Adaro Resources Indonesia Siapkan Capex Hingga US$ 240 Juta Dukung Smelter Aluminium

Kamis, 12 Maret 2026 | 13:00:42 WIB
Adaro Resources Indonesia Siapkan Capex Hingga US$ 240 Juta Dukung Smelter Aluminium

JAKARTA - Perusahaan tambang nasional terus memperkuat strategi ekspansi bisnis melalui investasi besar yang difokuskan pada pengembangan industri hilir. 

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai nilai sumber daya alam sekaligus meningkatkan nilai tambah produksi dalam negeri.

PT Adaro Resources Indonesia Tbk (ADRO) menjadi salah satu perusahaan yang menyiapkan belanja modal cukup besar pada tahun 2026. Anggaran tersebut direncanakan untuk mendukung pengembangan berbagai proyek strategis, terutama yang berkaitan dengan industri pengolahan aluminium.

Perusahaan memperkirakan anggaran belanja modal atau capital expenditure pada tahun ini berada pada kisaran US$ 220 juta hingga US$ 240 juta. Jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp 16.893 per dolar Amerika Serikat, nilainya setara sekitar Rp 3,7 triliun hingga Rp 4 triliun.

“Untuk tahun ini, capex diperkirakan berada pada kisaran US$ 220 juta hingga US$ 240 juta, termasuk kontribusi ekuitas dari perusahaan,” ungkap Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti kepada Kontan, Rabu (11/03/2026).

Fokus penggunaan belanja modal tersebut salah satunya untuk mendukung penyelesaian proyek smelter aluminium yang saat ini tengah dikembangkan melalui anak usaha perusahaan.

Belanja Modal Difokuskan Pada Pengembangan Smelter Aluminium

Sebagian besar alokasi capex ADRO diarahkan untuk menyempurnakan pembangunan fasilitas smelter aluminium yang dijalankan oleh anak usaha perusahaan, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI). Proyek ini menjadi salah satu investasi strategis perusahaan dalam mendukung pengembangan industri hilirisasi mineral di Indonesia.

Smelter aluminium tersebut berlokasi di Kalimantan Utara dan menjadi bagian dari pengembangan kawasan industri yang terintegrasi. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi aluminium nasional yang selama ini masih terbatas.

Pembangunan fasilitas ini juga menjadi langkah penting dalam mendorong pengolahan bahan baku mineral di dalam negeri. Dengan demikian, sumber daya alam tidak lagi hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Keberadaan smelter tersebut juga dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung kebijakan hilirisasi yang terus digalakkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Proses Pengujian Smelter Sudah Dimulai

Perkembangan proyek smelter aluminium tersebut menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. Fasilitas yang berada di Kalimantan Utara itu telah memasuki tahap pengujian awal sejak akhir tahun 2025.

Tahapan pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan berbagai komponen produksi dapat beroperasi dengan baik sebelum memasuki fase produksi penuh. Dalam proses ini, sebagian fasilitas smelter sudah mulai menjalani tahapan commissioning.

“Selanjutnya, perusahaan akan secara bertahap meningkatkan operasi pot (sel elektrolisis aluminium) secara strategis hingga mencapai kapasitas produksi penuh pada tahun 2026,” tambahnya.

Proses peningkatan kapasitas produksi tersebut akan dilakukan secara bertahap agar seluruh sistem produksi dapat berjalan secara optimal dan stabil.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memastikan kesiapan operasional sebelum fasilitas smelter benar-benar beroperasi secara penuh.

Target Produksi Aluminium Secara Bertahap

Pada tahap awal operasionalnya, smelter aluminium yang dikembangkan oleh PT Kalimantan Aluminium Industry dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai 500.000 ton aluminium per tahun.

Namun demikian, produksi tidak langsung dilakukan dalam kapasitas penuh. Perusahaan akan menjalankan proses peningkatan produksi secara bertahap atau ramp up hingga mencapai tingkat produksi optimal.

Strategi ini dilakukan untuk menjaga stabilitas operasional sekaligus memastikan seluruh proses produksi berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berharap proses produksi dapat berlangsung lebih efisien.

Tingkat produksi optimal dari fasilitas smelter aluminium tersebut ditargetkan dapat tercapai pada September atau Oktober 2026.

Jika target tersebut tercapai, maka smelter ini berpotensi menjadi salah satu fasilitas produksi aluminium terbesar di Indonesia.

Penjajakan Kerja Sama Penjualan Aluminium

Selain fokus pada pembangunan fasilitas produksi, perusahaan juga mulai menjajaki kerja sama pemasaran aluminium yang dihasilkan dari smelter tersebut.

Penjajakan kerja sama ini dilakukan dengan berbagai calon pembeli, baik dari dalam negeri maupun dari pasar internasional. Langkah ini menjadi bagian penting untuk memastikan keberlanjutan bisnis setelah smelter beroperasi penuh.

“Kami sedang menjajaki kerja sama baik dengan pembeli dalam negeri maupun internasional,” ungkapnya.

Minat terhadap produk aluminium diperkirakan cukup besar karena logam ini memiliki peran penting dalam berbagai sektor industri. Aluminium banyak digunakan dalam industri otomotif, konstruksi, hingga manufaktur peralatan elektronik.

Dengan pasar yang luas, perusahaan optimistis produk aluminium dari smelter tersebut dapat terserap dengan baik oleh pasar domestik maupun global.

Kontribusi Untuk Mengurangi Impor Aluminium

Pengembangan smelter aluminium ini juga memiliki arti penting bagi kebutuhan industri nasional. Saat ini, kebutuhan aluminium di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1 juta ton per tahun.

Namun sebagian besar kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor dari berbagai negara. Kondisi ini membuat Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan aluminium dari luar negeri.

Melalui produksi dari smelter PT Kalimantan Aluminium Industry, perusahaan berharap dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor aluminium.

Produksi aluminium dalam negeri juga diharapkan mampu memperkuat industri hilir yang membutuhkan bahan baku logam tersebut.

“Mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, berkontribusi atas program hilirisasi pemerintah, serta menciptakan nilai tambah untuk alumina,” jelasnya.

Dengan adanya proyek smelter aluminium tersebut, perusahaan berharap dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan industri nasional sekaligus mendukung kebijakan hilirisasi yang menjadi fokus pembangunan ekonomi Indonesia.

Terkini