan secara resmi oleh pihak klub dan menjadi bagian dari mekanisme yang diatur dalam statuta Barcelona. Dengan mundurnya Laporta, Barcelona kini memasuki masa transisi kepemimpinan yang sarat kepentingan politik dan strategis. Situasi ini sekaligus menandai dimulainya fase penting dalam proses demokrasi internal klub.

Pemilu mendatang akan menjadi momentum bagi para kandidat untuk menawarkan visi dan program terbaik. Barcelona, sebagai salah satu klub terbesar di dunia, dihadapkan pada pilihan kepemimpinan yang akan menentukan stabilitas dan prestasi mereka dalam beberapa tahun ke depan.

Pengunduran Diri Sesuai Aturan Statuta Klub

Keputusan Joan Laporta untuk mundur tidak diambil secara sepihak. Barcelona menjelaskan bahwa langkah tersebut merujuk pada Pasal 42.f Statuta FC Barcelona. Aturan ini mengharuskan presiden aktif mengundurkan diri jika ingin kembali mencalonkan diri dalam pemilihan dewan direksi.

Dalam pernyataan resmi klub disebutkan bahwa Laporta mengundurkan diri agar dapat maju sebagai kandidat dalam pemilu presiden. Pemilihan tersebut dijadwalkan digelar pada 15 Maret 2026 dan akan menentukan susunan dewan direksi baru Barcelona.

Pengunduran diri Laporta diformalkan dalam rapat rutin dewan direksi yang digelar pada Senin. Pada rapat yang sama, pengumuman terkait pemilu klub juga diterbitkan secara resmi untuk publik.

“Sesuai Pasal 42.f Statuta FC Barcelona, Presiden Joan Laporta telah mengundurkan diri dari jabatannya agar dapat mencalonkan diri dalam pemilihan Dewan Direksi yang akan digelar pada 15 Maret,” demikian bunyi pernyataan resmi klub.

Pemilu Klub Jadi Sorotan Publik Sepak Bola

Pemilihan presiden Barcelona selalu menjadi perhatian luas, baik di internal klub maupun publik sepak bola internasional. Barcelona bukan hanya institusi olahraga, tetapi juga entitas sosial dan ekonomi besar yang memiliki jutaan pendukung di seluruh dunia.

Pemilu pada 15 Maret 2026 akan menentukan arah kebijakan klub, termasuk pengelolaan keuangan, strategi olahraga, hingga hubungan institusional. Oleh karena itu, proses politik ini dinilai sangat menentukan masa depan Barcelona.

Dengan mundurnya Laporta, kontestasi pemilu dipastikan semakin terbuka. Para kandidat memiliki kesempatan setara untuk menawarkan gagasan mereka kepada para anggota klub yang memiliki hak suara.

Gelombang Pengunduran Diri di Jajaran Pengurus

Bukan hanya Joan Laporta yang mengundurkan diri. Sejumlah anggota dewan direksi Barcelona turut mengambil langkah serupa. Mereka mundur untuk dapat berpartisipasi dalam proses pemilihan yang akan datang.

Wakil Presiden Urusan Kelembagaan, Elena Fort, termasuk salah satu figur yang melepas jabatannya. Selain itu, Wakil Presiden Urusan Sosial, Antonio Escudero, juga turut mengundurkan diri dari posisinya.

Beberapa direktur lain yang mundur antara lain Ferran Olive, Josep Maria Albert, Javier Barbany, Miquel Camps, Aureli Mas, Javier Puig, dan Joan Soler. Pengunduran diri kolektif ini menandai besarnya dinamika politik yang tengah berlangsung di tubuh klub.

Masa Transisi dan Kelangsungan Operasional Klub

Meski sejumlah petinggi mundur, Barcelona memastikan roda organisasi tetap berjalan. Dewan direksi tetap menjalankan tugasnya hingga akhir masa jabatan pada 30 Juni dengan komposisi kepemimpinan sementara.

Dalam susunan sementara tersebut, Rafael Yuste ditunjuk sebagai presiden sementara. Josep Cubells mengemban peran sebagai wakil presiden sekaligus sekretaris klub.

Posisi bendahara dipercayakan kepada Alfons Castro. Sementara itu, Josep Ignasi Macia, Angel Riudalbas, Joan Sole i Sust, dan Sisco Pujol ditunjuk untuk mengisi posisi direktur. Struktur ini dirancang untuk menjaga stabilitas klub selama masa transisi.

Tantangan Barcelona Menjelang Pemilihan

Masa menjelang pemilu bukan hanya soal politik internal, tetapi juga tantangan operasional. Barcelona tetap harus menjaga fokus pada aktivitas olahraga, manajemen keuangan, dan hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Situasi ini menuntut kepemimpinan sementara yang solid agar tidak terjadi kekosongan kebijakan. Keputusan strategis tetap harus diambil secara hati-hati demi kepentingan jangka panjang klub.

Di sisi lain, para kandidat presiden diharapkan mampu menyampaikan visi yang realistis dan meyakinkan. Dukungan anggota klub akan sangat bergantung pada kemampuan mereka menjawab tantangan yang dihadapi Barcelona saat ini.

Arah Masa Depan Barcelona di Tangan Anggota Klub

Pemilu presiden Barcelona menjadi simbol demokrasi klub yang telah lama dijunjung tinggi. Setiap keputusan diambil melalui mekanisme yang melibatkan anggota sebagai pemilik sah klub.

Dengan pengunduran diri Joan Laporta, proses pemilihan kini berjalan sesuai aturan dan membuka ruang kompetisi yang sehat. Siapa pun yang terpilih nantinya akan memikul tanggung jawab besar dalam memimpin Barcelona ke era berikutnya.

Hasil pemilu 15 Maret 2026 akan menjadi penentu arah kebijakan klub, baik di dalam maupun di luar lapangan. Bagi Barcelona, momen ini bukan sekadar pergantian jabatan, tetapi fondasi penting bagi masa depan klub yang lebih stabil dan kompetitif.

Terkini