JAKARTA - Pasar energi global kembali bergerak hati-hati pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026.
Harga minyak dunia tercatat melemah tipis seiring pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik terbaru di kawasan Timur Tengah, khususnya menyangkut Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi energi global. Sikap investor cenderung menahan diri sambil menimbang risiko pasokan dan arah kebijakan negara-negara besar.
Pelemahan harga ini terjadi tidak lama setelah Amerika Serikat mengeluarkan panduan pelayaran terbaru bagi kapal dagang berbendera AS yang melintasi Selat Hormuz. Ketegangan antara Washington dan Teheran pun kembali menjadi perhatian utama, meski di sisi lain masih terdapat sinyal diplomatik yang dinilai cukup positif oleh sebagian pihak.
Harga minyak mentah Brent turun 18 sen atau 0,26 persen menjadi US$ 68,85 per barel pada pukul 10.53 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 21 sen atau 0,33 persen ke level US$ 64,15 per barel. Pergerakan ini mencerminkan sikap pasar yang masih waspada terhadap potensi eskalasi konflik.
Pasar Menilai Ulang Risiko Pasokan Energi Global
Penurunan harga minyak pada perdagangan Selasa terjadi setelah sehari sebelumnya pasar mencatat penguatan lebih dari satu persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh imbauan Badan Administrasi Maritim Departemen Transportasi Amerika Serikat yang meminta kapal dagang AS berlayar sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran.
Selain itu, kapal-kapal tersebut juga diminta untuk menolak secara verbal apabila diminta naik oleh pasukan Iran. Panduan ini langsung memicu kekhawatiran baru mengenai potensi gangguan pengiriman minyak, meskipun belum ada insiden langsung yang dilaporkan di kawasan tersebut.
Pelaku pasar menilai bahwa langkah AS tersebut bersifat preventif, namun tetap menciptakan ketidakpastian tambahan. Kondisi inilah yang membuat harga minyak tidak melanjutkan penguatan, melainkan terkoreksi tipis karena investor menunggu perkembangan lanjutan.
Peran Vital Selat Hormuz dalam Perdagangan Minyak Dunia
Sekitar 20 persen konsumsi minyak global diketahui melewati Selat Hormuz yang terletak di antara Oman dan Iran. Jalur ini menjadi salah satu choke point terpenting dalam perdagangan energi dunia, sehingga setiap gangguan sekecil apa pun dapat berdampak signifikan terhadap pasokan global.
Iran bersama negara-negara anggota OPEC lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat strategis ini. Sebagian besar ekspor tersebut mengalir ke pasar Asia yang menjadi pusat pertumbuhan permintaan energi global.
Dengan posisi strategis tersebut, eskalasi ketegangan di Selat Hormuz selalu memicu premi risiko di pasar minyak. Hal inilah yang terus membayangi pergerakan harga, meskipun belum ada gangguan fisik terhadap arus pengiriman minyak.
Sinyal Diplomatik Iran dan Amerika Serikat
Panduan pelayaran terbaru dari Amerika Serikat dikeluarkan meskipun diplomat tertinggi Iran pekan lalu menyampaikan pernyataan bernada optimistis. Ia menyebut bahwa perundingan nuklir yang dimediasi Oman dengan AS menunjukkan awal yang “baik” dan akan berlanjut ke tahap berikutnya.
Sinyal diplomatik ini sempat memberikan harapan bahwa ketegangan kedua negara dapat diredakan melalui jalur perundingan. Namun, pasar menilai bahwa proses tersebut masih panjang dan rentan terhadap perubahan sikap politik di kedua belah pihak.
“Meski pembicaraan di Oman memberikan sinyal positif secara hati-hati, ketidakpastian terkait potensi eskalasi, pengetatan sanksi, atau gangguan pasokan di Selat Hormuz tetap mempertahankan premi risiko yang moderat,” tulis analis IG, Tony Sycamore, dalam catatan kepada klien.
Pernyataan tersebut menggambarkan sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati, dengan tetap memperhitungkan kemungkinan terburuk di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan.
Tekanan Tambahan dari Rencana Sanksi Uni Eropa
Selain isu Timur Tengah, pasar minyak juga dibayangi perkembangan terbaru dari Eropa. Uni Eropa mengusulkan perluasan sanksi terhadap Rusia dengan memasukkan pelabuhan di Georgia dan Indonesia yang menangani minyak Rusia.
Jika kebijakan ini diterapkan, langkah tersebut akan menjadi kali pertama Uni Eropa menargetkan pelabuhan di negara ketiga. Berdasarkan dokumen proposal yang ditinjau Reuters, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperketat sanksi terhadap minyak Rusia.
Minyak menjadi sumber pendapatan utama Moskow di tengah perang di Ukraina, sehingga setiap pengetatan sanksi berpotensi memengaruhi arus pasokan global. Meski demikian, pasar masih menunggu kepastian implementasi kebijakan tersebut sebelum bereaksi lebih jauh.
Perubahan Strategi Pembelian Minyak oleh India
Di sisi lain, dinamika permintaan juga turut memengaruhi pergerakan harga. Indian Oil Corp dilaporkan membeli enam juta barel minyak mentah dari Afrika Barat dan Timur Tengah dalam periode terbaru.
Langkah ini diambil saat India mulai mengurangi pembelian minyak dari Rusia. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya New Delhi untuk mendorong tercapainya kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat.
Perubahan strategi pembelian ini menunjukkan bagaimana faktor geopolitik dan hubungan dagang memengaruhi arus perdagangan minyak dunia. Bagi pasar, langkah India tersebut menjadi sinyal bahwa peta pasokan dan permintaan global terus mengalami penyesuaian.
Secara keseluruhan, pelemahan tipis harga minyak mencerminkan kondisi pasar yang berada dalam fase menunggu. Ketegangan geopolitik, sinyal diplomasi, rencana sanksi, dan perubahan pola permintaan global menjadi faktor-faktor utama yang terus dipantau pelaku pasar dalam menentukan arah harga minyak ke depan.