Batu Bara

Harga Batu Bara Naik Lagi Dipicu Lonjakan Minyak, India Timbun Pasokan Energi

Harga Batu Bara Naik Lagi Dipicu Lonjakan Minyak, India Timbun Pasokan Energi
Harga Batu Bara Naik Lagi Dipicu Lonjakan Minyak, India Timbun Pasokan Energi

JAKARTA - Pergerakan harga komoditas energi kembali menarik perhatian pasar global dalam beberapa hari terakhir. 

Setelah sempat mengalami penurunan cukup tajam, harga batu bara kini kembali menunjukkan penguatan yang dipicu oleh perkembangan di pasar energi dunia.

Kenaikan harga batu bara tidak terlepas dari lonjakan harga minyak yang kembali meningkat. Ketegangan geopolitik serta potensi gangguan pasokan energi global membuat pasar merespons dengan peningkatan harga sejumlah komoditas energi.

Situasi tersebut mendorong berbagai negara untuk mengambil langkah antisipasi guna memastikan pasokan energi tetap aman. Salah satu negara yang melakukan langkah strategis adalah India dengan memperkuat cadangan batu bara dalam jumlah besar.

Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana dinamika pasar energi global saling berkaitan dan memengaruhi berbagai sektor industri di banyak negara.

Harga Batu Bara Kembali Menguat

Harga batu bara kembali terbang tersengat lonjakan kembali harga minyak.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu 11 Maret 2026 ditutup di posisi US$134,9 per ton atau melesat 2,9 persen.

Kenaikan ini berbanding terbalik dengan kejatuhan sebesar 8,83 persen yang terjadi pada perdagangan Selasa sebelumnya.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa pasar batu bara masih sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada komoditas energi lainnya.

Lonjakan harga batu bara kali ini terutama dipicu oleh peningkatan harga minyak yang terjadi pada perdagangan global.

Pengaruh Lonjakan Harga Minyak

Kenaikan harga batu bara tidak dapat dilepaskan dari perkembangan harga minyak dunia.

Harga minyak brent terbang sebesar 4,8 persen sementara minyak jenis WTI melonjak 4,6 persen pada perdagangan Rabu 11 Maret 2026.

Lonjakan harga minyak tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Iran bahkan mengatakan dunia harus bersiap menghadapi harga minyak US$200 per barel setelah pasukannya menyerang kapal kapal dagang pada Rabu.

Pada saat yang sama, International Energy Agency IEA merekomendasikan pelepasan besar besaran cadangan minyak strategis untuk meredam salah satu guncangan harga minyak terburuk sejak 1970 an.

Batu bara dan minyak saling mensubstitusi sehingga pergerakan harga keduanya sering saling memengaruhi.

Perdagangan Batu Bara di China

Perkembangan lain juga terlihat pada aktivitas perdagangan batu bara di China.

Aktivitas lelang online batu bara kokas di China belakangan ini mulai menguat dan membantu sejumlah tambang mengurangi stok yang sebelumnya menumpuk.

Dalam beberapa hari terakhir, lebih banyak tambang di wilayah produksi utama China seperti Shanxi dan Shaanxi menggelar lelang online untuk menjual batu bara kokas.

Beberapa transaksi berhasil terjadi dengan harga yang sedikit lebih tinggi dibanding sesi sebelumnya.

Hal ini membantu membersihkan persediaan di tambang yang sebelumnya meningkat akibat penjualan yang berjalan lambat.

Namun demikian, perdagangan di pasar spot masih berlangsung sangat selektif karena permintaan dari pengguna akhir belum benar benar pulih.

Permintaan Energi Masih Lesu

Meskipun aktivitas transaksi melalui platform lelang meningkat, kondisi ini belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan permintaan yang kuat dari pasar.

Sebagian besar aktivitas tersebut lebih menunjukkan upaya produsen untuk mengurangi stok batu bara yang menumpuk di tambang.

Sebaliknya, harga batu bara termal di tingkat tambang di China justru cenderung melemah dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut terjadi karena permintaan dari pembangkit listrik serta sektor industri hilir masih relatif lesu.

Meski demikian, terdapat kenaikan harga terbatas di beberapa tambang tertentu yang dipengaruhi faktor lokal seperti kualitas batu bara atau stok yang lebih ketat.

Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar energi global masih berada dalam fase penyesuaian antara pasokan dan permintaan.

India Diam Diam Menimbun Batu Bara

Sementara itu, laporan dari India menunjukkan adanya langkah antisipatif yang dilakukan negara tersebut dalam menghadapi potensi lonjakan permintaan energi.

Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengancam pasokan energi global, India menyatakan bahwa mereka siap menghadapi lonjakan permintaan batu bara.

Saat ini total stok batu bara di negara tersebut mencapai sekitar 210 juta ton.

Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 88 hari dengan tingkat konsumsi saat ini.

Persediaan tersebut bahkan mengalami peningkatan sekitar 14 persen dibandingkan sebelumnya.

"Ketersediaan total stok batu bara di negara ini sekitar 210 juta ton, yang cukup untuk sekitar 88 hari," kata kementerian batu bara dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari The India Times.

Stok Batu Bara India Capai Rekor Tertinggi

Data menunjukkan bahwa stok batu bara di pithead atau area tambang milik Coal India Ltd mencapai 106,78 juta ton pada 1 April 2025.

Jumlah tersebut meningkat menjadi 121,39 juta ton per 9 Maret tahun ini.

Selain itu, terdapat sekitar 6,07 juta ton batu bara di tambang Singareni Collieries Company Limited.

Kemudian sekitar 15,12 juta ton berada di tambang captive dan tambang komersial, serta sekitar 14 juta ton dalam proses pengiriman atau transit.

Total keseluruhan stok tersebut mencapai 156,58 juta ton yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah.

Di luar itu, batu bara yang sudah tersedia di pembangkit listrik tercatat mencapai sekitar 54,05 juta ton per 9 Maret 2026, cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 24 hari.

Produksi batu bara di negara tersebut terus berjalan dengan kecepatan yang sama sehingga menambah stok di sisi tambang guna menjaga pasokan yang memadai bagi konsumen.

Kementerian batu bara India menyatakan bahwa mereka tetap fokus menciptakan lingkungan energi yang stabil melalui kebijakan berkelanjutan, pemantauan kinerja yang ketat, serta koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan pasokan energi tetap terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index