BALANS.ID — PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) meneken rencana akuisisi 100% saham PT Frisian Flag Indonesia senilai sekitar Rp14,6 triliun. Aksi korporasi itu dijalankan lewat penerbitan saham baru atau rights issue hingga 7,87 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp2.150 per saham. Transaksi ini sekaligus mengantar FrieslandCampina menjadi pengendali baru ULTJ.
Rencana tersebut tertuang dalam prospektus ULTJ yang dikutip Sabtu (19/8/2026). Saham baru hasil rights issue akan dipakai mengakuisisi seluruh saham FFI melalui mekanisme inbreng, bukan pembayaran tunai.
Hak mengambil bagian dalam rights issue dialihkan pengendali ULTJ kepada tiga pemegang saham FFI, yakni FrieslandCampina International Holding B.V., Blue Waves Group Ventures Pte. Ltd., dan PT Bahtera Wiraniaga Internusa.
FrieslandCampina Kuasai 28,95%–30,81% ULTJ
Setelah transaksi rampung, FrieslandCampina diproyeksikan menggenggam sekitar 28,95% hingga 30,81% saham ULTJ. Perubahan pengendalian itu mewajibkan FrieslandCampina menjalankan tender offer sesuai ketentuan pasar modal.
FrieslandCampina memastikan keluarga Prawirawidjaja tetap menjadi pemegang saham signifikan. Sabana Prawirawidjaja juga masih menjabat direktur utama, dan ULTJ tetap berstatus perusahaan terbuka di Indonesia.
Rencana ini belum final. ULTJ membutuhkan restu pemegang saham lewat RUPSLB yang dijadwalkan 27 Oktober 2026, plus persetujuan regulator di Indonesia.
Agenda Lain di RUPSLB: Dividen dan Rombak Direksi
RUPSLB tersebut tidak hanya membahas rights issue. Agenda lain mencakup permintaan persetujuan penggunaan sebagian saldo laba ditahan untuk dibagikan sebagai tambahan dividen tunai final.
Perubahan susunan direksi dan komisaris juga masuk daftar agenda. Artinya, pemegang saham akan memutuskan tiga hal sekaligus dalam satu forum.
Valuasi FFI Premium, Laba per Saham Berpotensi Terdilusi
Analis Stockbit Sekuritas menyoroti harga tender offer wajib. Sesuai ketentuan, harga terendah yang dipakai FrieslandCampina adalah harga akuisisi, yakni Rp2.150 per saham.
Dari sisi valuasi, akuisisi FFI mengimplikasikan sekitar 19 kali annualized price to earnings ratio (P/E). Angka itu mengacu pada laba bersih FFI sekitar Rp440 miliar selama 7 bulan 2026 yang disetahunkan.
FFI membukukan pendapatan sekitar Rp7,8 triliun pada periode yang sama, dengan margin laba bersih di kisaran 5,6%. Sebagai pembanding, ULTJ diperdagangkan sekitar 10 kali annualized P/E per Jumat (18/9/2026), dengan margin laba bersih sekitar 19% selama 7 bulan 2026.
Analis menilai struktur transaksi membuat akuisisi FFI dilakukan pada valuasi premium dibandingkan valuasi ULTJ dan berpotensi mendilusi laba per saham.
"Artinya, akuisisi FFI oleh ULTJ dilakukan pada valuasi premium dan mendilusi laba per saham. Kami menilai potensi upside bagi ULTJ ke depannya dapat datang dari sinergi serta skala operasi/size perusahaan yang lebih besar, sehingga bisa saja membuka ruang bagi re-rating valuasi," tulis analis Stockbit Sekuritas.
Pasar Sambut Positif, Saham ULTJ Naik 8,42%
Investor merespons pengumuman kerja sama strategis ini dengan aksi beli. Pada penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026), saham ULTJ naik 8,42% ke level Rp2.060 per saham.
Pergerakan itu menempatkan harga pasar ULTJ sedikit di bawah harga pelaksanaan rights issue Rp2.150 per saham. Selisih tipis ini menjadi acuan awal bagi pemegang saham dalam menimbang apakah hak rights issue layak dieksekusi.
Bagi pelaku pasar, dua variabel kunci ke depan adalah hasil RUPSLB 27 Oktober 2026 dan besaran sinergi nyata antara portofolio ULTJ dan FFI. Skala operasi gabungan disebut menjadi pintu masuk potensi re-rating valuasi, meski dilusi laba per saham lebih dulu membebani kinerja jangka pendek.