IPO

Bocoran 7 Perusahaan Siap IPO Awal Tahun 2026 di BEI

Bocoran 7 Perusahaan Siap IPO Awal Tahun 2026 di BEI
Bocoran 7 Perusahaan Siap IPO Awal Tahun 2026 di BEI

JAKARTA - Awal tahun 2026 menjadi momen menarik bagi investor yang menantikan saham perdana. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat tujuh perusahaan yang tengah bersiap melakukan initial public offering (IPO). Mayoritas calon emiten ini merupakan perusahaan berskala besar dengan total aset di atas Rp 250 miliar, menandakan optimisme korporasi terhadap pasar modal domestik.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebutkan, “Hingga saat ini, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI.” Data ini menjadi panduan penting bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas portofolio sahamnya.

Perusahaan Jumbo Mendominasi Pipeline

Dari tujuh calon emiten tersebut, lima di antaranya termasuk kategori perusahaan besar. Satu perusahaan masuk kategori menengah dengan aset Rp50 miliar–Rp250 miliar, dan satu lainnya kategori kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih menjadi sarana strategis bagi korporasi besar untuk menggalang modal.

Diversifikasi sektor dari calon emiten ini juga cukup luas. Ada perusahaan dari sektor material dasar (basic materials), energi, industri, teknologi, transportasi, logistik, serta dua perusahaan di sektor finansial. Variasi sektor ini memberi investor opsi investasi yang beragam sesuai dengan profil risiko dan preferensi industri.

Aktivitas Obligasi dan Sukuk Masih Dominan

Meski IPO belum dimulai secara resmi, aktivitas pasar modal di awal tahun ini tetap dinamis melalui penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Hingga pertengahan Januari 2026, BEI mencatat sembilan emisi dari tujuh penerbit EBUS telah diterbitkan dengan total dana terhimpun Rp5,85 triliun.

Selain itu, terdapat sepuluh emisi dari lima penerbit lain yang masih masuk antrean penerbitan. Aktivitas ini menunjukkan bahwa investor memiliki pilihan instrumen alternatif yang relatif lebih stabil dibandingkan saham, sekaligus memberi peluang diversifikasi portofolio dalam jangka pendek maupun menengah.

Rights Issue Perusahaan Terpantau Aktif

Selain IPO dan obligasi, aksi rights issue juga menjadi instrumen pendanaan populer. Hingga pertengahan Januari 2026, tiga perusahaan telah menyelesaikan rights issue dengan total nilai Rp2,90 triliun. Sementara itu, satu perusahaan dari sektor properti dan real estate masih menunggu giliran untuk melaksanakan rights issue.

Rights issue biasanya dimanfaatkan perusahaan untuk memperkuat modal kerja, ekspansi bisnis, atau penguatan struktur permodalan. Hal ini menjadi indikator bahwa perusahaan tetap optimistis terhadap prospek bisnis di tengah tantangan ekonomi domestik maupun global.

Potensi Investor dari IPO Awal Tahun

Pipeline IPO yang dipenuhi perusahaan besar memberikan peluang menarik bagi investor institusional maupun ritel. Perusahaan jumbo biasanya menawarkan likuiditas yang lebih tinggi, prospek pertumbuhan jelas, dan potensi dividen yang menarik. Investor ritel perlu memperhatikan prospektus lengkap, valuasi saham, dan rencana ekspansi sebelum memutuskan berpartisipasi dalam IPO.

Sementara itu, perusahaan menengah dan kecil memberikan alternatif bagi investor dengan modal lebih terbatas atau profil risiko konservatif. Dengan strategi diversifikasi, investor bisa mengoptimalkan peluang di pasar modal yang kini kembali aktif di awal 2026.

Prospek Pasar Modal Indonesia Tahun 2026

Meski IPO belum resmi bergulir, aktivitas pasar modal melalui obligasi, sukuk, dan rights issue menunjukkan dinamika yang positif. BEI terus menekankan pentingnya transparansi dan tata kelola yang baik agar investor memiliki keyakinan terhadap prospek perusahaan.

Kombinasi perusahaan jumbo, menengah, dan kecil yang siap IPO, ditambah aktivitas pendanaan lain, memperkuat posisi pasar modal Indonesia sebagai sarana investasi yang kredibel dan beragam. Investor diharapkan memanfaatkan informasi pipeline IPO ini untuk menyusun strategi alokasi aset yang optimal sepanjang tahun 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index