BALANS.ID — Empat bank terbesar Indonesia membukukan laba bersih bank-only Rp 111,7 triliun sepanjang tujuh bulan pertama 2026, tumbuh 10% dibanding periode sama tahun lalu. Kenaikan biaya dana mulai menekan margin bunga, tetapi kualitas aset masih terjaga.
MNC Sekuritas mencatat laba bersih bank-only empat bank besar—BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA—mencapai Rp 111,7 triliun hingga Juli 2026. Realisasi itu tumbuh 10% secara tahunan dari Rp 101,8 triliun pada periode yang sama 2025.
Angka tersebut setara 55% dari proyeksi laba MNC Sekuritas untuk tahun buku 2026 dan 56% dari konsensus pasar. Artinya, laju laba masih on-track meski muncul tekanan baru dari sisi biaya dana.
Efisiensi Menopang Laba
Perbaikan efisiensi jadi penopang utama. Pre-provision operating profit (PPOP) empat bank besar tumbuh 11% YoY menjadi Rp 176,3 triliun, lebih cepat dari pertumbuhan laba bersih.
Rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) membaik 319 basis poin YoY menjadi 36,2%. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) juga tumbuh 6% YoY.
Di sisi lain, kredit dan dana pihak ketiga (DPK) sama-sama tumbuh 16% YoY. Karena pertumbuhannya seimbang, loan to deposit ratio (LDR) agregat naik 79 bps YoY menjadi 88,1%.
Margin Mulai Terkikis Biaya Dana
Tekanan mulai terasa pada net interest margin (NIM) bulanan mayoritas bank besar pada Juli 2026. NIM BBRI turun paling dalam, 108 bps secara bulanan (MoM), menjadi 5,7%.
NIM BRIS menyusul turun 70 bps MoM menjadi 5,0%, sedangkan BBNI turun 13 bps MoM menjadi 3,4%. BMRI relatif stabil dengan penurunan hanya 1 bps menjadi 3,9%.
BBCA justru bergerak berlawanan. "BBCA justru bergerak berlawanan dengan tren, dengan NIM pulih 30 basis poin (bps) secara bulanan menjadi 5,7%," tulis Analis MNC Sekuritas Victoria Venny dalam riset 11 September 2026.
Pemulihan NIM BBCA ditopang kenaikan imbal hasil aset produktif 27 bps MoM menjadi 6,7%. Biaya dananya tetap rendah di level 1,1%.
Menurut Victoria, penurunan NIM BBRI dan BRIS mencerminkan perubahan komposisi kredit serta pola pengakuan pendapatan. Pada BBRI, tekanan berkaitan dengan porsi kredit wholesale yang lebih tinggi. Pada BRIS, ada pola pengakuan pendapatan periodik khas perbankan syariah.
Kedua faktor itu diperparah kenaikan biaya pendanaan. Cost of fund (CoF) naik 25 bps MoM menjadi 2,6% pada Juli 2026, konsisten dengan dampak kumulatif kenaikan suku bunga Bank Indonesia 100 bps.
Rasio CASA atau dana murah kembali turun 34 bps MoM menjadi 71,7%. Pertumbuhan kredit dan simpanan bulanan juga terbatas, masing-masing sekitar 1% MoM.
Kualitas Aset Belum Memburuk
Di tengah kenaikan biaya dana, kualitas aset belum menunjukkan perburukan berarti. Cost of credit (CoC) justru turun 33 bps MoM menjadi 1,3%.
Victoria menilai tingginya pencadangan pada Juni lebih mencerminkan pembentukan buffer ketimbang indikasi memburuknya kualitas aset secara fundamental.
BBCA mencatat CoC paling rendah di antara bank besar, yakni 0,3% pada tujuh bulan 2026, membaik dari 0,4% di periode sama tahun sebelumnya. BMRI stabil di 0,5%.
BBRI mencatat CoC kumulatif 3,3%, relatif flat secara tahunan, dengan tren bulanan membaik karena CoC Juli turun 59 bps MoM menjadi 3,0%. BBNI naik 9 bps YoY menjadi 1,0%, tetapi CoC Juli turun 62 bps MoM menjadi 0,8%, masih dalam panduan manajemen 1,0%-1,2%.
BRIS mencatat CoC kumulatif membaik 27 bps YoY menjadi 0,6%. Namun pada Juli, CoC naik 48 bps MoM menjadi 0,7% setelah berada di level rendah 0,3% pada Juni, masih di bawah panduan manajemen kurang dari 1%.
Kredit Investasi Jadi Motor
Di tingkat industri, kredit perbankan tumbuh 0,6% MoM atau 13% YoY pada Juli 2026. Kredit investasi memimpin dengan kenaikan 0,8% MoM atau 23,1% YoY, disusul kredit modal kerja 0,7% MoM atau 11,6% YoY.
Kredit konsumer hanya tumbuh 0,2% MoM atau 5,3% YoY. Segmen kredit kendaraan masih jadi titik lemah dengan kontraksi 1% MoM dan 10% YoY.
Bagi investor, kombinasi laba yang masih tumbuh dua digit dan kualitas aset yang terjaga membuat sektor perbankan belum kehilangan daya tarik. Namun tekanan biaya dana akibat siklus kenaikan suku bunga BI perlu dicermati, terutama bagi bank dengan porsi dana mahal yang besar.