JAKARTA - Mobilitas masyarakat menuju bandara menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kelancaran transportasi di daerah wisata seperti Yogyakarta.
Setiap hari, ribuan orang melakukan perjalanan dari pusat kota menuju Yogyakarta International Airport untuk berbagai keperluan, mulai dari perjalanan bisnis hingga wisata.
Untuk mempermudah akses tersebut, layanan kereta bandara selama ini menjadi salah satu pilihan transportasi yang banyak digunakan masyarakat. Moda transportasi ini dinilai lebih cepat dan efisien dibandingkan kendaraan pribadi, terutama saat kondisi lalu lintas padat.
Namun dalam praktiknya, keberadaan stasiun keberangkatan kereta bandara yang berada di tengah kota kerap menimbulkan persoalan baru. Kemacetan lalu lintas di pusat Kota Yogyakarta sering menjadi keluhan masyarakat yang hendak menggunakan layanan kereta menuju bandara.
Karena itu, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mengusulkan perpanjangan rute layanan kereta bandara agar akses menuju bandara dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
Usulan perpanjangan rute kereta bandara
Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mengusulkan perluasan rute KA Bandara Yogyakarta International Airport hingga Stasiun Maguwo kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Usulan ini bertujuan meningkatkan efisiensi mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi potensi kemacetan di pusat Kota Yogyakarta.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menjelaskan keberadaan Stasiun Yogyakarta yang berada di tengah kota sering memicu kemacetan, terutama bagi penumpang yang hendak menggunakan KA Bandara.
“Terus kita bicara masalah layanan Stasiun Yogyakarta ini kan ada di tengah kota. Kadang kala kan terjadi kemacetan, nah itu sering dikomplain oleh masyarakat yang menggunakan KA Bandara,” ujarnya, Selasa.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat merasa perjalanan menuju kereta bandara kurang efisien karena harus melewati kepadatan lalu lintas di pusat kota terlebih dahulu.
Alasan kemudahan akses bagi masyarakat
Usulan perpanjangan rute tersebut juga bertujuan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah timur Yogyakarta. Selama ini, banyak penumpang dari kawasan tersebut harus menuju pusat kota terlebih dahulu untuk naik kereta bandara.
Padahal, perjalanan menuju pusat kota sering memakan waktu lebih lama akibat kepadatan lalu lintas. Dengan adanya perpanjangan rute hingga Stasiun Maguwo, diharapkan masyarakat dari wilayah timur dapat langsung mengakses layanan kereta bandara tanpa harus melewati pusat kota.
Menurut Ni Made Dwipanti Indrayanti, gagasan perpanjangan rute tersebut sebenarnya sudah lama diusulkan oleh pemerintah daerah.
“Sudah ada studi kasarnya kemungkinan untuk perpanjangan layanan KA Bandara itu ditarik sampai ke Timur supaya yang di wilayah Timur nggak usah masuk ke kota, untuk menghindari kemacetan. Jadi dia bisa lebih mudah,” katanya.
Dengan rencana tersebut, perjalanan menuju bandara diharapkan menjadi lebih efisien sekaligus mengurangi beban lalu lintas di pusat Kota Yogyakarta.
Pembahasan rencana melalui forum diskusi
Usulan perpanjangan rute kereta bandara ini telah mendapatkan respons positif dari berbagai pihak. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait berencana membahasnya lebih lanjut dalam forum diskusi khusus.
Pembahasan lanjutan tersebut direncanakan dilakukan melalui Focus Group Discussion setelah periode Lebaran. Dalam diskusi tersebut, berbagai pihak akan terlibat untuk membahas kemungkinan realisasi proyek secara lebih detail.
Selain membahas jalur kereta, pertemuan tersebut juga akan mengkaji pengembangan kawasan sekitar Stasiun Maguwo. Area ini direncanakan menjadi bagian dari konsep pengembangan kawasan berbasis transportasi.
“Memang kita desain di tata ruang kita pun sebenarnya sudah secara eksplisit tertulis bahwa kawasan parkir bandara yang kita sebut Park and Ride yang di situ ada kawasan Stasiun Maguwo karena TOD-nya itu. Nah, ini juga akan mengundang investor yang akan mengembangkan itu,” ujarnya.
Pengembangan kawasan tersebut diharapkan dapat mendukung integrasi transportasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di sekitar stasiun.
Kebutuhan penyesuaian infrastruktur kereta
Meski mendapat dukungan dari berbagai pihak, rencana perpanjangan rute kereta bandara ini tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat. Pemerintah daerah menyebutkan bahwa proyek tersebut masih memerlukan kajian yang lebih mendalam.
Studi komprehensif mengenai rencana tersebut baru dijadwalkan dilakukan pada tahun 2027. Kajian ini diperlukan untuk memastikan aspek teknis, operasional, serta keamanan perjalanan kereta dapat terpenuhi.
Salah satu tantangan utama dalam proyek ini adalah kebutuhan penyesuaian infrastruktur jalur kereta. Kereta bandara memiliki karakteristik operasional yang berbeda dengan kereta reguler sehingga membutuhkan jalur tersendiri.
“Karena harus pindah wesel juga. Karena kan kalau kereta bandara nggak bisa gabung juga dengan kereta reguler ya. Dia harus ada transit sendiri. Ada investasi relnya yang harus dimodifikasi. Jadi emplasemennya itu,” jelasnya.
Penyesuaian tersebut mencakup perubahan jalur rel hingga pengaturan emplasemen stasiun agar operasional kereta bandara tetap aman dan lancar.
Pertimbangan rute stasiun yang dilalui
Dalam pembahasan awal mengenai perpanjangan rute kereta bandara, pemerintah daerah juga sempat mempertimbangkan kemungkinan jalur yang melewati Stasiun Lempuyangan.
Namun setelah dilakukan perhitungan waktu perjalanan, opsi tersebut dinilai kurang efisien sehingga tidak dimasukkan dalam rencana pengembangan rute.
Menurut perhitungan yang dilakukan, penambahan jalur melalui Stasiun Lempuyangan justru akan menambah waktu perjalanan kereta bandara secara signifikan.
“Lempuyangan nggak dilewati. Kemarin itu kita sempat ngitung Lempuyangan iya, itu habis menitnya itu sekitar 30-an. Jadi nggak dimasukin,” kata dia.
Karena itu, fokus pengembangan rute saat ini diarahkan pada perpanjangan jalur menuju Stasiun Maguwo yang dinilai lebih efektif dari sisi waktu perjalanan maupun kemudahan akses bagi masyarakat.