IPO BEI 2026 Baru 7 Emiten, OJK Sebut Geopolitik Jadi Penyebab

IPO BEI 2026 Baru 7 Emiten, OJK Sebut Geopolitik Jadi Penyebab

BALANS.ID — Otoritas Jasa Keuangan mencatat hanya 7 perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026, anjlok dibanding 21 emiten pada periode sama tahun lalu. Ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasar global disebut membuat perusahaan menunda penawaran umum. OJK menegaskan target penghimpunan dana Rp250 triliun tetap menjadi acuan utama.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyatakan penurunan jumlah calon emiten terjadi karena perusahaan memilih mengatur ulang waktu pencatatan saham. Faktor eksternal dinilai lebih dominan ketimbang persoalan kesiapan internal perusahaan.

"Penurunan calon perusahaan untuk melakukan IPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dinamika kondisi pasar global, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum," katanya, Rabu (16/9/2026).

Realisasi IPO Terjun Dibanding Tiga Tahun Terakhir

Data BEI menunjukkan perlambatan tajam pada 2026. Hingga kini baru 7 emiten yang tercatat, sementara periode yang sama 2025 sudah mencapai 21 perusahaan. Angka itu jauh di bawah realisasi 2024 sebanyak 34 perusahaan dan 63 perusahaan baru pada 2023.

Penurunan ini terjadi di tengah target penghimpunan dana pasar modal yang dipatok Rp250 triliun untuk tahun ini. Per 6 September 2026, realisasi baru mencapai Rp148,3 triliun, sehingga masih ada selisih Rp101,7 triliun yang perlu dikejar hingga akhir tahun.

OJK Alihkan Fokus ke Total Penghimpunan Dana

Hasan menegaskan pihaknya tidak hanya mengejar jumlah emiten baru. Indikator yang dipakai OJK adalah keseluruhan aktivitas penghimpunan dana di pasar modal, termasuk penerbitan surat utang dan instrumen lainnya.

Untuk menutup selisih target, OJK bersama BEI memperbanyak sosialisasi ke calon emiten lewat coaching clinic di sejumlah daerah. Pendekatan ini menyasar perusahaan yang sudah siap secara fundamental namun belum menentukan waktu pencatatan.

"Dalam mencapai target dimaksud, OJK tetap senantiasa mengedepankan pada kualitas keterbukaan informasi serta kesiapan calon Emiten," ujar Hasan.

Pipeline IPO Masih Tipis, Dana Terhimpun Rp4,02 Triliun

Data OJK per 6 September 2026 mencatat setidaknya 7 perusahaan masih dalam antrean melantai di bursa. Total dana yang ditaksir terhimpun dari aksi korporasi tersebut mencapai Rp4,02 triliun.

Salah satu yang sudah mengumumkan rencana IPO adalah PT Swayasa Prakarsa Tbk. (SWAP). Perusahaan ini belum memperoleh pernyataan efektif dari OJK karena penjamin emisi efek mengubah skema penjaminan dari full commitment menjadi best effort.

Perubahan tersebut dilakukan PT Sukadana Prima Sekuritas dan memerlukan pengungkapan tambahan dalam prospektus, khususnya soal sumber dana lain bila hasil IPO tidak mencukupi.

"Sampai dengan draft prospektus terakhir yang disampaikan kepada OJK tidak terdapat pengungkapan mengenai sumber dana lain tersebut. Oleh karena itu, OJK belum dapat memberikan pernyataan efektif dan masih mengirimkan surat tanggapan kepada Perseroan," tegas Hasan.

SWAP kemudian menyampaikan surat penundaan melalui Surat Nomor 1489/SWA/Dir/IX/2026 tertanggal 1 September 2026.

Artinya bagi Investor dan Calon Emiten

Seretnya pasokan emiten baru membatasi pilihan investor di pasar saham domestik, terutama yang mencari eksposur sektor baru. Di sisi lain, perusahaan yang tetap memilih melantai tahun ini menghadapi ujian kualitas keterbukaan informasi yang lebih ketat dari OJK.

Bagi pelaku bisnis yang menunda IPO, keputusan tersebut masuk akal selama volatilitas global belum mereda. Namun, penundaan berkepanjangan berisiko menggeser kebutuhan pendanaan ke instrumen lain seperti obligasi atau pinjaman bank. Investasi mengandung risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index