JAKARTA - Pergerakan masyarakat selama masa mudik Lebaran selalu mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya.
Banyak orang memanfaatkan momen tersebut untuk pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Karena itu, pemerintah biasanya melakukan berbagai persiapan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang di berbagai moda transportasi.
Menjelang mudik Lebaran 2026, pemerintah daerah juga mulai memprediksi pola pergerakan pemudik. Prediksi ini penting untuk membantu pengelolaan arus transportasi agar tidak terjadi penumpukan penumpang pada satu waktu tertentu.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memetakan kemungkinan waktu puncak arus mudik. Dengan mengetahui waktu lonjakan pemudik, pengelola transportasi dapat menyiapkan layanan tambahan serta pengaturan operasional yang lebih efektif.
Prediksi tersebut juga menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyiapkan fasilitas terminal serta berbagai layanan penunjang lainnya selama periode angkutan Lebaran.
Puncak arus mudik diperkirakan tidak terjadi dalam satu waktu saja, melainkan terbagi dalam beberapa tahap yang dipengaruhi oleh jadwal libur masyarakat.
Puncak arus mudik Lebaran diprediksi terjadi dua kali
Kepala Unit Pengelola Terminal Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Zulkifli, menyampaikan bahwa puncak arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan terjadi dalam dua gelombang.
Menurutnya, puncak arus mudik pertama diprediksi berlangsung pada 13 Maret 2026. Sementara itu, gelombang kedua diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2026.
"Untuk puncak mudik pertama tanggal 13 Maret karena sudah mulai libur sekolah. Kemudian puncak kedua tanggal 18 Maret yang biasanya diisi oleh para pekerja,” ujar Zulkifli dikutip dari laman resmi Pemrov DKI Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Perbedaan waktu tersebut diperkirakan terjadi karena jadwal perjalanan antara pelajar dan pekerja tidak berlangsung secara bersamaan.
Sebagian masyarakat yang masih berstatus pelajar kemungkinan akan melakukan perjalanan lebih awal mengikuti jadwal libur sekolah. Sementara itu, pekerja biasanya baru memulai perjalanan setelah mendekati hari libur kerja.
Prediksi arus balik juga terbagi dua tahap
Selain arus mudik, pergerakan masyarakat saat kembali ke kota juga diperkirakan mengalami lonjakan pada waktu tertentu. Pemerintah memprediksi arus balik Lebaran juga akan terbagi dalam dua tahap.
Puncak arus balik pertama diperkirakan terjadi pada 24 Maret 2026. Pada waktu tersebut, banyak pekerja diperkirakan mulai kembali ke kota untuk mempersiapkan aktivitas kerja.
Sementara itu, puncak arus balik kedua diperkirakan terjadi pada 28 Maret 2026. Waktu tersebut biasanya dimanfaatkan oleh para pelajar untuk kembali dari kampung halaman setelah masa libur berakhir.
"Untuk tanggal 24 Maret biasanya para pegawai sudah mulai kembali bekerja. Sedangkan tanggal 28 atau 29 biasanya para pelajar yang kembali karena posko angkutan Lebaran ditutup pada 29 Maret,” katanya.
Dengan adanya dua waktu puncak arus balik tersebut, pemerintah berharap mobilitas masyarakat dapat berlangsung lebih tertata.
Strategi pembagian arus untuk mengurangi kepadatan
Pembagian waktu puncak arus mudik dan arus balik menjadi dua tahap merupakan bagian dari strategi pengaturan mobilitas selama masa angkutan Lebaran.
Menurut Zulkifli, strategi ini dilakukan agar pergerakan penumpang tidak terkonsentrasi pada satu hari tertentu. Jika semua pemudik melakukan perjalanan pada waktu yang sama, kepadatan transportasi bisa menjadi jauh lebih besar.
Dengan adanya perbedaan waktu perjalanan antara pelajar dan pekerja, diharapkan arus penumpang dapat lebih terdistribusi sepanjang periode mudik.
"Strategi ini diharapkan mampu mengurai kepadatan pemudik sehingga tidak terpusat pada satu hari tertentu. Bayangkan jika antara anak sekolah dan para pekerja disamakan maka akan lebih membludak lagi, akan jauh lebih padat,” jelasnya.
Pendekatan ini juga memungkinkan pengelola terminal dan transportasi mempersiapkan layanan secara lebih optimal.
Persiapan terminal menghadapi lonjakan penumpang
Untuk menghadapi peningkatan jumlah pemudik selama periode Lebaran, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah terminal angkutan jalan.
Sebanyak enam terminal akan digunakan untuk melayani penumpang selama masa angkutan Lebaran 2026.
Tiga terminal utama yang disiapkan adalah Terminal Kampung Rambutan, Terminal Kalideres, dan Terminal Tanjung Priok. Ketiga terminal ini menjadi pusat layanan keberangkatan bagi berbagai rute perjalanan antarkota.
Selain terminal utama, pemerintah juga menyiapkan terminal tambahan yang berfungsi sebagai terminal bantuan.
Terminal bantuan tersebut antara lain Terminal Lebak Bulus, Terminal Muara Angke, dan Terminal Grogol.
Keberadaan terminal bantuan ini bertujuan untuk membantu mengurangi kepadatan jika terjadi lonjakan penumpang di terminal utama.
Terminal bantuan disiapkan sebagai langkah antisipasi
Terminal bantuan akan mulai difungsikan apabila jumlah penumpang di terminal utama meningkat secara signifikan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan pelayanan transportasi tetap berjalan lancar.
Dengan adanya terminal tambahan, distribusi penumpang dapat dilakukan lebih merata sehingga tidak menumpuk di satu lokasi saja.
Zulkifli menjelaskan bahwa sebenarnya terdapat tujuh terminal utama di Jakarta. Namun tidak semuanya berada di bawah pengelolaan Unit Pengelola Terminal Angkutan Jalan.
Salah satu terminal yang memiliki sistem pengelolaan berbeda adalah Terminal Terpadu Pulogebang.
Karena memiliki manajemen tersendiri, terminal tersebut tidak termasuk dalam daftar terminal yang disiapkan oleh UPTAJ untuk menghadapi masa angkutan Lebaran.
"Terminal bantuan ini disiapkan apabila terminal utama mengalami kepadatan penumpang,” ujar Zulkifli.
Dengan berbagai persiapan tersebut, pemerintah berharap proses perjalanan mudik dan arus balik Lebaran 2026 dapat berlangsung lebih lancar. Pengaturan jadwal serta kesiapan fasilitas transportasi diharapkan mampu memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan jauh selama musim mudik.